Saat ku melintasi lorong sepi di kota itu sekejab kuteringat saat itu, kala
lonceng di pohon cemara tengah kota telah berdeting tujuh kali di tempat aku
berdiri menunggumu. Suasana yang kurasa masih sama saat kau datang dengan
sayap putihmu, kemudian kita akan bersenang-senang di atas angkasa sambil
menghidupkan bintang sehingga berkelip bagai lampu hiasan yang menerangi
kita. Kau tak lupa pula mensyairkan kata-kata yang selalu kutanyakan
maknanya. Kau hidupkan malam di atas awan dengan pemandangan sempurna dan
aku hanya duduk manis sambil melihatmu membangkitkan semua pesona itu tanpa
tau maksudmu.



Genap malam bulan purnama ini baru ku mengerti arti sebenarnya seluruh
keajaiban yang kau kiaskan padaku dulu.



Dan bila saat ini, kaulah yang berada tepat ditempat aku berdiri, tepat di
tempat aku merangkai kembali kisah itu, *mungkinkah akan terbesit rasa yang
sama padamu?*



*Ku harap tidak*

-- 
Regards,
Hapsari Wirastuti Susetianingtyas

ViSiT My BLoG
www.napasbidadari.multiply.com
www.napasbidadari.blogspot.com
www.hapsariwirastuti.wordpress.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke