Mendengar kata "pelacur" sebagian besar diantara kita langsung teringat dengan sosok wanita yang berpakaian ketat dan agak terbuka, bergincu dan berbedak tebal, bermandikan minyak wangi aroma keras, bergaya sensual cenderung norak menggoda setiap laki-laki. Sebagai seorang wanita yang siap berbagi "cinta" dengan laki-laki yang membutuhkannya, seorang pelacur termasuk rawan terhadap penyakit menular seksual. Posisi tawar yang lemah membuat mereka sering tidak berhasil membujuk pelanggannya untuk menggunakan alat pengaman seperlunya. Akibatnya seorang pekerja seks termasuk orang mempunyai resiko tinggi tertular penyakit PMS dan HIV (AIDS) tanpa mampu melindungi tubuhnya.
Berbagai predikat pun ditanamkan pada diri mereka, dari yang relatif sopan dengan sebutan pekerja seks komersial, kupu-kupu malam sampai dengan gelar yang terkesan mengejek dan menyakitkan seperti wanita tuna susila , sampah masyarakat, penyakit masyarakat, cabo, lonte, dan lain-lain. Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang dan selama bulan suci ramadhan, sebagian dari kita berlomba-lomba berteriak agar kesucian bulan ramadhan dijaga dari hal-hal yang berbau maksiat. Kita sangat takut apabila kehadiran mereka selama bulan suci ini akan mengurangi pahala ibadah puasa. Kita sangat takut kehadiran mereka akan menyebabkan kita terhalang kembali ke fitri. Kita sangat takut bila kemaksiatan tetap hadir selama bulan suci ini maka Tuhan Sang Maha Pencipta akan menurunkan azab Nya. Gayung bersambut, pemerintahpun seolah-olah tidak mau kalah kerasnya dengan teriakan kita, berbagai kegiatan dengan judul operasi penyakit masyarakatpun digelar. Hampir setiap hari di televisi kita lihat pihak kepolisian dan polisi pamong praja menggelar razia penyakit masyarakat. Hasilnya pun "cukup menggembirakan", ratusan mungkin ribuan PSK telah terjaring selama ini. Selesaikah persoalan kita menjaga kesucian bulan ramadhan? Sebelum menjawab pertanyaan di atas, izinkan aku untuk berfikir lebih jernih dengan maksud agar jawaban yang aku berikan dapat sedikit lebih adil. Berbagai referensi yang aku peroleh, penyebab seorang masuk kedalam dunia prostitusi sangat kompleks, ada yang karena masalah sosial, ekonomi, pendidikan, ketergantungan narkotika dan obat berbahaya dll. Tingkat pendidikan yang rendah dan kesulitan mendapatkan penghasilan yang memadai ditambah dengan lingkungan sosial yang "mati rasa", mendorong orang untuk melakukan apa saja agar bisa bertahan hidup, termasuk menjadi pelacur sekalipun. Amat sangat jarang pernah terdengar seorang wanita yang mempunyai pendidikan dan keterampilan yang memadai rela menjadi pelacur untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Hal ini mungkin disebabkan mereka tau bahwa menjadi seorang pelacur itu tidaklah segampang yang aku kira. Berbagai resiko berat yang seringkali harus dihadapi sebagai pekerja seks adalah resiko tertularnya penyakit menular seksual, kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelanggan, dan adanya kemungkinan pelanggan yang menginginkan bentuk hubungan seks yang tidak wajar. Mereka sadar bahwa duit yang diperoleh tidak sebanding dengan hancurnya harkat martabat sebagai seorang manusia. Mereka sadar bahwa duit yang diperoleh tidak sebanding dengan resiko penyakit yang akan tertular. Mereka sadar bahwa duit yang diperoleh tidak sebanding hancurnya status sosial mereka jika lingkungannya tau bahwa mereka mencari nafkah sebagai seorang pelacur. Mereka juga sadar bahwa duit yang diperoleh tidak sebanding dengan janji Tuhan Sang Maha Pencipta terhadap orang-orang yang melanggar larangan Nya. Kita masih bersyukur masih dapat mengambil alternatif lain guna memenuhi kebutuhan hidup, yaitu dengan cara menjual keahlian dan ilmu, baik sebagai wiraswasta maupun pekerja. Kondisi ini menurut aku berbeda dengan yang ada pada diri seorang pelacur. Seperti yang telah dijelaskan di atas, seseorang dapat menjadi pelacur disebabkan oleh masalah yang kompleks. Selain pendidikan yang rendah, pelacuran dapat tumbuh subur karena ada sebagian diantara kita yang memang membutuhkan mereka, ditambah dengan rendahnya kepedulian kita terhadap mereka-mereka yang mengalami kesulitan ekonomi. Baik disadari ataupun tidak, kadang-kadang kita begitu mendewakan harta. Kita ingin punya rumah yang bagus bahkan kalau dapat melebihi kepunyaan orang lain. Kita ingin punya kendaraan yang bagus. Kita ingin serba berkecukupan. Tapi, pernahkah kita terbayang bagaimana caranya tetangga kita yang miskin bisa memperoleh makan? Tapi, pernahkan kita peduli bagaimana mereka dapat bertahan hidup. Dan kalaupun kita sudah pernah menunjukkan "kepedulian", apakah pernah kita berfikir cukupkah apa yang telah kita berikan itu? Kerap aku mendengar seseorang dengan gampang menyalahkan kenapa mereka mau jadi pelacur. Tapi taukah kita bahwa merekapun pada dasarnya tidak ingin hidup menjadi pelacur kalau saja ada pendidikan dan keterampilan yang memadai. Mereka sama seperti kita, ingin punya penghasilan yang memadai untuk menghidupi keluarganya. Tapi apa boleh buat, pendidikan dan keterampilan yang ada pada diri mereka tidak memungkinkan untuk dapat pekerjaan yang memungkinkan memperoleh gaji yang cukup. Kalaupun diterima bekerja terbatas paling-paling sebagai buruh cuci pakaian, buruh toko, dan pembantu rumah tangga. Pernahkah kita membayangkan bagaimana repotnya mereka mengatur keuangan untuk menghidupi keluarganya dengan penghasilannya sebagai buruh cuci pakaian atau penjaga toko atau pembantu rumah tangga? Pernahkah kita merasa berkecukupan meski kita mempunyai penghasilan jauh di atas mereka? Aku saja yang kebetulan mempunyai penghasilan cukup memadai sebagai seorang PNS, kerap kali masih berusaha mencari peluang tambahan penghasilan. Itu artinya, pengahasilan yang aku terima belum mencukupi kebutuhan keluarga. Apalagi mereka (sebagai buruh toko atau pembantu rumah tangga) yang hanya berpenghasilan tidak lebih dari 600 ribu rupiah. Mereka seperti kita, mereka ingin anak-anaknya sekolah, merekapun ingin anak-anaknya punya baju, merekapun ingin punya rumah yang memadai, merekapun ingin mempunyai masa depan yang pasti. Mereka tidak tuli, mereka juga sama seperti kita, sama-sama manusia yang diberi akal oleh Nya. Kerap aku mendengar seseorang dengan gampang menyalahkan kenapa mereka mau jadi pelacur. Tapi taukah kita bahwa merekapun pada dasarnya tidak ingin hidup menjadi pelacur kalau saja ada pendidikan dan keterampilan yang memadai. Mereka sama seperti kita, ingin punya keluarga. Mereka ingin menjalani seksual yang indah dan wajar dengan pasangan yang sah. Mereka ingin melakukan hubungan seksual yang sehat tanpa dibebani perasaan takut tertular penyakit menular seksual dan yang paling menakutkan HIV (AIDS). Mereka tidak tuli, mereka ingin adanya kasih sayang sejati. Mereka juga sama seperti kita, sama-sama manusia yang diberi akal oleh Nya. Kerap aku mendengar seseorang dengan gampang menyalahkan kenapa mereka mau jadi pelacur. Tapi taukah kita bahwa merekapun pada dasarnya tidak ingin hidup menjadi pelacur kalau saja ada pendidikan agama yang memadai. Mereka sama seperti kita. Mereka ingin menjalankan perintah Tuhan sebagaimana mestinya karena mereka tau manfaatnya. Mereka ingin meninggalkan larangan Tuhan karena mereka juga tahu akibatnya. Mereka tidak tuli, mereka juga sama seperti kita, sama-sama manusia yang diberi akal oleh Nya. Taukah kita mereka kerap menangis walaupun bibirnya terlihat tersenyum? Taukah kita mereka kerap tersenyum walaupun pada saat yang bersamaan hatinya menangis ? Keterbatasan pendidikanlah yang membuat mereka melacur Keterbatasan ilmu pengetahuanlah yang membuat mereka melacur Keterbatasan keterampilanlah yang membuat mereka melacur Keterbatasan kasihsayanglah yang membuat mereka melacur Tapi apa daya, mereka terlalu nista untuk kita pikirkan, mereka terlalu hina untuk kita entaskan, mereka terlalu menjijikan untuk kita angkat. Terlalu banyak persoalan yang harus kita selesaikan untuk menunjukkan status sosial diri kita di mata masyarakat, rumah yang harus dipugar, mobil yang harus diganti baru, tabungan buat masa depan masih belum cukup. Tinggallah mereka dalam kesendirian harus berjuang mempertahankan hidup. Mereka mungkin lebih asyik dijadikan sebagai binatang buruan, dikejar-kejar di pelosok kegelapan malam. Kembali kepertanyaan "selesaikah persoalan kita menjaga kesucian bulan ramadhan?" Jujur aku katakan, bahwa aku tidak mampu menjawabnya. Aku malu pada diriku sendiri karena aku tidak pernah berbuat untuk mereka. Aku takut pada diriku sendiri kalau-kalau secara tidak sadar, ikut berteriak agar kesucian bulan ramadhan dijaga dari hal-hal yang berbau maksiat, tanpa pernah peduli dengan mereka. Ya Allah, ampunilah aku aku hamba Mu yang berlumur dosa aku malu kepada Mu Ya Allah Aku telah membutakan mataku atas kemisikinan mereka aku malu kepada Mu Ya Allah Aku telah menulikan telingaku atas kebodohan mereka aku malu kepada Mu Ya Allah Aku telah menutup hatiku atas penderitaan mereka Ya Allah, Engkau Maha Pengasih Kasihilah kami sebagaima Engkau mengasihi orang-orang terdahulu Ya Allah, Engkau Maha Penyayang Sayangilah kami sebagaimana Engkau menyangi orang-orang terdahulu
