Bukan Karena Kasihan

Beberapa waktu yang lalu saya dan istri saya pergi ke sebuah toko
elektronik. Beberapa saat lamanya kami di dalam toko itu. Setelah
selesai kamipun keluar. Seperti biasa di tempat parkir sudah ada
tukang parkir yang menyambut kami. Saya ulurkan tangan saya memberinya
uang lima ribuan. Si tukang parkir meminta uang pas, baru datang ini
pak, katanya. Kebetulan juga kami tidak ada uang seribuan atau lima
ratusan. Si tukang parkirpun menyerah. Dia tidak mau dibayar. Jadilah
kami pulang, tanpa membayar uang parkir motor kami.
Sesampai di rumah istri berkata kepada saya, "Bi, kenapa ya kita tidak
menyerahkan uang lima ribu itu kepada tukang parkir tadi. Itu kan
namanya kita egois, hanya memikirkan diri sendiri. kan mestinya
kitalah yang 'menyantuni' orang itu, bukan kita yang 'disantuni'.
Dengan kita tidak membayar uang parkir kepada bapak tadi, berarti kita
disantuni olehnya. Padahal kita lebih beruntung dari dia dalam hal
penghasilan." Istri saya kelihatan menyesal sekali.
Kami berdua termenung memikirkan kejadian tadi. Biasanya kami kalau
membeli sesuatu di warung-warung kecil atau pedagang-pedagang sangat
kecil, kalau tidak ada kembalian, lima ratus atau seribu, kami selama
ini sepakat untuk merelakannya. Atau bahkan setiap naik becak, atau
ojek selalu kami membayarannya melebihi dari kesepakatan harga.
Tapi ini kasus baru. Tukang parkir. Padahal semestinya mereka
mendapatkan perlakuan sama. Memang terkadang ada oknum-oknum tukang
parkir yang berbuat jahat, tapi itu hanya oknum. Tidak semua tukang
parkir seperti itu. Mereka bekerja membawa harapan. Ada sesuatu yang
bisa dibawa pulang untuk istri dan anak-anaknya, yang mungkin sebelum
ayahnya berangkat sudah ada janji terhadap anak-anaknya bahwa
sepulangnya nanti akan dibelikan oleh-oleh.
Saya jadi teringat kisah tentang seorang pelacur yang dinyatakan masuk
surga oleh hadist Nabi karena kepeduliannya terhadap seekor anjing
yang kehausan. Peduli itu kepada siapa saja. Tidak perlu memilih-milih
orang. Siapa saja yang membutuhkan, kepadanyalah kita mestinya kita
berikan kepedulian itu. Di mana saja mereka berada. Entah meminta atau
tidak.
Banyak diantara kita yang mempunyai kelonggaran rizki dari Allah,
lebih memilih untuk membelanjakannya meski yang dibeli bukan sesuatu
yang sangat dibutuhkan. Memang, itu sah-sah saja dilakukan,
uang-uangnya sendiri. Tetapi rasa kemanusiaan kita mestinya bisa lebih
terasah. akan banyak manfaat bagi orang lain uang sebesar seribu atau
dua ribu yang bisa jadi tidak bermanfaat bagi pemiliknya. Dan, agar
harta itu tidak hanya berputar pada orang-orang kaya saja.
Setiap kali saya lewat perempatan lampu merah selalu saya lihat tukang
korang cacat sedang menawarkan korannya. Saya sengaja membelinya.
Bukan karena sekedar kasihan tapi lebih dari itu. Usahanya yang
maksimal wajib kita berikan apresiasi. Dan ini adalah ibadah kepada Allah.
Wallahu a'lam.
Sumber: http://www.bangibad.blogspot.com/

Kirim email ke