Harapannya, rasa malu ini bisa jadi pagar pengaman dari nafsu binatang kita
yang kadang liar dan sulit terkendali. Bagaimana rasa bersalah bisa muncul,
ini tentunya didasarkan atas beberapa kemungkinan. Sebagaimana dalam ilmu
sosial-keagamaan, dalam proses mencari kebenaran kita bisa menyandarkan pada
beberapa ukuran. Pertama, didasarkan atas kebenaran yang dipahami sendiri.
Kedua, kebenaran yang diyakini oleh orang banyak.  Jika dianalogikan, maka
rasa malu bisa tercipta, Pertama, atas dasar pemahaman diri sendiri tentang
perasaan bersalah. Kedua, berdasarkan keyakinan suatu masyarakat dalam lokal
budaya tertentu. Ini biasanya disebut dengan moral. Ketiga, lahir dari
pemahaman atas doktrin ketuhanan.

Bila seorang tidak mampunyai rasa malu , ia akan menjadi keras dan berjalan
mengikuti kehendak hawa nafsunya. Tak peduli apakah yang harus menjadi
korban adalah mereka yang tak berdosa. Ia rampas harta dari tangan-tangan
mereka yang fakir tanpa belas kasihan, hatinya tidak tersentuh oleh
kepedihan orang-orang lemah yang menderita. Matanya gelap, pandangannya
ganas. Ia tidak tahu kecuali apa yang memuaskan hawa nafsunya. Bila seorang
sampai ke tingkat prilaku seperti ini, maka telah terkelupas darinya fitrah
agama dan terkikis habis jiwa

Sudah saatnya malu menjadi budaya yang harus selalu dijaga dan dipelihara,
baik oleh individu, kelompok, terlebih bangsa ini. Kita sadari betapa tidak
berhentinya petaka, bencana, yang melanda bangsa ini mungkin salah satunya
diakibatkan oleh hilangnya rasa malu.ketika pejabat malu berkorupsi, eorang
pengusaha merasa malu jika terlambat memberi upah pada karyawannya,Artis
Malu Memamerkan Aurat, Kita malu mengumbar kata-kata kotor maka yang terjadi
adalah pembentukan budaya malu yang akan memajukan bangsa ini.

Kenapa memiliki rasa malu itu penting dan harus dibudayakan. Karena dengan
rasa malu kita tidak akan lagi menyaksikan tindakan amoral dan kekerasan
yang meresahkan masyarakat banyak. Orang-orang akan berkompetisi untuk
bersikap sosial yang baik dan mengubur tindakan amoral dengan rapi. Karena
itu hal ini perlu dibudayakan. Sebagaimana yang kita ketahui, salah satu
pengertian budaya adalah tingkat mutu ekspresi manusia. Dalam perihal
mencari penghidupan misalnya, kualitas budaya beberapa orang pejabat dapat
dilihat melalui pola ekspresi atau cara bagaimana mereka mendapatkan
penghidupan.

Sebenarnya sebagian bangsa Indonesia secara sadar menyatakan bahwa “malu”
merupakan bagian dari budaya bangsa. Berbagai pernyataan dan tulisan di
media telah membahas hal tersebut. Namun kiranya kurang arif manakala hanya
karena ulah dari suatu pihak atau kelompok “yang tidak tahu malu”, kemudian
dikaitkan dengan budaya bangsa secara keseluruhan. Faktor budaya adalah
asset bangsa, maka perlu kearifan dalam memahami masalah ini.

Saat kapan untuk menunjukkan rasa malu bagi masing-masing individu adalah
sangat relatif tergantung kepada pribadi, waktu, tempat serta konteks
permasalahan yang dihadapi oleh orang per orang. Untuk membangun “budaya
malu”, fungsi agama dan lembaga pendidikan adalah sangat penting dan ikut
menentukan. Apabila sampai pada keadaan bahwa orang sudah tidak punya malu,
maka misi agama dan lembaga pendidikan dianggap gagal.

Dekandensi moral sudah sedemikian meluas, dan menghilangnya budaya malu, dan
berganti menjadi budaya Malu-maluin. Sebagai contoh adanya kebebasan seksual
pada generasi muda saat ini, Budaya malu harus kembali dikampanyekan. Malu
memperlihatkan aurat, malu mengambil hak yang bukan hak pribadinya, malu dan
malu. "Jadi orang harus diajak untuk memiliki malu kalau melakukan
penyimpangan pada bidangnya. Budaya malu adalah benteng terakhir untuk tidak
melakukan suatu perbuatan yang melanggar moral, etika, norma dan hukum.

Pada esensinya, kondisi masyarakat sudah banyak berubah hingga hari ini,
baik di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan. Namun segenap
perubahan itu masih saja menyisakan sisi gelap yang pada akhirnya kurang
memberi manfaat dan merugikan sebagian dari masyarakat.Karena itu yang perlu
ditanamkan sebagai landasan untuk melakukan perubahan adalah budaya
malu.Bila budaya malu sudah tertanam maka tatanan kehidupan masyarakat akan
beranjak pada budaya kerja. Pada tahap yang paling tinggi, segenap kehidupan
masyarakat akan terikat oleh budaya mutu. Pada tahap inilah yang namanya
kemakmuran dan kesejahteraan hidup bersama akan bisa terwujud. Rasa malu itu
yang kini luntur dalam warna kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak
hal.


Maka Sudahkah anda malu..? Atau Anda termakdsud orang yang malu-maluin.
Segenap saran dan kritik dapat dikirim langsung ke [email protected].
Budaya malu harus dijadikan suatu mekanisme kendali diri sendiri bagi bangsa
ini.

"Belajarlah Untuk Malu, Sebelum Dipermalukan"

-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke