Salah satu sifat yang kerap menghiasi hidupku adalah pelupa.   Sifat 
pelupa ini sudah mulai aku alami waktu masih kecil dulu.  Sebagai 
contoh, materi pelajaran yang disampaikan oleh guru waktu sekolah 
dulu,  pagi dijelaskan,  malamnya masih bayang-bayang, besok hari 
biasanya sudah hilang.    
Sebagai orang yang masih berjiwa muda pada waktu itu,  aku "marah" 
pada Tuhan kenapa Dia tidak memberikan ingatan yang baik kepadaku.  
Aku berkeyakinan bila Tuhan memberikan daya ingat yang baik kepadaku, 
tentu hasil ulangan/ujian yang aku peroleh selama sekolah akan baik 
pula, sehingga mungkin aku dapat mewujudkan semua impianku menjadi 
ini atau  itu.  

Waktu terus berjalan, sampai pada suatu ketika anakku yang pertama 
berusia kira-kira 12 tahun duduk di kelas VI SD melakukan sesuatu 
tindakan yang kurang terpuji (itu terjadi pada tahun 2002).  Sebagai 
orang tua yang mengharapkan anak-anaknya selalu berbuat baik, aku 
sangat kecewa dan marah.  Berbagai ungkapan marahpun sempat aku 
lontarkan.  Sambil menangis anak aku diam mendengar tumpahan 
kemarahanku.  Sedikitpun dia tidak memberikan alasan sebagai upaya 
pembenaran terhadap tindakkannya, seakan apa yang telah dilakukannya 
adalah kesalahan besar dan kemarahan orang tuanya adalah sesuatu yang 
wajar.

Setelah berbagai ungkapan kekecewaan dan kemarahan aku tumpahkan dan 
anakku itu telah tidur, aku duduk sambil merenung kenapa dia bisa 
melakukan hal itu.  Seperti cerita dalam sebuah film, aku mencoba 
untuk mengingat-ingat apa yang terjadi selama ini, aku ingat 
bagaimana nakalnya aku dulu pada waktu seumur dia,  aku ingat 
bagaimana aku dulu selalu berbuat hal-hal yang dilarang oleh orang 
tuaku, aku ingat bagaimana aku selalu membuat keonaran diantara 
saudara-saudaraku, aku ingat ini, aku ingat itu.   Ah, alangkah 
malunya aku.  Apa yang telah aku perbuat ternyata tidak lebih baik 
daripada dia.

Sifat pelupa yang selama ini aku benci serasa begitu indah, aku 
bersyukur kepada Allah SWT yang telah berkenan menghapus sebagian 
besar ingatanku.  Kalau saja senantiasa ingat betapa banyak kesalahan 
yang telah aku perbuat bagaimana aku bisa berbicara tentang 
kebenaran.  Bagaimana aku bisa berbicara tentang kejujuran jika aku 
selalu ingat betapa banyak kebohongan yang telah aku perbuat.  
Bagaimana aku bisa berbicara tentang dosa jika aku selalu ingat 
betapa banyak larangan Allah telah aku abaikan.  

Karena lupa, aku bisa berbicara tentang kebenaran
karena lupa, aku bisa berbicara tentang kenakalan
karena lupa, aku bisa berbicara tentang kebaikan
karena lupa, aku bisa berbicara tentang dosa
karena lupa, aku bisa marah 
karena lupa, aku bisa menasehati 
ah,
lupa itu ternyata indah  



Kirim email ke