Berdasarkan wikipedia prasangka berarti membuat keputusan sebelum
mengetahui fakta yang relevan mengenai objek tersebut. Sebagai manusia
kita pasti suka berprasangka. Entah itu prasangka baik maupun buruk.
Namun sangat dianjurkan agar kita selalu berprasangka baik, agar
tercipta persahabatan dan perdamaian. Alangkah baiknya bila kita bisa
selalu berprasangka baik terhadap perbedaan dan tidak memaksakan
pendapat. Kata Euclides: "Orang yang kondisinya paling buruk adalah
orang yang tidak percaya kepada seorang pun karena prasangka jeleknya,
dan tidak dipercaya oleh seorang pun karena perbuatan jeleknya.

Sejak dilahirkan ke muka bumi ini, manusia mulai mengembangkan segala
bekal yang dimilikinya. Yang paling mudah untuk dikenali adalah
apa-apa yang ada di raganya, salah satunya adalah ‘pikiran‘, yang
menghubungkan manusia dengan segala yang ada di Alam Ragawi, sejak
saat itu pula manusia belajar menggunakan ‘pikiran’-nya, dan sejak
saat itu pula ‘pikiran’ beranjak mendominasi fungsi Hati. Dan manusia
cenderung untuk selalu mengedepankan kemampuan ‘pikiran’, akibatnya
kemampuan ‘Hati’ menjadi semakin jarang digunakan.Prasangka bisa
berupa prejudice yang membutakan akal pikiran kita. Menutup munculnya
sebuah sebuah opsi lain. Padahal bisa saja ada sisi kemungkinan lain
yang kita tidak pernah tahu. Ini sangat berbahaya, karena manusia bisa
saling menghancurkan karena ketidaktahuan.

Pikiran adalah bagian dari Alam Ragawi ini, ia tidak bisa menjangkau
alam-alam lainnya yang lebih tinggi statusnya, ia tidak mampu
menjangkau Nurani kebenaran yang hakiki. ‘Pikiran’ bahkan juga tidak
mampu menjangkau sesuatu yang ada dalam diri manusia lain. Untuk
wilayah-wilayah yang seperti itu, ‘pikiran’ hanya membuat dugaan,
membuat persangkaan. Ketika itulah manusia berada titik rawan, ia
mudah tertipu, termanipulasi oleh ‘pikiran’-nya sendiri, bisa
memprasangkai adanya sesuatu yang bahkan sebenarnya tidak pernah ada.
Ditambah lagi dengan tergesa-gesa menyimpulkanlengkaplah sudah.
prasangka itu hampir selalu mengikuti keinginan hawa nafsu, Menyadari
hal tersebut, hendaklah kita segera menepis segala lintasan pikiran,
dugaan, prasangka (atau entah apa lagi namanya), sehingga kita tidak
terjerumus ke dalam hal yang tidak teringinkan.

Alangkah enaknya kalo kita bisa hidup tidak dengan prasangka buruk,
tidak dengan pandangan curiga terhadap lingkungan sekitar, tidak
menuduh sembarangan hanya karena perasaan berkata demikian. kita
diperintahkan untuk selalu berbaik sangka dan jangan berburuk sangka.
Orang yang banyak prasangka buruk cenderung lebih mudah stress, salah
satunya dikarenakan prasangka buruk itu menimbulkan banyak
kekhawatiran yang tidak perlu. Jauh hari seorang guru sudah
mengingatkan saya agar jangan berprasangka buruk.Berbaik sangka pada
Mahluk, dan hadapi hidup ini dengan senyum di wajahmu serta keikhlasan
di hatimu… begitu beliau berpesan. Sesuatu yang penting kita harus
menanggalkan subjektivitas prasangka buruk. subyektivitas adalah
‘kebiasaan’ yang ‘mengatur’ kehidupan. Kita jarang mau ‘melihat’
sesuatu berdasarkan obyek apa adanya, obyektif. Ukuran-ukuran sesuatu
berdasarkan pandangan, pikiran kita, bukan berdasar sesuatu itu.

Perlu kita ketahui nilai dasar dalam menjalin hubungan dengan manusia
yang akan menjadi benih keahlian interpersonal adalah dengan memiliki
prasangka baik lebih dahulu. Memang pada prekteknya tidak semua
manusia pantas menerima predikat baik atau minimalnya baik-baik saja
tetapi kalau dikalkulasi untung-ruginya, lebih untung berprasangka
baik ketimbang berprasangka buruk terhadap orang lain. Prasangka buruk
yang kita jadikan tesis lebih sering menghalangi sinar karakter yang
sebenarnya kita miliki dan karena sinar telah redup maka membuat kita
menjadi benar-benar tertipu. Padahal kalau mau jujur, hukum alam ini
sering mendemonstrasikan dirinya, orang yang tertipu karena prasangka
baik atas orang lain lebih enak hidupnya ketimbang orang yang
menipu.Prasangka baik  dalam bahasa psikologi disebut sugesti positif.
Prasangka baik perlu dimiliki seseorang jika ingin meraih kesuksesan
dan keberhasilan. Sugesti positif selain mencerminkan kesucian hati,
juga menjadi doa, harapan, dan optimisme seseorang untuk selalu
bangkit dari berbagai kegagalan dan keterpurukan.

Jika kita menumbuhkan prasangka baik pada seseorang dalam diri
kita,hal ini akan lebih banyak menenagkan suasana hati kita,dari situ
pula kita bisa sekaligus berlatih bagaimana menjadi orang penyabar dan
ikhlas menerima kenyataan dalam hidup. Dengan demikian, kita dapat
‘memulai’ sesuatu dari titik nol, ‘melihat’ sesuatu dari sumber
kejernihan. Pikiran dan emosi jadi jernih, tanpa embel-embel
prasangka. Aturannya, jangan berprasangka buruk, dahulukan prasangka
baik.Apabila kita bisa membersihkan pikiran dan hati dari prasangka,
berarti ‘mata hati’ bebas dari segala hal, kecuali suara hati. Ini
berarti kita bebas  ‘menimbang’ prinsip-prinsip hidup kita. Jadi Mari
kita tumbuhkan prasangka baik, dan hilangkan prasangka buruk dalam
hidupkita.


Prasangka baik itu merupakan kekuatan penting untuk menyelesaikan masalah!

-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY

Kirim email ke