--- Pada Jum, 30/1/09, Ananto Pratikno <[email protected]> 
menulis:
Dari: Ananto Pratikno <[email protected]>
Topik: [Sarikata.com] Mengelola Reputasi
Kepada: "sarikata" <[email protected]>
Tanggal: Jumat, 30 Januari, 2009, 9:58 AM










    
            Mengelola Reputasi



"Diperlukan waktu 20 tahun untuk membangun reputasi dan 5 menit

untuk menghancurkannya. "

-- Warren Edward Buffett, investor dan pengusaha Amerika



REPUTASI mengalahkan segalanya. Citra dan kepercayaan pelanggan di

atas segalanya, tak peduli berapa pun ongkos yang harus dikeluarkan.

Tak percaya? Lihatlah apa yang dilakukan pabrikan mobil Jepang,

Mazda, belum lama ini. Mazda mengambil keputusan besar untuk

memusnahkan sebanyak 4.703 mobil yang masih tergolong keluaran

terbaru, jenis Mazda3 dan CX-7. Mazda CX-7 sendiri dipersenjatai

mesin MZR 2.3L Direct Injection Spark Ignition turbo. Dengan

spesifikasi mesin tersebut, mobil ini punya tenaga maksimum 235Hp

pada putaran 5.000rpm, dan torsi maksimum mencapai 350Nm/2.500rpm.

Diperkirakan, mobil-mobil yang dimusnahkan tersebut bernilai sekitar

US$ 100 juta. Lebih dari sekadar cukup untuk membeli kerupuk untuk

dibuat hujan di atas negeri ini.



Bukan main. How come? Berbagai pertanyaan pun muncul. Mengapa tidak

dilelang saja atau hanya menjual suku cadangnya saja? Ada ceritanya.

Hal ini bermula ketika The Cougar, sebuah kapal kargo yang

mengangkut 4.703 unit mobil produksi Mazda tersebut mengalami

kecelakaan dua tahun silam. The Cougar saat itu tengah menempuh

perjalanan laut dari Jepang menuju Vancouver, British Colombia,

Tacoma, Washington dan Port Hueneme, California. Namun pada

kenyataannya, ribuan mobil itu tak mengalami kerusakan, karena

sistem penyimpanan yang aman di dalam kapal. Seperti diungkapkan di

awal, citra memang mengalahkan segalanya. Akhir tahun 2006, Mazda

berjanji untuk tidak melempar mobil-mobil yang berada di dalam kapal

the Cougar ke pasaran. Beberapa alternatif solusi pun bermunculan,

misalnya mobil-mobil tersebut digunakan untuk penelitian di sekolah

kejuruan otomotif, atau menggunakannya untuk film-film laga. Toh

pada akhirnya, opsi pemusnahan total dinilai menjadi pilihan

terbaik. Mazda benar-benar tak ingin bermain dengan risiko, karena

tetap saja selalu ada kemungkinan produk-produk itu memiliki

keluhan. Jika itu terjadi, cilaka dua belas namanya, bukan hanya

divisi garansi Mazda yang mengalami kerepotan, tetapi lebih dari

itu, citra dan reputasi Mazda sebagai salah satu produsen otomotif

terdepan pun akan hancur.



Reputasi bagi sebuah individu, lebih-lebih perusahaan merupakan hal

yang penting. Tahun 2004, survey yang dilakukan Hill and Knowlton's

Corporate Reputation Watch mendapatkan hasil: "93% of senior

executives believe that customers consider corporate reputation

important or extremely important." Tahun 2001, polling yang

dilakukan Firma Asuransi AON terhadap 2000 perusahaan papan atas di

Inggris menunjukkan bahwa kehilangan reputasi dilihat sebagai sebuah

risiko terbesar.



Kehilangan reputasi yang baik jauh lebih mudah dibanding usaha untuk

membangunnya kembali. Dibutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk

membangun reputasi yang baik, tetapi diperlukan waktu lima menit

saja untuk meruntuhkannya. Lihatlah apa yang dialami perusahaan-

perusahaan semacam Enron, Merrill Lynch, General Electric dan

WorldCom. Perusahaan-perusaha an di Indonesia mengambil hikmah akan

pentingnya mengelola reputasi perusahaan



Lantas, apa sesungguhnya yang dimaksud reputasi? Ada banyak teori.

Professor Gary Davies dari Manchester Business School memberikan

definisi semacam ini, "Reputation is a collective term referring to

all stakeholders' views of corporate reputation, including identity

and image." Atau dengan kata lain, reputasi merujuk pada semua

pendapat orang lain tentang prestasi, mencakup pencitraan dan

pengenalan konsepnya.



Tentu yang dimaksud reputasi di sini adalah reputasi yang baik,

harum, dan positif. Kalau yang buruk, jangan dipelihara, mendingan

dihapus lalu diganti dengan yang baik. Nah, untuk itu juga tidak

mudah, bahkan lebih berat. Sangat mungkin, dibutuhkan tenaga,

pikiran, dan uang yang tidak sedikit. Hal ini bisa kita simak di

berbagai media massa, apalagi menjelang pemilihan umum tahun depan.



Harus diakui mengelola reputasi bukanlah pekerjaan yang mudah. Masih

ingat Pak Raden? Itu loh, tokoh dalam film serial Si Unyil. Bapak

tua dengan kumis lebat itu memiliki reputasi yang kurang oke di mata

Unyil dan teman-temannya. Kalau Anda yang sempat menonton acara ini

ketika ditayangkan di TVRI, tentu tahu sebabnya. Pak Raden memiliki

reputasi sebagai orang tua yang kikir, malas kerja bakti, mau menang

sendiri, dan suka menyombongkan diri dengan bahasa Belandanya. Lain

lagi dengan Pak Ogah, si botak yang lebih suka nongkrong di pos

ronda bersama karibnya Pak Ableh, yang juga sama-sama pemalas.

Meski mereka pernah punya pabrik batako Ekspress Gembol, tapi karena

malas, pabrik itu tak bertahan lama. Tentu bukan itu yang

dimaksudkan dalam tulisan ini.



Sekarang, kita ambil lagi kisah lain. Tapi sori-sori stroberi, lagi-

lagi dari serial yang pernah ngetop di tahun 1980-an. Di serial

Rumah Masa Depan pernah ada tokoh anak pintar, namanya Sangaji. Anak

dengan penampilan kaca mata John Lennon ini terkenal sebagai anak

pintar. Dalam sebuah perlombaan adu cerdas, dia harus berhadapan

dengan seorang murid yang tidak hanya pintar tapi juga gagah dan

kaya. Namun Sangaji sama sekali tidak gugup. Kok bisa? Dia

mencitrakan diri sebagai bukan anak orang kaya, tampangnya biasa-

biasa saja, tapi berotak encer. Nah, diam-diam siswa lainnya, bahkan

juga penonton, menaruh hormat yang luar biasa. Lawannya bisa pintar

karena dia punya fasilitas yang luar biasa. Maklum bapaknya kaya

raya, tapi justru Sangaji kebalikannya. Di balik kelemahannya, dia

memiliki kemampuan lebih. Dengan demikian dia menjadi leluasa,

cerdas, dan juga sigap dalam mengelola reputasinya tanpa kehilangan

kesan kalah.



Kalau mau contoh yang lebih terkini, mungkin bisa dilihat dari

perlombaan bintang instan seperti AFI yang sempat booming beberapa

tahun silam. Justru, kekurangan menjadi kelebihan. Seorang peserta

yang hanya anak dari seorang tukang becak malah bisa menjadi

pemenang. Citra yang terbangun itulah yang menggugah pemirsa untuk

memilihnya menjadi pemenang. Jelas, di luar dugaan semua orang.



Jadi mulai saat ini, bila ingin mengelola reputasi, segera ingat-

ingatlah reputasi yang melekat pada diri Anda. Hitung untung dan

ruginya, pilih dan pilah semuanya. Nah, di kantor Anda dikenal

sebagai karyawan yang lebih banyak mengobrol? Sering tidur di saat

jam kerja? Atau pendiam tapi penuh dengan ide brilian? misalnya.

Silakan pilah dan pilih lagi. Kalau sudah menemukan, bersyukurlah.

Kalau ada yang buruk, segera tinggalkan, bisa bertahap atau

langsung, just do it, dan tanpa perlu tebar pesona. Kalau ada yang

baik, itu artinya tinggal mengelolanya. Bagaimana ketika suatu

masalah mengancam reputasi diri Anda? Tentu saja ketika mulai goyah,

Anda pun harus menyelamatkannya, tapi tak perlu dengan harus

mengeluarkan uang hingga jutaan dolar seperti pabrikan mobil Mazda.

Selain tidak punya duit sebanyak itu, untuk sekadar memelihara

reputasi sebagai orang royal di kantor, cukuplah dengan mentraktir

karyawan lainnya di tukang bakso sebelah. (050508)



Sumber: Mengelola Reputasi oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di

Jakarta



[Non-text portions of this message have been removed]




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Sikap Peduli Lingkungan? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. 
http://id.answers.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke