Aku Tertipu Lagi!

Panggil saja aku El (29). Aku berasal dari kota kecil di Jawa Tengah, anak
bungsu dari 6 bersaudara. Kedua orang tuaku sudah tiada. Keluargaku sangat
sederhana dan hanya mengenyam pendidikan yang tidak terlalu tinggi.
Kakak-kakakku punya usaha sendiri walaupun kecil. Karena hanya lulusan SMU
aku cuma bisa bekerja di hotel atau restoran.



Oh ya, aku janda beranak satu, perempuan (4). Dia sangat manis dan cerdas.
Suamiku pergi begitu saja saat aku mengandung 4 bulan. Aku sangat frustasi
dan putus asa waktu itu, karena ternyata dia perpaling ke WIL yang bukan
lain adalah teman lamaku. Hubungan mereka berlangsung di saat teman lamaku
itu kabur dari rumah orangtuanya, dan sementara menginap di rumahku.
Ternyata, diam-diam dia dan suamiku berhubungan. Dan ketika kuminta suami
untuk mengantar dia ke rumah orangtuanya, barangkali saat itulah mereka
langsung "mengikatkan" hubungan.



Beruntunglah, perceraian itu didukung kakakku, bahkan semua biaya hidupku di
tanggung mereka. Semenjak aku masih hamil sampai biaya persalinan, juga
keperluan bayiku bahkan biaya perceraianku mereka yang tanggung. Karena
waktu itu aku tidak punya kemampuan untuk mengurus bayiku, maka ku putuskan
untuk bekerja. Berkat bantuan teman yang bekerja sebagai manager di sebuah
restoran elite di Jakarta, akhirnya aku bisa bekerja di tempat itu. Dengan
berat hati, kutinggalkan bayiku yang cantik itu. Menunggu sebulan untuk
menjenguknya rasanya seperti setahun. Perjalanan 11 jam dari Jakarta
kutempuh setiap bulan untuk menjenguk anakku. Hatiku sangat sakit setiap
kutatap wajah anakku yang lucu. Aku sempat dendam dengan mantan suamiku,
karena dia bukan saja sudah menyia-nyiakan aku tapi juga anakku yang tak
tahu apa-apa.



Setelah 2 tahun bekerja di restoran, aku mulai banyak mengenal orang
termasuk juga para *costumer*. Satu dari costumer asing itu, AN (45), yang
sering rupanya menaruh perasaan terhadapku. Semula aku tidak menggubrisnya,
karena perlakuan buruk mantan suamiku masih membekas dan sampai saat itu aku
masih menganggap kalau semua laki-laki sama. Bahkan sebelum AN pun sudah
beberapa laki-laki yang coba mendekati tapi aku seperti sudah mati rasa.



AN juga duda 2 anak kembar. Dia sangat baik, lembut dan orangnya sangat
simpatik, buat aku dia sempurna.



Setelah 2 tahun kenal dia coba meyakinkaku bahwa dia berbeda dengan lelaki
asing lainnya, dan atas persetujuan kakakku kuterima AN sebagai teman dekat.
Satu bulan setelah jadian, AN datang lagi ke indonesia dan kemudian ke
keluargaku. Dia melamarku dan kami bertunangan.



Setelah tunangan aku tidak diperbolehkan lagi bekerja, dan kuputuskan untuk
tinggal bersama anakku di Jawa. AN menerima aku dan keluargaku apa adanya,
bahkan dia sangatmenyayangi anakku. Buat aku itulah yang terpenting.
Hubungan kami sangat lancar meskipun jarak jauh, kami berkomunikasi lewat
internet dan telpon. Berbagai gosip miring dari tetangga bertebaran setiap
hari, ada yang bilang aku kawinsiri, ada juga yang bilang aku kawin kontrak.
Aku tidak terpengaruh apalagi sedih, karena yang jelas aku tidak melakukan
hal yang dilarang agama. Dan aku tidak melakukan semua yang di
tuduhkan,karena moralku tidak cekak.



Setelah 2 tahun penjajakan, akhirnya kami putuskan untuk menikah. Awalnya
aku ragu karena orang tuanya kurang setuju dengan pernikahan kami. Aku
sangat sadar kenapa ortunya tidak setuju. Aku wanita miskin sedangkan
ortunya AN pengusaha besar di negaranya. Tapi AN tidak perduli dan tetap
ingin menikahiku. Aku pun setuju dengan catatan anakku ikut serta, tinggal
bersama kami di negaranya. Dia setuju tapi nanti setelah segala sesuatunya
selesai, karena untuk mengurus visaku saja sangat rumit. Akhirnya kami
menikah di negaranya, tanpa orang tuanya....



Pernikahan kami belumlah lama, baru 29 desember 2008 kemarin. Hubungan kami
baik saja dan dia pun masih seperti dulu, sayang, pengertian. Kami menempati
apartmen ukuran 260 m²,dan kami bahagia saat ini. Sampai akhirnya datang
masalah di kantornya karena krisis global yang sedang melanda seluruh dunia.
Akhir-akhir ini dia sering uring-uringan nggak jelas, kadang memarahiku
tanpa alasan. Yang lebih parah, kadang dia pulang dalam keadaan mabuk dan
membanting pintu. Padahal dia tidak minum sebelumnya. Sebagai istri aku
selalu coba menghiburnya, karena dia bukan sendirian, banyak perusahaan yang
lebih parah bahkan bangkrut total.



Dan otomatis kondisi keuangan kami pun berubah. Sekarang kami harus irit.
Yang kadang jadi uneg-unegku adalah kenapa semenjak menikah, aku tidak
dipercaya jadi pengendali segala keperluan rumah tangga sebagaimana istri
yang lain? Semenjak menikah belum pernah sekalipun aku di beri banyak uang,
paling-paling uang transport ke sekolah (aku sekolah bahasa, 50 euro/minggu
atau sekitar Rp 700.000/minggu.). Keuangan semua dia yang mengendalikan,
kalau mau belanja pakaian ya aku harus minta dulu. Memang selalu diberi,
segala keperluan juga dia semua yang tanggung. Aku akui memang tanggungan
dia banyak, dia harus kasih tunjangan ke mantan istrinya selama 5 tahun dan
jumlahnya juga sangat banyak. Belum lagi biaya hidup sehari-hari seperti
insurance, sewa apartmen, uang bulanan buat anakku, dan lainnya. Tapi
lama-lama aku bosan kalau harus minta terus. Di samping itu aku tak bisa
nabung buat *savety*. Kalau terjadi sesuatu antara kami? Namanya jodoh
memang siapa yang tahu?



Suatu saat terpikir olehku untuk bekerja di sini. Tapi waktu kusampaikan
niatku itu dia tidak setuju. Katanya aku harus konsen ke sekolahku dulu. Aku
cuma takut terjadi sesuatu yang tak kuinginkan, seperti yang sudah kualami
dulu bersama mantan suamiku. Aku tidak mau limbung....



Uneg-unegku yang kedua adalah hal yang menyangkut anakku. Waktu aku menagih
janjinya untuk membawa anakku ke mari, jawabannya sangat mengejutkan dan
mengecewakanku. Ternyata dia ingkar janji, dia bilang tidak mungkin membawa
anakku ke negaranya. Katanya ada 2 alasan kenapa dia tdk bs membawa anakku.
Pertama, katanya ini menyangkut hubungannya dengan keluarganya, dia tidak
mau orang tuanya tahu kalau aku punya anak.Ternyata dia tak kasih tahu
ortunya kalau aku janda dan punya anak. Kedua, kalaupun bisa, katanya anakku
tak akan bahagia hidup di negaranya. Buatku alasannya itu sangat bodoh,
bagaimana mungkin anakku tidak bahagia tinggal bersamaku, Ibunya?? Meskipun
dia sudah terbiasa tinggal dan sangat dekat dengan kakakku.



Aku cuma bisa menangis setiap lihat foto anakku. Aku merasa tertipu. Aku
merasa sangat berdosa, aku ibu yang bodoh. Kenapa aku selalu jadi korban?
Apakah semua ini karena kebodohanku? Aku sangat mencintai anakku, selama ini
aku lakukan semuanya hanya demi anakku.



Pembaca, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana aku harus bersikap
terhadap suamiku? Karena jujur aku masih mencintainya.... Tapi aku jg sangat
ingin bersama anakku, aku merasa sudah menyia-nyiakan anakku. Aku ingin
selalu bisa memeluknya, menyuapinya dan menemaninya tidur.



Pembaca yang saya hormati, berilah saya saran yang baik dan mohon jangan
cemoohkan saya. Kepada redaksi, tolong jika curhat ini dimuat, alamat saya
dan email jangan diberikan ya? Terimakasih.



Sebagaimana cerita El melalui email.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke