Kemandirian

Kereta Purbaya mbludag penumpangnya. Ketika itu 'bau' lebaran memang belum
usai. Orang tumpah-ruah sampai ke daerah pintu masuk.  Namun Tuhan Maha
Baik. Saya dapat tempat duduk.

Ada toilet yang tak beres. Air luber sampai keluar sehingga tempat sekitar
sebuah pintu masuk jadi becek dan menjijikkan. Belum lagi 'aromannya'


Disitulah saya berdiri sambil berpegangan daun pintu. Sendirian. sebab orang
lain memilih berdesakan ditempat lain dari pada 'berdomosili' di tempat
seperti itu.


Tetapi pada dasarnya saya tak bersedia untuk terpaksa berdiri selama '6 jam'
dari Yogja ke Jombang. Saya mau berdiri sepanjang perjalanan, tetapi tak mau
terpaksa. Maka saya harus mencari semacam makna atau alasan kenapa
'perjuangan berdiri'  ini mesti saya lakukan. Dengan demikian 'kalu saya
lelah' itu bukanlah kelelahan oleh keterpepetan keadaan, melaikan karena
perjuangan.


Tapi apa makna ? Melatih otot dan ketahanan kaki ? Belajar sabar ?

Menguji stamina ? Memakai keadaan itu untuk mengolah pemikiran tentang
sesuatu  hal, misalkan kenapa khalayak ramai jarang yang ingat bahwa negara
kita punya utang yang luar biasa banyaknya.

Nah, sampai Prambanan, perjuangan saya adalah menentukan apa tema perjuangan
yang sebaiknya saya lakukan.


Kemudian Klatenpun menjelang. Dan saya diperintah oleh seorang Ibu tua untuk
pindah tempat agak ke dalam menjauhi pintu. Kaget saya, tentu saja. Sedang
Bupati Jombang pun belum tentu memerintahkan sesuatu pada saya.


Rupanya Ibu itu mempersiapkan sesuatu. Ia, tampaknya, seorang bakul. Mungkin
ia 'mracang', dan kulakan macam-macam di pasar Beringharjo atau entah
dimana. Ada tiga paruh karung entah berisi apa disandingnya. Beberapa onggok
kayu bakar.


Dua tumpukan kardus. Belum lagi semacam tenggok yang, saya lihat, segera di
gendongnya dengan jarit di punggung.


Tentulah ia akan turun di Klaten.


Saya bilang saya tak usah pindah, nanti saya bantu menurunkan itu semua dari
kereta. Tapi sang Ibu, atau lebih tepat Nenek, begitu acuh tak acuh terhadap
tawaran saya. Ia bersikeras agar meminta saya bergeser ke tengah. Dan
sebelum kereta berhenti, ia lemparkan karung itu satu persatu, juga kardus
dan kayu.


Sedemikian rupa sehingga satu karung sudah ertinggal di sebuah gerbong
terakhir, karung kedua di gerbong tengah dan seterusnya. Baru ketika
kemudian kereta berhenti, ia turun dengan tenggoknya, lantas berjalan
menyusuri rel sebelah menghampiri barang-barangnnya yang tertinggal.



Jelaslah bagi saya, nenek itu sedang menerapkan kemandirian, disetiap detik
dan jengkal  ruang kehidupannnya. Mripatnya yang acuh kepada saya tentulah
sebenarnya berkata, " Kalau memang mau membantu, kenapa cuma menurunkan
barang-barang ini dari kereta ?"


Nenek udik itu memang lebih rasional dan independen dibanding seorang dekan
yang ketika pagi-pagi ia sampai di kantor kerjanya berkata kepada
bawahannya: " ambil kan tas saya di mobil, ini kuncinya !"

Ia juga lebih tinggi derajatnya dibanding sementara pejuang rakyat yang
canggih membikin proposal tentang orang-orang semacam Nenek ini, untuk
diajukan dan ditukar dengan dana milyaran rupiah, dan untuk itu ia peroleh
persentase untuk beli mobil atau peralatan rumah dengan segala
kenikmatannya.

Tapi nenek itu tak akan pernah berkata, " Tak usah menolong saya,. Mulailah
saja selenggarakan keadilan ekonomi sehingga di negeri kaya raya ini tak
usah ada seorang nenek bekerja seperti saya .."


Nenek itu tak akan pernah berkata demikian, meskipun para cendekiawan atau
para pejuang yang mewakili nasibnya juga belum tentu akan berkata demikian.


Emha Ainun Nadjib,

Dari buku "Secangkir Kopi Jon Pakir", Mizan


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke