Tanaman yang Makan Pagar

<http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2009/06/08/590/Tanaman.yang.Makan.Pagar>

"Dewi agresif, aku pasif. Dia negatif, aku positif. Di antara kami selalu
tercipta arus listrik. Kami berbeda untuk saling melengkapi"



Sejak SMA aku berteman akrab dengan Dewi. Kemanapun [removed][removed] kami
selalu bersama. Teman-teman yang lain menjuluki kami si kembar. Orangtua
kami pun sudah mengerti dan menerima kedekatan itu. Kedekatan yang membuat
mereka lega karena memang kami menjadi begitu care satu sama lain.



Ketika kuliah, kedekatan kami tetap berlanjut. Kami pun menempuh kuliah di
kampus yang sama, setelah PTN menolak kami. Hari-hari ya bersama, kuliah,
makan, membuat tugas, dan lainnya. Hanya ketika KKN kami terpisah tempat,
setelah gagal  "menyuap" petugas untuk ditempatkan kami dalam satu desa.
Akhirnya kami cuma bersama dalam satu kecamatan. Tapi itu pun telah membuat
kami dapat dekat, meski hanya seminggu sekali, ketika libur, kami saling
mengunjungi.



Ketika kuliah, banyak yang menggosipi kedekatan kami. Beberapa teman
memelesetkan "si kembar" jadi "si lesbian". Tapi kami cuek saja. Sebagian
mereka cuma bercanda, sebagian lain memang serius. Jadi terbiasa bagi kami
untuk mendengar sapaan, "Lho, pasangan lesbi kamu di mana?" jika salah satu
dari kami tidak terlihat. Kami tidak terganggu karena kami memang normal.



Memang sih ada sisi yang berbeda antara aku dan Dewi. Dia itu agresif, dan
"berdarah panas". Maksudku, Dewi itu gampang suka dengan cowok, dan punya
gairah tinggi. Dia juga rileks, kalau lagi "naik", masturbasi, meski aku ada
di dekatnya. Kadang aku risih juga, tapi ya sudahlah. Daripada dia melakukan
dengan cowok, yang belum tentu juga akan bertanggungjawab jika ada apa-apa.
Dewi merasa aku pasti tidak akan menceritakan kegiatan personal dia itu
kepada siapa pun. Dan memang tidak aku ceritakan, untuk apa, apa untungnya.



Di masa kuliah itu aku punya pacar, Doni. Dewi pun punya pacar, Rian. Tapi
nasib kami sama. Aku putus dari Doni, Dewi pun berpisah dari Rian. Aku putus
dalam keadaan bersih, tapi Dewi tidak. Dia putus setelah melakukan hubungan
suami-istri, berkali-kali. Sudah aku bilang Dewi berdarah panas, dan dia
rileks melakukan hal itu. Tanpa rasa bersalah, dan ketika berpisah pun, tak
merasa dia berada di pihak yang rugi.



Jadi, beda antara kami adalah Dewi sudah mengenal seks sementara aku belum.
Dewi terbuka dan blak-blakan, sementara aku cukup tertutup. Dewi berdarah
panas sementara aku juga begitu, tapi tidak mengikuti. Dewi jujur dengan
dorongan-dorongan yang ada dalam dirinya, sementara aku menahan
dorongan-dorongan itu. Kami adalah kutup positif dan negatif. Dan karena
itu, di antara kami ada arus listrik, saling membutuhkan, saling terkoneksi.



Lalu aku bekerja. Dewi juga. Kami berpisah tempat dan profesi. Aku bekerja
di kantor notaris karena akan melanjutkan ke notariatan, Dewi "magang" di
kantor LSM. Agresivitasnya memang tersalurkan di LSM itu.



Nah, masalah kami bermula di sini. Aku lalu kenal dan dekat dengan Bima. Dia
lelaki yang sebenarnya ditakdirkan jadi seniman, tapi terjebak dalam
rutinitas birokrasi. Maksudku, dia itu sangat menikmati seni, tapi kecintaan
pada orangtua membuat dia memilih menjadi pelayan masyarakat. Karena itu, di
balik baju PNS-nya, tersimpan gairah akan pandangan-pandangan yang unik
tentang seni, terutama film. Ia penonton yang tabah, bahkan untuk film-film
yang menurutku buruk. Bagi Bima, menikmati tontonan yang buruk adalah
menjaga agar dirinya tetap tahu kualitas yang dia inginkan. Entahlah, aku
sering tidak "nyambung" kalau bicara soal itu.



Tapi lain dengan Dewi, mereka berdua sering nyambung. Kalau bicara, keduanya
acap berdebat, saling ngotot, sehingga aku sering geli. Dewi tidak mau
kalah, Bima tidak mau mengalah. Barangkali keduanya lahir dari kutub yang
sama, sehingga bertolak-belakang. Tapi, pertentangan itu tak membuat mereka
bermusuhan, bahkan saling hormat dan mengagumi satu sama lain. Mereka juga
sering memuji, tentu melalui aku.



Apakah aku cemburu? Tentu tidak. Dewi bukan tipe yang suka mengambil
pacarku. Dan seringkali dia memang tidak setuju denan lelaki yang aku sukai.
Bima termasuk. Tapi aku mah cuek saja.



Lalu terjadilah kisah ini. Aku singkat saja ya. Dua bulanan lalu, Bima
bercerita, kalau dia dan Dewi telah bercinta. Dan dia minta maaf. Tidak pake
nangis-nangis, tapi aku tahu dia menyesal. Aku tentu saja marah, memukulnya,
dan mengatakan kalau dia merusak persahabatan aku dan Dewi. Kalau dia
membuat aku kehilangan teman dan kekasih sekaligus. Tapi ternyata, menurut
Bima, bukan dia yang melakukan itu, tapi Dewi. Dewi memaksanya. Aku tidak
tahu bagaimana pemaksaan itu. Tapi menurut Bima, dia tiba-tiba tidak bisa
lagi mengikuti pikirannya, dan melakukan hal itu. Begitu saja. Katanya, Dewi
yang menggoda dan meminta.



Aku marah dan mengusirnya.



Tapi kemudian Dewi datang. Aku tak mau menemuinya, tapi anak gila itu bahkan
dengan santai saja masuk, dan memaksa aku mendengarnya. Dewi bercerita dan
mengakui memang telah bercinta dengan Bima. Kata Dewi, dia saat itu lagi
butuh, pengeeen banget, dan kebetulan Bima datang, karena aku minta
mengantar DVD untuk Dewi. Nah, Dewi menggoda, dia masturbasi di depan Bima.
Lalu semua terjadi, begitu saja.



Dewi minta maaf. Dia tahu, dia telah merusak apa yang seharusnya dia jaga.
Dewi tahu, aku pasti tidak akan memaafkan dia. Dewi mengaku salah telah
menjadikan Bima sebagai objek seksualnya. Dewi bersedia pergi dari hidupku
kalau aku menginginkannya, demi aku dan Bima.



Tapi aku tidak ingin kehilangan Dewi. Juga Bima. Aku tahu, sejahat-jahatnya
Dewi, dia jujur. Dan dia memang tidak ada maksud merebut Bima. Aku panggil
Bima, aku minta mereka berdua berjanji tidak akan mengulangi lagi. Bima
berjanji. Dewi juga. Aku tidak lega, tapi aku bisa apa?



Dewi tanaman yang memakan pagar. Bima adalah pagar yang tak bisa kokoh dalam
belitan tanaman. Aku adalah petani yang memasang pagar itu, dan menyirami
tanaman. Aku juga sebab dalam kejadian mereka. Apakah aku salah jika
memaafkan mereka dan menerima mereka kembali? Apakah bisa aku percaya bahwa
mereka tidak akan mengulang lagi keliaran itu? Sungguh aku sangat suka Bima,
dan dia pun sudah serius denganku. Dewi, sungguh, aku percaya dia, bahwa tak
ada maksudnya untuk merusakku. Buktinya, dia begitu wajar setelah itu.
Kubayangkan dalam pikiran burukku, Dewi hanya ingin merasakan apa yang juga
aku rasakan. Dia memang nakal, tapi tidak jahat.



Semoga aku tidak salah menduga tentang keduanya, pagar dan tanamanku.



Cerita Yanti di pinggiran kota Semarang


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke