Kemenangan atau Ketakutan?**

*Oleh: KH. Abdurrahman Wahid*


Beberapa waktu yang lalu di negara bagian Colorado berlangsung konvensi
Partai Demokrat. Partai itu akan menetapkan calon presiden dan wakil
presiden AS di Denver.



Di kota yang dulu penuh dengan puluhan ribu sepeda dan sedikit sekali
kendaraan bermotor ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya menjaga
lingkungan (*environment*) tumbuh membesar di masa-masa yang akan datang.



Dengan digunakannya isu tersebut oleh sebuah partai politik sebesar Partai
Demokrat, kesadaran itu akan muncul dalam pemikiran orang-orang Amerika
Serikat. Ia sejajar dengan buku tulisan mantan Wakil Presiden Al Gore
berjudul *the Assault on Reason*.



Sekarang isu lingkungan menjadi pembicaraan utama dalam kehidupan politik di
Negeri Paman Sam itu dan akan berkembang dalam kehidupan politik seluruh
dunia di masa datang. Walaupun banyak yang melanggarnya, lingkungan tetap
menjadi isu utama.



Yang menarik dalam mengikuti penetapan para calon presiden dan wakil
presiden itu adalah upaya para calon presiden untuk "menambal" kekurangannya
dengan menutup kemungkinan bagi pihak lawan memanfaatkan kekurangan
tersebut.



Barack Obama menetapkan seorang senator yang sudah 36 tahun berusaha
menguasai politik luar Negeri Paman Sam, yaitu Joe Biden menjadi wakil
presiden. John McCain berbuat hal yang sama dengan menunjuk Sarah Palin
sebagai cawapres dari Partai Republik.



Dengan demikian, sikap dan kesadaran baru akan tumbuh dalam kehidupan
politik nasional negara itu,yakni sadar lingkungan dan bersih dari korupsi.
Maka, dapat diharapkan bahwa korupsi akan lebih ditekan pada tingkat lokal,
bukan nasional.



Kenyataan seperti ini membuat kita bertanya, kemenangan budaya baru atau
ketakutan akan masa depan dalam berpolitik di tingkat nasional? Padahal,
sangat jauh antara sikap Presiden Nixon dari Partai Republik pada 70- an,
yang akhirnya mengakibatkan penyelidikan Watergate, dengan dipilihnya Sarah
Palin sebagai cawapres dari partai tersebut.



Tetapi, pada tingkat negara bagian, kita melihat orang-orang dari partai
tersebut tetap saja menyandang gelar sebagai koruptor. Dipilihnya Joe Biden
menunjukkan tindak pencegahan yang sama dari kalangan Partai Demokrat.



Sebab, pada pemerintahan Bush, perusahaan Halliburton yang didukung Presiden
AS itu untuk ikut menikmati "keuntungan"dalam masa perang Irak. Hal seperti
itulah yang menyebabkan munculnya sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM)
di Negeri Paman Sam itu karena upaya menghilangkan korupsi bukanlah sesuatu
yang mudah.



Seperti dialami penulis artikel ini, akibat memerangi korupsi, dengan sangat
terpaksa ia menanggung risiko berpecah dengan fungsionaris partainya
sendiri, yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).



Bahkan, setelah diaduk-aduk pihak luar, ia harus menghadapi orang-orang dari
partainya sendiri yang memilih meninggalkan anggaran dasar dan anggaran
rumah tangga partainya itu dalam penentuan orang-orang yang akan dicalonkan
untuk menjadi anggota DPR RI dan badan-badan legislatif lainnya di negeri
ini.



Padahal, penulis artikel ini sedang berusaha sebisa mungkin untuk
membersihkan partainya dari hal-hal koruptif seperti itu.Tindakan demi
tindakan dilakukan untuk membersihkan partai, antara lain dengan membekukan
sejumlah kepengurusan partai di tingkat pusat, provinsi, dan pemerintahan
lokal.



Sebab, demokratisasi menghendaki dilaksanakannya prinsip kebersihan dan
keterbukaan dalam segala hal. Di sinilah penulis menemukan kesulitan sangat
besar untuk mengembangkan kehidupan partai yang bersih dalam proses
demokratisasi di negeri kita.



Keterlibatan ini yang akhirnya mewajibkan para teman mengajak penulis
meninggalkan kehidupan partai politik dan meninggalkan PKB. Memang sangat
mudah bagi penulis artikel ini untuk meninggalkan kehidupan politik praktis.



Tetapi, bukankah undang-undang telah menetapkan bahwa partai politik adalah
wahana demokratisasi. Ini juga berlaku bagi PKB. Penulis menyadari suka dan
duka kehidupan politik di negeri kita, antara keinginan pribadi dengan
kepentingan umum.



Tapi, bukankah dengan begitu menjadi kabur pemisahan kepentingan umum dari
kepentingan politik? Ini juga mengakibatkan kesulitan membedakan kepentingan
politik sesaat dari kepentingan umum, bukan?



*Ketua Umum Dewan Syura DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)*

(*Seputar Indonesia*, Ju'mat, 05 September 2008)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke