Adalah sesuatu yang wajar apabila seseorang meraih kedudukan yang 
lebih tinggi dari pada kedudukannya sebelumnya. Sebagai contoh, 
seseorang yang pada saat ini menduduki jabatan wakil kepala sekolah 
adalah wajar bila yang bersangkutan mempunyai impian atau 
berkeinginan menjadi sebagai kepala sekolah. Si wakil kepala sekolah 
merasa tidak dapat berbuat banyak dalam hal menentukan suatu 
kebijakan meningkatkan kualitas sekolah kalau hanya dalam kapasitas 
sebagai wakil. Keinginan wakil kepala sekolah tadi jika dilihat dari 
sisi niatn ya mungkin dapat dibenarkan. Lama waktu dan tatacara yang 
diperlukan untuk mewujudkan impian bermacam-macam, ada jalur biasa, 
ada jalur khusus dan ada pula jalur kilat. Ada yang menunggu giliran 
dengan sabar dan ada juga yang menggunakan jalur pintas. Yah, harap 
maklum, namanya juga usaha.

Barangkali kita pernah melihat seseorang tidak lagi memperdulikan 
etika dalam menghapus atribut wakil tadi, masalah lain-lain urusan 
belakang. Prinsip egp (emangnya gue pikirin……?) menjadi suatu hal 
yang lumrah dan seakan-akan dapat dibenarkan. Berbagai argumen pun 
disiapkan sebagai pembenaran terhadap keinginannya itu.

Berkaitan dengan hal tersebut, aku sempat bingung dengan apa yang 
terjadi saat ini dengan bangsa kita. Itu lho, Pemilu 2009. Menurut 
pemahaman di atas, adalah sangat wajar apabila seorang wakil rakyat 
punya keinginan menjadi rakyat. Tapi aneh bin ajaib, yang terjadi 
pada saat ini justru kebalikannya. Orang-orang pada berlomba-lomba 
menjadi wakil rakyat. Kalau tidak percaya, lihat saja daftar calon 
sementara anggota DPR / DPRD di koran. Berbaris-baris persis kaya' 
pengumuman seleksi penerimaan CPNS.

Untuk menjadi seorang wakil rakyat mereka tempuh dengan berbagai 
cara. Ada yang menggunakan cara simpati dan prosedural sesuai 
ketentuan masing-masing partai, namun tidak sedikit pula yang berani 
nyerempet-nyerempet jeruji penjara. Hah, masa' seh? La, iya lah, 
dengar-dengar ada tuh calon yang memakai ijazah palsu atau 
menggunakan ijazah paket C yang belum berada di tangan. Hihihi……. 
lucu ya ? Tapi aku wajib bersyukur, yang bagian seleksi kelengkapan 
berkas calon di KPUD matanya masih bagus alias belum pada rabun. 
Kalau saja sempat lolos, huh, sangat menjijikan.

Belum lagi nantinya pada saat kampanye. Yang semula memble berubah 
menjadi orang yang murah senyum, yang sebelumnya tertutup berubah 
menjadi orang yang terbuka, yang sebelumnya pelit berubah menjadi 
dermawan. Singkat cerita, seperti halnya orang main sulap, bim 
salabim, tiba-tiba saja yang semula negatif tiba-tiba menjadi 
positif. Pasti ada yang bertanya "Lha itu kan hal yang baik, kenapa 
dipersoalkan?" Iya seh, tapi ini neh soalnya, biasanya orang-orang 
seperti itu kembali ketabiat awal begitu pemilu selesai. Namanya juga 
belang, lain soal kalau sekedar selang, gosok-gosok sedikit pakai 
rinso dijamin bersih kembali. Tapi kalau sudah belang, 
alamaaaaak........!!!

Kakek aku pernah bilang, dari pada kita dititip amanat lebih baik 
dititip duit. Kalau amanat itu harus disampaikan dan diperjuangkan, 
apalagi amanat yang menyangkut kepentingan orang banyak. Bahkan Nabi 
Muhammad SAW pernah bersabda, "Empat hal yang barangsiapa keempatnya 
ada padanya maka dia seorang munafik yang murni dan barangsiapa yang 
terdapat pada dirinya salah satu darinya berarti ada pada dirinya 
sebuah kemunafikan; jika dipercaya berkhianat, jika berbicara 
berdusta, jika berjanji tidak menepati, dan jika bertikai ia berbuat 
curang." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Nah, loh.....!!

Mohon maaf bung, tentu saja aku tidak menggeneralkan semua calon 
legislatif seperti itu, ingat saja pesan orang tua, ada malam pasti 
ada siang, ada pasang pasti ada surut. Demikian pula dengan calon 
wakil kita, pasti ada pula yang masih dapat dipercaya. Memang seh 
agak susah pilah-pilihnya, harap maklum, yang satu masih saudara, 
yang satunya masih tetangga, yang satunya masih kenalan, yang satu 
pernah kasih bola dan kain sarung, dan sebagainya dan sebagainya.

Kembali ke pokok permasalahan, tingginya minat yang mau menjadi wakil 
rakyat, sampai saat ini masih membingungkan. Kalau saja wakil rakyat 
itu adalah pekerjaan, tentu saja tidak ada persoalan. Menjadi anggota 
DPR / DPRD itu bukan pekerjaan, tetapi hanyalah jabatan. Menurut 
orang-orang, anggota DPR atau DPRD itu pada dasarnya adalah pengemban 
amanat rakyat, kepada merekalah kita serahkan mau kemana negara atau 
daerah ini dibawa. Mau maju atau mau mundur atau jalan di tempat 
semuanya ada di pundak mereka. Apakah mungkin mereka berlomba-lomba 
menjadi wakil rakyat semata-mata hanya untuk mengemban amanat yang 
begitu berat?

Huh, pusing aku memikirkannya. Aku lelah dan ngantuk yang amat 
sangat, mungkin sebaiknya aku tidur dulu sambil berharap begitu 
bangun aku sudah tahu jawabannya.


http://t3rondol.blogspot.som

Kirim email ke