Kapasitas Kejiwaan Pada Anak
By: agussyafii
Dalam konsep pendidikan Amalia, yang paling penting adalah memberikan
tanggungjawab. Anak haruslah diberikan kesempatan untuk melaksanakan tugas dan
tanggungjawab untuk mengurus dirinya sendiri sebab itu bentuk pelatihan yang
perlu pembiasaan agar kelak mereka menjadi manusia yang bertanggungjawab.
Tentunya tugas dan tanggungjawab anak disesuaikan dengan kapasitas dirinya.
Menurut Alquran, Allah menciptakan manusia baik individu maupun sosial, dari
keadaan lemah, kemudian berproses menjadi kuat, dan kemudian lemah kembali (Q /
30:54). Kelemahan itu berupa keterbatasan fisik, psikis, intelektual, dan
spiritual.
Tiap orang memiliki kapasitas fisik, psikis, intelektual dan spiritual yang
berbeda-beda. Deskripsinya sebagai berikut:
1. Kelemahan fisik mewujud pada ketergantungan dengan unsur lain seperti
makanan, minuman, istirahat, pengobatan dan lainnya, dan berujung pada
kematian. Proses dari lemah menjadi kuat dan kembali menjadi lemah adalah hukum
kehidupan yang juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan, dari biji, bersemi, menjadi
pohon, merindang, berbuah, kembali layu dan kering (Q / al Waqi’ah:63-70).
2. Kelemahan dan keterbatasan psikis manusia mewujud dalam bentuk tidak mampu
mengendalikan diri (tidak sabar), emosi, takut, terkejut, dan sedih. Alquran
menyebutkan bahwa manusia diciptakan dengan memiliki keluh kesah dan kikir;
jika ditimpa kesusahan ia mengeluh, jika ia memperoleh keberuntungan ia malah
kikir (Q / 70:19-21). Jika sedang senang ia berpaling dan sombong, tetapi
ketika sedang susah ia putus asa (Q / 17:83).
3. Kelemahan intelektual mewujud pada keterbatasan pengetahuan manusia atas
realitas. Ada manusia yang mampu memilah-milah banyak masalah, tetapi ada yang
sangat terbatas; ada yang mampu melihat masalah untuk tiga-empat dimensi,
tetapi ada yang hanya mampu melihat satu dimensi. Dalam surat Luqman disebutkan
bahwa ada lima hal yang tidak bisa diketahui oleh intelektual manusia, yaitu:
(1) Kapan terjadi hari kiamat;
(2) Kapasitas hujan;
(3) Masa depan janin manusia yang masih dalam kandungan; dan
(4) Apa yang akan diperoleh di hari esok, dan (5) dimana manusia akan mati (Q /
31:34).
Alquran juga menyebutkan bahwa manusia tidak akan mampu mengetahui ruh, karena
ruh itu urusan Allah SWT dan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan
tentangnya, misalnya fenomena (Q / 17:85).
4. Keterbatasan kekuatan spiritual mewujud dalam ketidak mampuan manusia
memandang dimensi gaib, apa yang akan terjadi di masa depan, apa yang ada pada
ilmu Allah (Q / Yunus:49) dan Q / al An’am:50). Dalam perspektif spiritualitas,
seseorang bisa mencapai tingkat dekat dengan Allah hingga ia bisa melihat
dengan “penglihatan” Allah, bisa mendengar dengan “telinga” Allah. Akan tetapi,
spiritual adalah olah rasa. Oleh karena itu, hal ini merupakan pengalaman
subjektif spiritual seorang muslim, kendati mereka justru merasakan sebagai hal
yang paling objektif.
Sebagaimana tersebut di atas, kapasitas setiap manusia, (fisik, psikis,
intelektual, dan spiritual) kenyataannya berbeda-beda. Perbedaan kapasitas ini
membawa implikasi kepada perbedaaan tanggung jawab dan bobot kewajiban. Sudah
barang tentu tidak adil jika kewajiban manusia disamakan sementara kapasitas
mereka berbeda-beda. Oleh karena itu, Alquran menyebutkan bahwa Allah tidak
membebani kewajiban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya, la
yukallifa Allah nafsan ila wus’aha (Q / 2:286). Allah tidak membebani kewajiban
kepada seseorang kecuali sekadar apa yang telah Allah berikan kepadanya, la
yukallifa Allah nafsan illa ma ataha (Q / 65:7). Orang juga tidak akan memikul
dosa yang diperbuat orang lain, wala taziru waziratun wizra ukhra (Q / 6:164).
Prinsip hubungan ini kemudian mewujud dalam hukum fiqh; dalam hal ini, orang
yang sakit dibedakan keharusannya dengan orang sehat; orang miskin dibedakan
kewajibannya dengan orang kaya; orang gila dibedakan dengan tanggung jawabnya
dengan orang waras; anak kecil dibedakan tanggung jawabnya dengan orang dewasa;
orang tidur dan orang lupa dibedakan tanggung jawabnya dengan orang jaga atau
orang yang sadar; dan orang yang berbuat secara sengaja dibedakan dengan yang
tidak sengaja.
Wassalam,
agussyafii
--
terima kasih buat teman2 yang berminat sbg orang tua asuh. Kami mohon maaf yang
sebesar2nya dengan ini kami menutup orang tua asuh Amalia membatasi 7 orang tua
asuh. Semoga Alloh SWT membalas kebaikan teman2 semua.- Amalia bukanlah
pengasuhan anak yatim, Amalia adalah konsep pendidikan terpadu, keluarga,
sekolah dan lingkungan untuk anak2 dari keluarga tidak mampu agar kelak menjadi
anak-anak Insan Mulia. Pembelajaran dilaksanakan pada hari senin hingga minggu
di Rumah Amalia, Jl. Subagyo Blok ii 1, no.23 Komplek Peruri, RT 001 RW 09,
Sud-Tim, Ciledug. TNG. silahkan kirimkan dukungan dan komentar anda di 087 8777
12 431, [email protected] atau http://agussyafii.blogspot.com
[Non-text portions of this message have been removed]