Kursi Panas Legislatif

Laksana liukan alang-alang yang bergoyang
Sangat gemulai ketika tertiup angin 
Ingin sekali hati ini mendekapmu, wahai ilalang
Dan ingin merasakan kelenturan yang kau pamerkan

Namun
Bagai tergores sembilu
Ketika aku lengah dengan dirimu
Kau melukaimu tanpa ada perasaan dosa

Oh…..
Inikah cermin cermin yang ada saat ini
Ketika wajah-wajah mereka terpampang
Diantara kalender, stiker bahkan baliho
Menulis dengan jelas dan tegas
Berbagai slogan-slogan yang menggiurkan
Peduli wong cilik ucapmu dalam tulisan
Lalu kau bentangkan spanduk diperempatan jalan

Lagi-lagi peduli wong cilik, katamu….
Meski hanya dalam tulisan diposter, baliho bahan kalender
Namun, aku masih ragu dengan ucapmu
Sebab tahun kemarin dimusim yang sama
Kau juga melakukan hal yang sama pula
Kau atas namakan perjuanganmu tanpa pamrih
Demi kesejahteraan rakyat serta wong cilik
Begitu celotehmu ketika kau kampanye

Ketika pada sidang akumulasi terpenting
Kau jadikan suara-suara kami sebagai komoditi
Yang bisa mengantarkanmu membeli kursi
Kursi yang enak dipakai untuk debat

Apakah selaksa kecewa ini harus kembali terjadi
Ketika musim kemarin aku telah salah memilih
Memilih rahwana yang menjelma menjawi sosok dewa
Lalu kau tertawa setelah kau bisa silat lidah ketika ditanya oleh rakyat

Aku tlah jemu menunggu janjimu dulu
Dan tanggungjawabmu semuanya terasa palsu
Apakah maksudmu hanya untuk menghiburku
Disaat harga bahan pokok terus melaju

Kini aku tetap tertawa getir melihat spanduk dan balihomu
Yang terpampang dipojok perempatan jalan desaku
Slogan lamamu masih tetap seperti yang dulu
Namun ketika kau terpilih disaat pemilu
Kau tak lagi mengindahkan janjimu

Kini aku baru tahu
Kenapa bapak dan emaku tak lagi mencoblosmu
Sebab tak ada bukti-bukti dari janjimu yang basi ditelingaku

Mojokerto, Desember 2008 

Praktisi Waluya Reiki
Reiki Training And Developmnent center

+6285885387423/+628569024880


      

Kirim email ke