Kafilah 190 juta Oleh: Emha Ainun Nadjib
Kafilah 190 juta Menatap cakrawala Astaga! Kafilah 190 juta Menatap cakrawala Aku sapa mereka dan bertanya: "Gerangan apa yang tampak di cakrawala?" Serempak terdengar jawaban dari mulut mereka: "Jakarta teguh beriman, Yogyakarya berhati nyaman Solo berseri, Semarang kota atlas, Salatiga..." Kafilah 190 juta Betapa, O, betapa Kafilah 190 juta cintaku Bersepakat untuk menempuh Perjalanan yang berjejal-jejal Dan penuh sesak Kulambaikan tanganku dan kutegur : ''Perjalanan macam apakah gerangan yang kalian tempuh, saudara-saudaraku?" Bergema jawaban dari seluruh barisan: "Perjalanan jangka panjang! Perjalanan bertahap-tahap!" Kafilah 190 permata jiwaku Bersepakat untuk mengubah Perjalanan yang sendiri-sendiri Menjadi perjalanan bersama-sama Aku bisikkan ke telinga sebagian mereka: "Bersama-sama duduk dan bersama-sama berdirikah kalian dalam perjalanan bahagia ini?" Dengan berbisik pula sebagian anggota rombongan itu menjawab: "Sebagian dari kami berhak untuk duduk, sebagian yang lain berkewajiban untuk berdiri" Kafilah 190 juta Berderap langkahnya Berderak suara kakinya Lagu-lagu kekompakan mereka bagai hujan Nyanyian kebulatan tekad mereka bagai sejuta akar tunjang menancapi tanah di hutan dan ladang-ladang Tergiur hatiku hendak bernyanyi bersama mereka Sehingga demi menyatukan nada dan irama, kupastikan dulu aransemen dengan bertanya: "Lagu apakah sebenarnya yang kalian dendangkan?" Orang-orang itu menjawab dengan teguh dan tatapan mantap ke depan: "Lagu persatuan dan kesatuan" "Kenapa ada kudengar nada yang agak tidak sama antara satu barisan dengan lainnya?" kataku "Karena sebagian kami menyanyikannya dengan riang gembira, sementara sebagian yang lain melagukannya dengan tangis dan deraian air mata" Kafilah 190 juta Berjuta kaki berjalan Berjuta kaki berduyun-duyun Berjuta kaki berayun-ayun Kepada kaki yang berjalan aku bertanya: "Berapa tahap lagikah perjalananmu akan tiba?" Dengan agak malu-malu kaki itu menjawab: "Kami belum tiba pada jenis pertanyaan itu. Yang kami urus barulah bagaimana mengulur-ulur perjalanan ini tidak dengan hutang demi hutang" Kepada kaki-kaki yang berduyun-duyun aku kemukakan rasa bangga: "Betapa nikmatnya manusia yang membangun!" Tapi mereka menjawab: "Kami belum membangun, kami sedang dibangun untuk dijadikan batu-bata pembangunan" Kepada kaki yang berayun-ayun aku lontarkan rasa cemburu: "Alangkah nyaman mengayunkan langkah ke hari depan!" Tapi yang ini pun menjawab: "Kaki kami terayun-ayun loncat dari tanah, sawah dan kebun kami; sesudah tiba-tiba saja hadir siluman yang membelinya dengan paksa, dengan harga yang mereka sendiri pula yang menentukannya" Kafilah 190 juta Bergemuruh! Bagai putaran baling-baling mesin kemajuan Di tengah barisan demi barisan berderap Di tengah 190 juta langkah berderak Aku berteriak: "Wahai, betapa gegap gempita suara kalian!" Aku mendengar jawaban: "Yang bersuara ini hati kami, sedangkan mulut kami terbungkam!" Aku berteriak: "Wahai, betapa riang gembira perjalanan kalian!" Aku mendengar jawaban: "Tentu saja, karena tangis kesengsaraan sedalam apa pun harus kami ungkapkan dengan penuh keriangan!"... 1993 Emha Ainun Nadjib, Dari Buku "Doa Mohon Kutukan", Risalah Gusti, 1995 [Non-text portions of this message have been removed]
