SELAMAT TAHUN BARU

31 Desember 2008 01:11:38



Refleksi Awal Tahun

Oleh: A. Mustofa Bisri


*Kawan, Sudah tahun baru lagi*

*Belum juga tibakah saatnya kita menunduk*

*memandang diri sendiri*

*Bercermin firman Tuhan*

*Sebelum kita dihisabNya  *(A. Mustofa Bisri, Antologi Puisi Tadarus)


Tahun ini, tahun baru Hijriyah hampir bersamaan dengan tahun baru Masehi.
Biasanya tahun baru Masehi disambut dengan hiruk-pikuk luar biasa. Sementara
tahun baru Hijriyah yang sering diidentikkan dengan tahun Islam, tidak
demikian. Tidak ada trek-trekan sepeda motor di jalanan. Tidak ada terompet.
Tidak ada panggung-panggung hiburan di alon-alon.



Yang ada di sementara mesjid, kaum muslimin berkumpul berjamaah salat Asar
–meski biasanya tidak—lalu bersama-sama berdoa akhir tahun; memohon agar
dosa-dosa di tahun yang hendak ditinggalkan diampuni oleh Allah dan
amal-amal diterima olehNya. Kemudian menunggu salat Maghrib –biasanya
tidak—dan salat berjamaah lalu bersama-sama berdoa awal tahun. Memohon
kepada Allah agar di tahun baru dibantu melawan setan dan antek-anteknya,
ditolong menundukkan hawa nafsu, dan dimudahkan untuk melakukan amal-amal
yang lebih mendekatkan kepada Allah.


Memang agak aneh, paling tidak menurut saya, jika tahun baru disambut dengan
kegembiraan. Bukankah tahun baru berarti bertambahnya umur? Kecuali apabila
selama ini umur memang digunakan dengan baik dan efisien. Kita tahu umur
digunakan secara baik dan efisien atau tidak, tentu saja bila kita selalu
melakukan muhasabah atau efaluasi. Minimal setahun sekali. Apabila tidak,
insyaallah kita hanya akan mengulang-ulang apa yang sudah; atau bahkan lebih
buruk dari yang sudah. Padahal ada dawuh: "Barangsiapa yang hari-harinya
sama, dialah orang yang merugi; barangsiapa yang hari ini-nya lebih buruk
dari kemarin-nya, celakalah orang itu."


Apabila kita amati kehidupan kaum muslimin di negeri kita ini sampai dengan
penghujung tahun 1428, boleh jadi kita bingung mengatakannya. Apakah
kehidupan kaum muslimin --yang merupakan mayoritas ini-- selama ini
menggembirakan atau menyedihkan. Soalnya dari satu sisi, kehidupan
keberagamaan terlihat begitu hebat di negeri ini.


Kitab suci al-Quran tidak hanya dibaca di mesjid, di mushalla, atau di
rumah-rumah pada saat senggang, tapi juga dilomba-lagukan dalam MTQ-MTQ.
Bahkan pada bulan Ramadan diteriakan oleh pengerassuara-pengerassuara tanpa
pandang waktu. Lafal-lafalnya ditulis indah-indah dalam lukisan kaligrafi.
Malah dibuatkan museum agar mereka yang sempat dapat melihat berbagai versi
kitab suci itu dari yang produk kuno hingga yang modern; dari yang berbentuk
mini hingga raksasa. Akan halnya nilai-nilai dan ajarannya, juga sesekali
dijadikan bahan khotbah dan ceramah para ustadz. Didiskusikan di
seminar-seminar dan halqah-halqah. Bahkan sering dicuplik oleh beberapa
politisi muslim pada saat kampanye atau rapat-rapat partai..


Secara 'ritual' kehidupan beragama di negeri ini memang dahsyat. Lihatlah.
Hampir tidak ada tempat ibadah yang jelek dan tak megah. Dan orang masih
terus membangun dan membangun mesjid-mesjid secara gila-gilaan. Bahkan di
Jakarta ada yang membangun mesjid berkubah emas. (Saya tidak tahu apa niat
mereka yang sesungguhnya membangun rumah-rumah Tuhan sedemikian megah. Tentu
bukan untuk menakut-nakuti hamba-hamba Tuhan yang miskin di sekitas
rumah-rumah Tuhan itu. Tapi bila Anda bertanya kepada mereka, insya Allah
mereka akan menjawab, "Agar dibangunkan Allah istana di surga kelak".
Mungkin dalam pikiran mereka, semakin indah dan besar mesjid yang dibangun,
akan semakin besar dan indah istana mereka di surga kelak.


(Terus terang bila teringat fungsi mesjid dan kenyataan sepinya kebanyakan
mesjid-mesjid itu dari jamaah yang salat bersama dan beri'tikaf, timbul
su'uzhzhan saya: jangan-jangan mereka bermaksud menyogok Tuhan agar kelakuan
mereka tidak dihisab).



Tidak ada musalla, apalagi mesjid, yang tidak memiliki pengeras suara yang
dipasang menghadap ke 4 penjuru mata angin untuk melantunkan tidak hanya
adzan. Bahkan ada yang sengaja membangun menara dengan beaya jutaan hanya
untuk memasang corong-corong pengeras suara. Adzan pun yang semula mempunyai
fungsi memberitahukan datangnya waktu salat, sudah berubah fungsi menjadi
keharusan 'syiar' sebagai manifestasi fastabiqul khairaat; sehingga sering
merepotkan mereka yang ingin melaksanakan anjuran Rasulullah SAW: untuk
menyahuti adzan.


Jamaah dzikir, istighatsah, mujahadah, dan muhasabah menjamur di desa-desa
dan kota-kota. Terutama di bulan Ramadan, tv-tv penuh dengan tayangan
program-program 'keagamaan'. Artis-artis berbaur dan bersaing dengan para
ustadz memberikan 'siraman ruhani' dan dzikir bersama yang menghibur.
Jumlah orang yang naik haji setiap tahun meningkat, hingga di samping
ketetapan quota, Departemen Agama perlu mengeluarkan peraturan pembatasan.
Setiap hari orang berumroh menyaingi mereka yang berpiknik ke negara-negara
lain.


Jilbab dan sorban yang dulu ditertawakan, kini menjadi pakaian yang
membanggakan. Kalimat thoyyibah, seperti Allahu Akbar dan Subhanallah tidak
hanya diwirid-bisikkan di mesjid-mesjid dan mushalla-mushalla, tapi juga
diteriak-gemakan di jalan-jalan.


Label-label Islam tidak hanya terpasang di papan-papan sekolahan dan rumah
sakit; tidak hanya di AD/ART-AD/ART organisasi sosial dan politik; tidak
hanya di kaca-kaca mobil dan kaos-kaos oblong; tapi juga di lagu-lagu pop
dan puisi-puisi.


Pemerintah Pancasila juga dengan serius ikut aktif mengatur pelaksanaan
haji, penentuan awal Ramadan dan 'Ied. MUI-nya mengeluarkan label halal
(mengapa tidak label haram yang jumlahnya lebih sedikit?) demi menyelamatkan
perut kaum muslimin dari kemasukan makanan haram.


Pejuang-pejuang Islam dengan semangat jihad fii sabiilillah mengawasi dan
kalau perlu menindak –atas nama amar ma'ruuf dan nahi 'anil munkar-- mereka
yang dianggap melakukan kemungkaran dan melanggar peraturan Tuhan. Tidak
cukup dengan fatwa-fatwa MUI, daerah-daerah terutama yang mayoritas
penduduknya beragama Islam pun berlomba-lomba membuat perda syareat.


Semangat keagamaan dan kegiatan keberagamaan kaum muslimin di negeri ini
memang luar biasa. Begitu luar biasanya hingga daratan, lautan, dan udara di
negeri ini seolah-olah hanya milik kaum muslimin. Takbir menggema
dimana-mana, siang dan malam. Meski namanya negara Pancasila dengan penduduk
majmuk, berbagai agama diakui, namun banyak kaum muslimin –terutama di
daerah-daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam— seperti merasa
paling memiliki negara ini.
Barangkali karena itulah, banyak yang menyebut bangsa negeri ini sebagai
bangsa religius.


Namun, marilah kita tengok sisi lain untuk melihat kenyataan yang ironis
dalam kehidupan bangsa yang religius ini. Semudah melihat maraknya kehidupan
ritual keagamaan yang sudah disinggung tadi, dengan mudah pula kita bisa
melihat banyak ajaran dan nilai-nilai mulia agama yang seolah-olah
benda-benda asing yang tak begitu dikenal.



Tengoklah. Kebohongan dan kemunafikan sedemikian dominannya hingga membuat
orang-orang yang masih jujur kesepian dan rendah diri.


Rasa malu yang menjadi ciri utama pemimpin agung Muhammad SAW dan para
shahabatnya, tergusur dari kehidupan oleh kepentingan-kepentingan
terselubung dan ketamakan.


Disiplin yang dididikkan agama seperti azan pada waktunya, salat pada
watunya, haji pada waktunya, dsb. tidak sanggup mengubah perangai ngawur dan
melecehkan waktu dalam kehidupan kaum beragama.


Plakat-plakat bertuliskan "An-nazhaafatu minal iimaan" dengan terjemahan
jelas "Kebersihan adalah bagian dari iman", diejek oleh kekumuhan, tumpukan
sampah, dan kekotoran hati di mana-mana.
Kesungguhan yang diajarkan Quran dan dicontohkan Nabi tak mampu mempengaruhi
tabiat malas dan suka mengambil jalan pintas.


Di atas, korupsi merajalela (Bahkan mantan presiden 32 tahun negeri ini
dikabarkan menyandang gelar pencuri harta rakyat terbesar di dunia).
Sementara di bawah, maling dan copet merebak. Jumlah orang miskin dan
pengangguran seolah-olah berlomba dengan jumlah koruptor dan mereka yang
naik haji setiap tahun.


Nasib hukum juga tidak kalah mengenaskan. Tak perlulah kita capek terus
bicara soal mafia peradilan dan banyaknya vonis hukum yang melukai sanubari
publik untuk membuktikan buruknya kondisi penegakan hukum negeri ini.
Cukuplah satu berita ini: KPK baru-baru ini menangkap Koordinator Bidang
Pengawasan Kehormatan Keluhuran Martabat dan Perilaku Hakim Komisi Yudisial
saat menerima suap.


Penegak-penegak keadilan sering kali justru melecehkan keadilan. Penegak
kebenaran justru sering kali berlaku tidak benar.


Maniak kekuasaan menghinggapi mereka yang pantas dan yang tidak pantas.
Mereka berebut kekuasaan seolah-olah kekuasaan merupakan baju all size yang
patut dipakai oleh siapa saja yang kepingin, tidak peduli potongan dan
bentuk badannya..


Tidak hanya sesama saudara sebangsa, tidak hanya sesama saudara seagama,
bahkan sesama anggota organisasi keagamaan yang satu, setiap hari tidak
hanya berbeda pendapat, tapi bertikai. Seolah-olah kebenaran hanya milik
masing-masing. Pemutlakan kebenaran sendiri seolah-olah ingin melawan fitrah
perbedaan.


Kekerasan dan kebencian, bahkan keganasan, seolah-olah menantang missi
Rasulullah SAW: rahmatan lil 'aalamiin, mengasihi seluruh alam, dan tatmiimu
makaarimil akhlaaq, menyempurnakan akhlak yang mulia.


Penghargaan kepada manusia yang dimuliakan Tuhan seperti sudah mulai sirna
dari hati. Termasuk penghargaan kepada diri sendiri.


Waba'du; jangan-jangan selama ini –meski kita selalu menyanyikan "Bangunlah
jiwanya, bangunlah badannya"—hanya badan saja yang kita bangun. Jiwa kita
lupakan. Daging saja yang kita gemukkan, ruh kita biarkan merana. Sehingga
sampai ibadah dan beragama pun masih belum melampaui batas daging. Lalu,
bila benar, ini sampai kapan? Bukankah tahun baru ini momentum paling baik
untuk melakukan perubahan? Selamat Tahun Baru!


Penulis adalah pemimpin Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang.


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

-----------------------------------------------***
cara keluar dari milis ini :
kirim email kosong ke [email protected] 
dan REPLY email konfirmasi dari yahoogroups.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke