Kedoknya Tersingkap
Juga<http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2009/06/17/596/Kedoknya.Tersingkap.Juga..>



"Kutinggalkan keluarga demi cinta. Hasilnya? Kesia-siaan."


Saya wanita nonpri. Sedari kecil, saya juga sekolah di lingkungan yang lebih
akrab dengan teman-teman nonpri. Tapi, ketika kuliah, saya justru dekat dan
jatuh cinta dengan Joko. Dia lelaki yang sopan, cukup ganteng, meski miskin
tapi tak pernah terlihat rendah diri. Saya selalu merasa nyaman di
sampingnya.



Tapi cinta saya tak mendapat dukungan keluarga, terutama engkong, yang
sangat sayang dengan saya. Maklum, saya cucu perempuan satu-satunya. Dia
berharap, jika pun menikah, saya mendapatkan lelaki dari kalangan saya, yang
dapat meneruskan usaha keluarga, dan yang utama, tak harus pindah agama.



Tapi cinta adalah segalanya. Saya tak ingin menceritakan betapa beratnya dan
banyaknya airmata yang saya korbankan untuk meninggalkan keluarga dan
kehidupan yang mapan. Singkat kata, saya memilih Joko, keluarganya yang
miskin, dan mengikuti agamanya. Saya menikah di usia 24, dua tahun setelah
selesai kuliah. Saya bawa semua tabungan, dan mengontrak rumah di pinggiran
Yogya.



Joko diterima jadi PNS, dan dia makin cinta kepada saya. Sebagai istri saya
mencoba berbakti, dan bersyukur bahwa saya tak pernah salah pilih.



Saya dengan tabungan, membuka usaha kecil-kecilan, toko onderdil untuk motor
dan mobil. Puji Tuhan, usaha kecil ini berkembang. Dan saya dapat memenuhi
mimpi Joko untuk berbulan madu, dan menginap di hotel-hotel berbintang, di
Jakarta, Bali, dan Lombok. Keluarganya juga saya bahagiakan. Empat tahun
setelah saya menikah itu, dan bulan madu yang luar biasa itu, saya hamil. Di
tahun kelima, saya melahirkan. Saya namakan anak kami yang perempuan itu
Putri Cahaya, karena kehadirannya membuat rumah tangga kami jadi bercahaya
dengan rejeki yang banyak.



Oh ya, pelan-pelan saya juga membeli tanah, membangun rumah, dan membeli
mobil. Atas nasihat Joko, karena saya masih memakai nama nonpri, akta tanah
dan rumah, juga mobil, selalu memakai nama dia. Saya percaya saja. Demikian
juga usaha onderdil yang kemudian berkembang jadi bengkel dan jual-beli
mobil bekas, dinamakan Joko. Meski saya yang mengurus dan mengelolanya,
karena Joko setengah hari masih sibuk sebagai abdi negara.



Tanpa terasa, pernikahan kami sudah memasuki 11 tahun. Anak sudah dua juga.
Usaha makin berkembang. Dan selama itu juga, saya tak pernah lagi
berhubungan dengan keluarga. Bahkan sewaktu engkong saya meninggal, saya tak
diperbolehkan menjenguk dan mencium jenajahnya. Keluarga merasa jijik dengan
saya. Saya terima saja. Saya hanya membuktikan bahwa pilihan saya tidak
salah. Saya senang, bahagia, dan hidup berkecukupan.



Karena itulah, sepintas jika teman-teman atau warga sekitar melihat rumah
kami, pasti tak akan percaya bahwa Joko cuma PNS. Semua pasti tahu bahwa
sayalah yang menopang ekonomi keluarga. Saya yang mati-matian. Karena itu,
jika teman-teman kantor Joko datang, dengan bergurau mereka selalu
mengatakan betapa Joko sangat beruntung mendapatkan saya. Dia lelaki yang
pintar dan saya perempuan yang bodoh. Saya hanya tertawa. Saya tak peduli
dibilang bodoh. Saya hanya tahu kalau saya bahagia.



Tapi, di pernikahan sebelas tahun itu juga saya mulai merasakan ada yang
berbeda dengan Joko. Tiba-tiba dia jadi kasar, dan suka pergi sendiri.
Bahkan, mobil kami jadi hanya dia yang boleh memakai. Saya hanya boleh
memakai motor. Saya mencoba menawar dengan mengatakan ingin membeli mobil
lagi. Tapi Joko marah, dan memegang semua uang tabungan saya, memaksa saya
mencairkannya, dan memindahkan ke buku tabungannya. Kata Joko, saya terlalu
boros dengan uang. Aneh. Kalau boros, dari mana semua kekayaan ini.



Akhirnya, saya mendapat kabar kalau Joko berselingkuh. Saya tak percaya.
Tapi, kekasaran Joko dan kesukaannya pergi sendiri, menimbulkan kecurigaan
saya. Dengan bermain petak-umpet, saya selidiki dia. Dan benarlah, Joko
punya kekasih. Seorang pegawai di sebuah perusahaan asuransi. Saya tanpa
sepengetahuan dia, mendatangi perempuan itu, dan menjelaskan status Joko.
Ternyata, Joko berbohong pada perempuan itu. Dia berkisah kalau rumah
tanggannya berantakan, saya terlalu memonopoli keuangan, merasa paling kaya,
suka menghina Joko, dan tak pernah mau jadi istri yang taat pada suami. Joko
juga bercerita kalau saya sudah tidak pernah mau diajak intim sejak dua
tahun lalu. Sehingga dia merasa tersiksa dan ingin bercerai. Saya menangis.
Saya ceritakan pada perempuan itu yang sebenarnya terjadi. Dan dia tahu
kalau telah jadi korban sandiwara Joko. Dia merasa bodoh dan malu. Saya beri
perempuan itu uang, dan berpindah untuk menghindari Joko.



Di rumah, Joko saya tanyain baik-baik. Tapi saya malah dapat tempelengan.
Dia memaki-maki saya, dan mengusir saya jika merasa sudah tak mampu lagi
mengikuti kehendaknya. Saya terperangah.



Setelah itu, kami nyaris kucing dan anjing. Semua keuangan di rumah dia
kontrol. Pegawai-pegawai di toko dan bengkel segera dia kuasai. Saya tak
punya kuasa apa-apa lagi. Uang belanja pun dia  jatah. Nasib saya sengsara
sekali. Saya selalu menangis tanpa henti.



Ternyata, perilaku Joko ini diketahui keluarga saya. Suatu hari, ibu saya
menelpon, dan mengatatakan bahwa sekarang saya baru menyadari belang suami
saya. Mereka mengatakan itulah akibat menikah dengan kalangan berbeda. Joko
cuma mengincar harta saya. Ibu menyarangkan saya bercerai, membawa
anak-anak, dan mereka akan menerima saya lagi. Tapi jika saya masih dengan
Joko, mereka tidak akan mau tahu dan ikut campur.



Saya yang tidak tahan, mencoba menghubungi pengacara. Saya ingin, jika
bercerai, harta benda saya itu jatuh ke tangan saya, karena memang saya yang
punya. Saya tidak mau jerih payah saya dimakan Joko dan selingkuhannya. Tapi
pengacara mengaku sulit, dan hanya bisa memastikan saya mendapat bagian dari
pembagian harta gono-gini. Dan yang lebih parah, pengacara itu minta 25%
hasil dari pembagian harga itu. Saya merasa serba susah.



Jujur saja, saya sudah tak dapat lagi hidup dengan Joko. 13 tahun pernikahan
ini sudah cukuplah saya alami dengan 2 tahun terakhir penuh penderitaan.
Saya tak ingin anak-anak saya menderita karena kelakuan Papahnya. Saya ingin
bercerai saja, dan kembali pada keluarga besar saya. Tapi saya juga tak
ikhlas menyerahkan semua harta saya kepadanya. Apakah saya masih memiliki
harapan? Apakah ada lembaga yang mau membantu perempuan seperti saya ini?



Cerita Ibu Putri di Yogya


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke