Kiai Sudrun Gugat

Oleh: Emha Ainun Nadjib



BIASANYA Sudrun memang mendadak datang di bilik saya lewat tengah malam,
untuk mengingatkan agar saya jangan sampai tertidur di saat-saat pa!ing
bening seperti itu: justru ketika hampir semua orang terbaring lelap, ketika
berbagai jenis kesibukan-kesibukan duniawi sedang beristirahat.



Tapi tadi malam Sudrun hadir tidak untuk itu. la tidak duduk di bibir
ranjang seperi biasanya, mengusap jidat saya dengan wajah tersenyum.
Melainkan berdiri di pojok ruang, tangannya bersedakap dan matanya melotot
merah padam ke arah saya.



"MasyaAlllah...ada apa Drun?", terloncat pertanyaan dari mulut saya.



"Ada apa ada apa ndasmu!", ia membentak dengan ketus.



Saya terhenyak bangun. Terbelalak mata saya karena sungguh-sungguh tidak
paham apa yang terjadi pada sahabat saya ini.



"Kali ini saya tidak bisa memaafkanmu. Saya tidak bersedia memohonkan ampun
kepada Tuhan untukmu!" katanya lagi, "Dan kalau mungkin nanti Tuhan bertanya
kepada saya apakah sebaiknya kamu dimaafkan, saya akan kemukakan pendapat
bahwa kamu harus membayarkan ongkos yang sangat mahal untuk mungkin
memperoleh ampunan. Soalnya kamu ini main-main..."



"Apa-apaan ini? Main-main apa?", saya memotong.



"Kamu ini artis, tapi merasa Kiai. Kamu ini pedagang, tapi merasa jadi juru
dakwah!"



"Lho Iho Iho....", saya semakin tidak paham, "Omong apa ini! Artis
bagaimana? Pedagang bagaimana?"



Tapi rupanya Sudrun tidak perduli pada ketidakpahaman saya. la meraih peci
saya di meja dan memasukkan ke dalam tasnya sambil menggerundel: "Kamu pikir
peci ini tanda kemusliman atau kekyaianmu? Dulu salah seorang tokoh PKI juga
tiap hari pakai peci!". Kemudian surban yang tersampir di sandaran kursi
diambilnya pula dengan kasar, ia lemparkan ke atas almari, "Selembar kain
yang membuat jutaan orang terserang tahayul! Sehingga mereka percaya kepada
sesuatu yang tidak bisa dipercaya, sehingga mereka merindukan hal¬-hal yang
sesungguhnya tidak ada!"



la terus menyerbu dengan gencar.



"Dan kamu menikmati tahayul itu. Kamu menikmati kebodohan massal orang-orang
yang mengerumunimu. Hanya dengan uluk salam yang fasih dan kutipan satu dua
firman ditambah kelicinan menggelitik telinga, mereka percaya bahwa kamu
adalah segala-galanya..."



Tiba-tiba satu tangannya memegang dagu saya, mendongakkannya dan
menghadapkan airmukanya yang amat keras ke wajahku, "Dan yang paling celaka
dari seluruh celaka rutin massal itu, kamu tahu apa? lalah bahwa kamu
sendiri percaya bahwa kamu adalah segala-galanya bagi ummatmu!"



Saya tertunduk lemas. Saya sungguh-sungguh tidak mengerti semua ini.



"Kamu adalah manusia makhluk biasa ciptaan Tuhan yang dijunjung-junjung oleh
sejuta orang. Tiap hari dijunjung-junjung, setiap saat disanjung-sanjung,
sehingga kamu sendiri akhirnya yakin bahwa kamu memang pantas
dijunjung-junjung dan disanjung-sanjung. Sejuta orang memusatkan perhatian
dan cintanya kepadamu. Sejuta orang bersetia kepadamu seharian di bawah
terik matahari dan guyuran hujan. Sejuta orang beranggapan bahwa kamu
sedemikian pentingnya bagi mereka, hampir melebihi pentingnya Tuhan itu
sendiri. Maka akhirnya kamu sendiri menomersatukan dirimu, mengutamakan nama
besarmu, melahap posisimu. Kamu lupa bahwa kamu tidak penting. Kamu lupa
bahwa jangankan kamu: bahkan alam semesta dan seluruh isinya inipun tidak
pentilng – yakni pada saat kamu tenggelam di dalam kesunyian cintamu yang
tunggal dan utuh kepada Tuhanmu. Kamu lupa bahwa kamu ini bukan apa-apa...."



"Lantas kamu pikir apa kamu ini apa-apa!?", kali ini saya yang membentak.



"Apalagi aku!", ia mengejek, "Sedangkan kamu saja tidak penting, apalagi
aku. Justru karena aku tahu terus-menerus bahwa aku bukan apa-apa, maka aku
punya posisi dan kewajiban untuk mengingatkanmu bahwa kamu inipun bukan
apa-apa. Mulutmu yang manis bukanlah bikinanmu. Suaramu yang melengking
bukanlah produkmu. Retorika dan orasi romantikmu bukanlah hasil dari
kehendakmu. Bahkan kamu tidak pemah sanggup menciptakan sehelai rambutpun.
Jadi kenapa kamu merasa penting? Sehingga kamu sedemikian dahsyat
mengkomoditisasikan pentingnya kamu di mata berjuta-juta orang itu, lantas
managemenmu kacau. Lantas kamu sanggupi tumpukan keharusan-keharusan yang
kamu tidak sanggup memenuhi. Lantas terpaksa ingkar janji kepada
nasabah-nasabah dan konsumen-konsumen tertentu di suatu daerah? Apa kamu ini
bintang film? Apa kamu ini produser yang memasang brooker-brooker di setiap
propinsi yang memperoleh laba dari perniagaan keartisanmu? Sedangkan
pedagang yang asli pedagang



sajapun setia untuk berdisiplin mensuplai pesanan¬pesanan yang sudah
terkonfirmasi. Kalau sebuah toko sudah terlanjur membayarkan uang panjar dan
memesan barang ke sebuah perusahaan pemasok, lantas pada saatnya barang itu
ternyata tidak datang: ia tidak akan menerima alibi ‘manusia merencanakan,
tapi Tuhan jua yang menentukan’. Pedagang saja tidak logis dan tidak etis
beralibi demikian. Apalagi kamu!", ¬ia mengepalkan kedua tangannya, "Aku
sudah bosan mendengar berita semacam itu berulangkali!"



Sudrun terengah-engah sendiri oleh serbuan-serbuan gencarnya kepada saya. []



Emha Ainun Nadjib

Dari Buku "Kiai Sudrun Gugat", Graffiti Press


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

-----------------------------------------------***
cara keluar dari milis ini :
kirim email kosong ke [email protected] 
dan REPLY email konfirmasi dari yahoogroups.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke