Pemilu Dan Kedewasaan Rakyat*)

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri



Sebelum pilpres, mengikuti perkembangan pilpres di Iran, banyak di antara
kita yang ketir-ketir. Apalagi dinamika kampanye para kandidat dan tim-tim
sukses mereka begitu luar biasa. ‘Kampanye putih’, ‘kampanye abu –abu’,
hingga ‘kampanye hitam’ keluar semua dari sana-sini.



Namun, alhamduliLlah, pilpres kita kemarin berlangsung aman dan lancar.
Rakyat yang berdatangan ke TPS-TPS terlihat begitu santai dan guyub. Setelah
nyontreng, mereka melanjutkan kegiatan masing-masing seperti biasa. Lalu
mereka secara sendiri-sendiri atau beramai-ramai nonton hasil pencontrengan
mereka di quick count. Bahkan banyak yang nonton bareng sesama penyontreng
yang berbeda pilihan. Mereka tertawa-tawa, kadang-kadang saling ledek
laiknya sesaudara. Lihatlah, betapa dewasanya mereka.



Kalau harus ada yang diacungi jempol dalam pesta demokrasi ini, tidak
diragukan lagi yang pertama-tama berhak kita acungi jempol adalah mereka,
rakyat Indonesia.



Rakyat Indonesia rupanya benar-benar belajar dan menyerap pelajaran dengan
baik. Dengan berkali-kali pemilu dan pilkada, mereka semakin terbiasa dengan
pengamalan demokrasi. Sudah dua kali pilpres, mereka menunjukkan kedewasaan
mereka. Bahkan dibandingkan dengan para pemimpin dan tokoh politik di atas
yang sok demokratis, kelihatannya mereka lebih dewasa.


Mungkin mereka –rakyat Indonesia itu-- belajar juga dari kompetisi sepakbola
dunia yang begitu enak ditonton. Para pemain begitu serius dan
sungguh-sungguh dalam bertanding; masing-masing berusaha dengan segenap daya
untuk mengalahkan lawan. Para penonton juga tidak kalah dahsyat di dalam
menyemangati jago masing-masing. Namun begitu peluit panjang ditiup, para
pemain bersalaman dan berangkulan dengan lawan; bahkan saling bertukar kaos.
Mungkin yang tidak kunjung menyerap pelajaran seperti ini --ironisnya--
justru insan-insan persepakbolaan kita sendiri.


Seperti juga saat selesai pertandingan antara antara dua kesebelasan dunia,
orang-orang –sering kali bersama-sama antara para pendudukung kesebelasan
yang berbeda-- dengan santai melakukan evaluasi. Mengapa ini menang, mengapa
itu sampai kebobolan. Dalam pilpres kali yang menarik mereka bicarakan
adalah dua calon ‘incumbent’: SBY dan JK. Dari sejak mencalonkan diri hingga
menjelang penyontrengan, JK tak henti-hentinya diberitakan berkibar
dimana-mana. Tokoh-tokoh pengusaha, inteletual, dan kiai –bahkan ada yang
secara kelembagaan-- beramai-ramai mendukung dan ikut mengampanyekannya.
Tapi mengapa perolehannya –menurut quick count-- cuma sekian? Tentu tidak
lucu jika kita menyalahkan quick count.


Beberapa pengamat pun melemparkan pendapat. Ada yang berpendapat, JK telalu
mempet waktunya memperkenalkan diri sebagai capres. Ada yang mengatakan
bahwa gaya JK yang ditampilkan, terlalu cepat ; mestinya untuk tahun 2019.
Ada pula yang menyalahkan partainya: golkar. Tentu banyak juga yang
mempertanyakan, kenapa begitu banyak kiai --bahkan ada yang membawa
lembaganya, pesantren atau NU—yang terang-terangan dan dengan tegas
mendukung JK, namun hasilnya seperti tidak ada?


Dalam hal ini, umat rupanya juga benar-benar belajar dan menyerap pelajaran
terutama dari para pemimpin mereka itu sendiri. Selama ini mereka diajari
untuk menyintai ilmu agama dan amal; konsentrasi ke urusan akherat ; tidak
menggandrungi dunia, pangkat, dan kekuasaan; tidak membawa-bawa NU atau
pesantren ke ranah politik praktis. Di lain pihakmereka juga mengamati sepak
terjang para kiai panutan mereka itu. Nah, mereka pun kemudian mendapat
‘ilmu’dan berpikir positif: sepanjang berkaitan dengan ilmu agama, amal, dan
urusan akherat ; mereka akan ikut dan sam’an watha’atan kepada para kiai
panutan mereka itu. Tapi kalau soal dunia, pangkat ,kekuasaan, dan politik
praktis; mereka akan ‘ijtihad’ sendiri. Bahkan tidak sedikit yang sengaja
seperti ‘melawan’ terhadap ketidaksesuaian ajaran panutan mereka dengan
perilakunya, lalu memilih asal bukan pilihan panutannya itu. Maka terbukti;
baik dalam pilkada, pileg, maupun pilpres; kebanyakan calon yang didukung
para kiai --apalagi yang membawa institusi – selalu kalah. Di ranah ini,
dalam hal pengumpulan suara, para kiai seperti tidak mempunyai pengaruh
apa-apa. JK bukan orang pertama yang terkejut dengan hasil yang begitu
jomplang antara perkiraan sebelum pemilu dan hasil sesudahnya. Sebelumnya
sudah ada yang terkejut seperti itu, termasuk para cagub dan cabup.


Demikianlah; apabila rakyat dan umat telah benar-benar belajar dan
mengamalkan ‘ilmu titen’, rupanya tidak demikian dengan kebanyakan para
tokoh pemimpin mereka. Para kiai yang ikut sibuk ngurusi politik praktis,
ternyata tidak kunjung pandai dalam hal satu ini. (Rupanya sulit benar
mereka memahami “khidaa’” dalam “alharb”) . Meki sudah sering berhubungan
dengan umara dan politisi, tetap saja mereka tidak kunjung mengenal tipologi
umara. Demikian pula sebaliknya, banyak umara dan politisi yang tidak
kunjung mengenal tipologi kiai dan peta pengaruhnya.


Ya, rakyat Indonesialah yang cepat belajar dan karenanya tampak kian dewasa
dan arif di hadapan demokrasi. Semoga para pemimpinnya segera belajar dari
kedewasaan dan kearifan rakyat mereka. Mudah-mudahan yang menang tetap
rendah hati dan berpikir: kemenangan adalah amanah dan bukan anugerah;
selalu mengingat janji-janjinya pada saat kampanye. Sementara yang kalah
tetap berjiwa besar laiknya pemimpin bangsa sejati dan berpikir: kekalahan
adalah anugerah dan bukan musibah; mengabdi Indonesia tidak harus menjadi
presiden atau wakil presiden.


Dan akhirnya Indonesia dan rakyat Indonesia akan memetik manfaatnya. Semoga.




Penulis adalah pemimpin Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang.

*) Oleh redaksi Jawa Pos judul ini diganti “Rakyat Sudah Dewasa”


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

-----------------------------------------------***
cara keluar dari milis ini :
kirim email kosong ke [email protected] 
dan REPLY email konfirmasi dari yahoogroups.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke