Sudah sejak dari dulu saya selalu membiasakan diri membuat dream book. Saya 
menulis dan mevisualisasikan impian - impian hidup saya dalam sebuah buku 
diary. Tak hanya menuliskan dibuku tapi saya juga menceritakan impian impian 
saya kepada orang orang yang saya kenal. Bagi saya ini adalah cara efektif 
untuk membuat saya terus termotivasi dan selalu teringat dengan impian hidup 
yang ingin saya capai. Dalam krun waktu tertentu, apa yang saya tulis dalam 
buku diary hampir sebagian besar sudah tercapai. Dalam sebuah pelatihan, saya 
memberikan PR kepada seluruh peserta untuk membuat dream book. Mereka melakukan 
dengan baik. Namun giliran saya meminta untuk menceritakan impian hidupnya, 
banyak diantara mereka yang tidak berani melakukannya. Alasanya sederhana, MALU 
kalau dikira bermimpi besar. Malu kalau nanti tidak tercapai. Tahukan anda 
bahwa orang yang malu menceritakan impian hidupnya akan sangat susah 
merealisasikan impiannya tersebut?
Belajar dari Yusuf, salah satu terwujudnya impian Yusuf adalah karena ia berani 
menceritakan impiannya kepada ayah dan saudaranya saudaranya. Seandainya ia 
meredam impiannya tersebut rapat rapat, barangkali ceritanya akan berbeda. 
Sebab kita tahu bahwa puncak kebencian saudara saudaranya terjadi saat Yusuf 
menceritakan impianya. Cerita terus bergulir hingga Yusuf berhasil mewujudkan 
impianya.
Melalui tulisan ini saya dorong anda untuk berani bermimpi, sekaligus berani 
menceritakan impian tersebut kepada orang lain, khususnya orang2 yang dekat 
dengan hidup anda. Seperti halnya suatu bisnis perlu dikomunikasikan agar orang 
lain bisa bekerja sama dengan anda, demikian juga impian perlu dikomunikasikan 
untuk membuka jalan anda meraih impian tersebut. Orang orang yang ada 
disekeliling kita akan menjadi "reminder" yang sanagt bagus dan efektif untuk 
impian-impian hidup kita.
Jangan pernah malu bermimpi dan menceritakan kepada orang lain.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke