Bagaimana jika hari terus beranjak dari setiap hempasan yang tak biasa. Aku
takut bila dalam setiap ketukan langkah yang tlah terseok-seok oleh waktu,
aku terhempas dari tempatku berdiri dan hanya bisa memandangmu dengan tangis
pilumu tanpaku mampu meraihmu dan meletakkan kepalamu didadaku.



*"Kenapa kau menatap kosong laut itu sayang?" *ucapmu sambil membelai
rambutku yang tertiup angin.



*"Aku takut seperti mereka, indah tetapi sunyi" *jawabku**



Ku tak pahami bila setiap lonceng yang berdetangan itu selalu
menginggatkanku pada sebuah takdir yang tergores dalam garisan tangan antara
waktu dan kamu.



*"Sayang, takkan kau biarkan dirimu terbunuh sepi dan janganlah menangisi
ketakutanmu yang konyol" *katamu.**



*"Aku hanya ingin selalu menatapmu, walau kau tak pernah tau" *kataku dalam
hati tanpa mampu ku ucapkan karena dadaku tlah sesak oleh ketakukan yang
luar biasa.



Karena hidupku telah terukir dalam sebuah detak waktu dan akupun takut tak
bisa menemanimu menggapai mimpi

-- 
Regards,
Hapsari Wirastuti Susetianingtyas

ViSiT My BLoG
www.napasbidadari.multiply.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke