<http://www.facebook.com/note.php?note_id=116004793668#>
Penglaris, katanya jika mau melancarkan rejeki berusaha harus memiliki jimat
atau sesuatu pegangan, benarkah seperti itu apa adanya, bagi sebagian bangsa
Indonesia hal itu adalah suatu yang lumrah, tapi sadarkah bahwa hal itu
termaksud dalam dosa besar dalam islam yaitu menyekutukan Allah.

Urusan klenik, memang sangat sulit dilepaskan dari kehidupan masyarakat
kita. Animisme dan aroma perdukunan masih kental terasa, padahal ajaran
Islam yang menyerukan tauhid sangat bertentangan dengan hal tersebut.
Cobalah tengok salah satunya, tindakan sebagian masyarakat yang mengaku
muslim, mereka menggunakan berbagai jimat demi melariskan barang dagangan
atau melancarkan rezeki. Kocek pun dirogoh dalam-dalam hanya untuk
mendapatkan jimat, yang dipercaya dapat mendatangkan rezeki yang berlebih.

Rezeki oleh Allah telah ditentukan pembagianya ada yang mendapat banyak dan
ada yang mendapat sedikit, disanalah letak kuasa Allah. Allah telah
menentukan kadar rezeki untuk setiap hamba-Nya, di antara mereka ada yang
diberi kelapangan rezeki, sebagian lagi disempitkan rezekinya. Ada yang
kaya, dan ada yang papa. Ada yang berlebih dan ada yang pas-pasan. Rezeki
yang akan diperoleh seorang hamba di dunia ini, semenjak lahir hingga
meninggal dunia telah ditetapkan dan ditentukan sebagaimana tercantum dalam
hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim bahwa Allah ta’ala
telah memerintahkan malaikat-Nya untuk menetapkan empat perkara, dan
diantaranya adalah kadar rezeki seseorang.

Seorang yang menggunakan jimat untuk meraih kekayaan termasuk dalam kategori
yang diharamkan Islam. Banyak pejabat yang mendatangi ‘orang pintar’ (baca:
dukun) untuk membeli jimat agar kekuasaannya langgeng. Di sisi lain, tidak
sedikit para artis mendatangi paranormal (baca: para tidak normal) agar
diberikan jimat sehingga ordernya tidak sepi dan dirinya tetap ‘laku’. Untuk
yang satu ini, salah seorang teman pernah berkomentar, ‘Wah, udah profesinya
merugikan masyarakat, pakai cara-cara yang gak benar lagi’. Jimat pun kerap
digunakan oleh para pebisnis dan pedagang untuk menarik minat konsumen.
Mulai dari ‘wiridan’ (baca: mantra-mantra yang diramu dengan bahasa arab
atau dari sebagian ayat al-Qur’an namun prakteknya tidak dituntunkan dalam
Islam), amalan-amalan yang tidak jelas asal-usulnya (seperti puasa pati
geni, puasa ngebleng, dll) sampai celana dalam pun telah dijajal oleh mereka
yang percaya akan keampuhan jimat dalam melariskan dagangan.

Rezeki hanya diperoleh dengan kerja keras, keuletan dan tawakal kepada Allah
ta’ala, bukan dengan jimat. Beberapa fakta justru membuktikan kegagalan-lah
yang akan ditemui oleh mereka yang bergantung pada jimat. Ada yang ludes
harta bendanya karena telah mengeluarkan duit dalam jumlah yang banyak untuk
memperoleh jimat yang ampuh sementara bisnisnya tak kunjung berhasil. Ada
yang mendatangi dukun untuk memperoleh jimat, namun kebangkrutan yang dia
temui. Bukan dirinya yang kaya, namun dukunlah yang kaya. Kok bisa
kesuksesan dan rezeki dapat diperoleh dengan jimat? Kok bisa orang yang
menggantungkan harapan kepada jimat bisa meraih kesuksesan

"Apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu? Atau
jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka mampu menolak
rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku." Kepada-Nyalah orang-orang
yang berserah diri bertawakal." (QS. Az Zumar [39>: 38)

http://www.facebook.com/note.php?note_id=116004793668#/home.php?ref=home

-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY
----------------------------------
Pengharapan itu sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita
yang telah dilabuhkan sampai kebelakang tabir.

- Terus mengharapkan yang terbaik, maka kita akan menghasilkan yang terbaik.
- Jangan bersungut-sungut tetapi mengucap syukurlah  senantiasa.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke