Aku tidak tau darimana datangnya, secara tiba-tiba pagi itu aku punya suatu pertanyaan yang oleh sebagian orang mungkin dianggap pertanyaan yang tidak masuk akal atau pertanyaan yang hanya buang-buang waktu untuk memikirkannya. Tapi sungguh aku tidak bermaksud demikian, aku hanya ingin kita semua mengetahui apakah kita termasuk orang tepat mengambil keputusan bila dihadapkan dengan hal sangat sensitif yaitu menyangkut mati hidup orang-orang didekat kita.
Pagi itu sekitar 2 minggu yang lalu, tanggal tepatnya aku lupa, aku duduk minum kopi sambil memperhatikan isteri aku mencuci pakaian. Seperti yang telah disebut di atas, tiba-tiba muncul di kepala, apa jawaban isteri aku bila Tuhan Sang Maha Pencipta memberi tahu dia bahwa dalam waktu dekat salah seorang diantara anggota keluarga kami ada yang akan diambil Nya. Dalam firasatnya Tuhan memberi kesempatan bagi isteri aku menentukan sendiri siapa diantara keluarga kami yang akan diserahkannya kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Apakah aku suaminya, apakah salah satu diantara 4 orang anak kami (yang tertua laki-laki 18 tahun, anak nomor 2 laki-laki 11 tahun, anak ketiga perempuan 8 tahun, atau si bungsu laki-laki 7 tahun) ataukah dia sendiri? Begitu disampaikan, isteri aku sempat terkejut dan dia sempat menanyakan apa yang terlintas dalam benak aku sehingga aku mempunyai pertanyaan yang tidak masuk akal tersebut. Setelah aku jelaskan panjang lebar, bahwa aku tidak mempunyai maksud apapun dan pertanyaan itupun muncul secara tiba-tiba, isteri aku diam dan berusaha mengambil keputusan yang baginya sangat berat. Setelah sekian lama terdiam dan berusaha, isteri aku akhirnya menyerah dan mengaku tidak dapat mengambil keputusan sebagaimana yang aku mau. Karena penasaran, pertanyaan itu aku bawa kepada kawan-kawan di kantor. Hasilnya sama saja, sebagian besar tidak mampu menjawab. Hanya satu orang yang mengatakan bila hal itu terjadi pada dirinya maka dia akan meminta kepada Tuhan agar dirinya sendiri yang diambil Nya dengan catatan untuk menyerahkan anak-anaknya yang berjumlah tiga orang dan isterinya ia tidak sanggup. Pertanyaan aku berikutnya, kenapa dia memutuskan dirinya sendiri untuk diambil Sang Maha Pencipta? Jawaban yang diberikannya diluar dugaan aku. Dia mengatakan bahwa dia tidak sanggup memelihara anak2nya tanpa didampingi sang isteri. Bagi aku, jawaban tersebut bukan jawaban yang bijak, malah cenderung aku mengatakan bahwa kawan tersebut mau enaknya sendiri. Tidak peduli bagaimana derita seorang isteri yang ditinggal suami. Dia tidak memikirkan bagaimana isterinya harus berjuang sendiri mengasuh anak-anaknya, sementara penghasilannya hanya diperoleh dari pensiunan janda seorang PNS gol III masa kerja 20 tahun. Adakah teman-teman di milis ini yang berkenan memberikan tanggapan atau berani mengambil keputusan yang bagi aku sendiri tidak mampu menjawabnya?
