Malam semakin larut, gelas yang semula penuh air kopi hangat buatan 
Kak Atik kini tinggal bubuk (ampas) saja.  Air kopinya sendiri sudah 
berpindah tempat sebelum hangatnya hilang, semula di gelas sekarang 
di perut.   Harap maklum, di kampung kami kepopuleran kopi cap 
kingkong  asal pulau Bangka tidak dapat dikalahkan oleh kopi produk 
luar.   Selain murah, kelezatan dan rasanya yang khas membuat kopi 
cap kingkong laris manis.  

Obrolan seputar persiapan menyambut lebaran mendadak terhenti ketika 
secara kebetulan Bang Kulup melihat ada sesuatu yang menarik di 
kertas koran pembungkus gorengan tempe yang aku beli di pasar 
pujasena tadi.    Meskipun agak perlahan, namun aku masih dapat 
mendengar bang Kulup membaca berita tentang empat tersangka perampok 
terpaksa ditembak kakinya pada harian Kompas edisi Senin 9 Oktober 
2006  itu. "Unit Reserse dan Kriminal atau Reskrim Polsek Depok 
Timur, Kabupaten Sleman, meringkus empat tersangka kawanan perampok, 
Minggu (8/10) siang.  Keempat tersangka terpaksa ditembak kedua 
kakinya karena mencoba kabur dengan membawa sejumlah perhiasan dan 
laptop dari dalam rumah Ida Indriati, warga Perumahan Kelapa Gading, 
Condongcatur, Sleman.  Keempat tersangka adalah Rahmat dan Sutrisno, 
keduanya warga Jakarta, serta Bobi dan Bayu yang beralamat di 
Semarang. Tetapi, Bobi akhirnya dilaporkan meninggal dalam perawatan 
di Rumah Sakit (RS) Bayangkara, Kalasan"

Suasana yang tadi sempat hening, langsung sirna begitu Bang Kulup 
ketawa terbahak-bahak.  Aku jadi bingung,  sebab setahu aku yang 
namanya berita kriminal tidak pernah ada yang lucu, malah cenderung 
menakutkan.  Aku jadi curiga, pasti ada sesuatu yang lucu atau 
menyenangkan dibalik berita penembakan 4 orang tersangka perampok 
ini.   Kalau tidak ada yang lucu kenapa Bang Kulup sampai tertawa 
pikirku.   Didorong rasa penasaran, langsung aku tanyakan kepadanya 
apa yang membuat dia tertawa.    Bukannya menjawab, Bang Kulup malah 
memberikan koran itu kepadaku dengan maksud agar aku membaca sendiri 
dan menemukan hal yang membuatnya tertawa.  Huh, dasar Bang Kulup, 
aku menggerutu dalam hati.   Sudah tahu kalau aku termasuk orang yang 
sangat lamban menyimak berita/informasi, bukannya dijelaskan eh malah 
disuruh membaca sendiri.   

Entah kebetulan mendengar gerutuan aku atau menyadari kelemahan yang 
kerap membuat aku nampak lebih bodoh dari yang orang lain duga, Bang 
Kulup menjelaskan apa yang membuatnya tertawa meskipun membaca berita 
kriminal.  "Bung, dapatkah anda membayangkan bagaimana seseorang yang 
kaki kiri atau kanannya telah ditembak tetapi masih dapat berlari 
jauh?  Aku tertawa karena bingung membayangkan bagaimana kompaknya 4 
orang tersangka itu meskipun masing-masing sudah diberi hadiah timah 
panas tetapi masih sempat-sempatnya mengatur paduan suara untuk tetap 
kabur.   Hal kedua yang membuat aku tertawa adalah bagaimana mahirnya 
polisi kita sekarang dalam menggunakan senjata api.   Perlu aku 
beritahu sama bung, menembak benda yang bergerak itu sangat sulit.   
Jangankan benda bergerak, benda diam saja sangat sering meleset.    
Bukankah dulu waktu masih kecil kita kerap melihat bapak-bapak polisi 
latihan menembak di Lapangan Tembak Polri Air Merbau Tanjungpandan,   
berapa banyak peluru terbuang tanpa mengenai sasaran?"

Dasar bodoh, meskipun sudah dijelaskannya, aku tetap saja tidak 
mengerti kenapa Bang Kulup tertawa.    Bagiku apa yang diceritakannya 
tidak ada hal lucu, semua biasa saja.  Yang namanya penjahat mau 
kabur, meskipun satu kaki sudah kena tembak sedapat mungkin masih 
akan berusaha lari.   Begitu juga dengan hal kedua yang membuat Bang 
Kulup tertawa, mengenai kemahiran polisi menggunakan senjata, bagi 
aku tidak ada yang lucunya.   Kemahiran polisi dalam menembak tentu 
saja diasah setiap hari pikirku, jadi wajar saja bila tembakannya 
selalu tepat di sasaran.

Sekedar menyenangkan hati Bang Kulup, akupun akhirnya ikut-ikutan 
tertawa.  Cuma bedanya kalau Bang Kulup tertawa penuh arti sedangkan 
aku mentertawai kebodohan aku sendiri.

Bang Kulup melanjutkan ceritanya  "aku jadi ingat cerita lucu waktu 
masih hangat-hangatnya TEKAB (Team Keamanan Anti Bandit) sekitar 
tahun 70an,  seorang penjahat pernah bilang kalau kita dikejar oleh 
anggota TEKAB sebaiknya terus saja lari, karena kalau senjatanya 
diarahkan ke kaki maka hampir dapat dipastikan akan mengenai kaki 
pula.  Tetapi bila dikejar polisi (biasa) sebaiknya segera berhenti, 
karena meskipun moncong pistolnya diarahkan ke kaki, pelurunya bisa 
menge…………….." 

"Sssst………………" aku buru-buru memotong percakapan Bang Kulup.   Aku 
tidak ingin bang kulup terjebak fitnah.


Kirim email ke