Peran Kepribadian dalam Profesi Tingkah laku pribadi dan mentalitas seseorang, adalah perihal yang sangat peka dan berefek besar, sebab seluruh hidup kepribadiannya berperan dalam profesinya. Kepentingan pribadi dan ambisinya akan selalu menjadi bayangan dalam setiap langkahnya.
Kepentingan pribadi dan ambisi sering dianggap sebagai hal yang tabu dibicarakan, karena terkesan egois dan bisa membuat citra negatif. Kedua hal ini sering tidak diperhatikan, bahkan dilupakan, dihindari untuk tidak perlu diperdebatkan di muka umum. Padahal, kedua hal ini, sangatlah penting untuk seseorang menjalankan peran dalam keprofesionalannya. Inteligensi dan kebijaksanaan yang sangat diperlukan, terutama dalam interpersonal kompetensi, yang biasanya sangat terbatas, juga keterbatasan dengan pengalaman hidup, serta dalam faktor psikologi. Jika kita menyadari kepentingan pribadi dan ambisi seseorang, adalah hal yang wajar dan bisa dijadikan sebagai papan loncat yang akan melambungkan prestasinya. Maka ketika kita menerima, mengesahkan diri atau seseorang untuk masuk dalam lingkup kerja sama, baik sebagai rekanan apalagi sebagai pimpinan, sudah selayaknya kita menerima penjelasan/penjabarannya tentang kepentingan pribadi dan ambisinya, berkaitan dengan profesinya ini. Pengaruh Kepribadian Hidup di kota metropolitan dengan segala aspek perkembangannya, tentu saja dibutuhkan jurus-jurus jitu supaya kita bisa bertahan dari segala bentuk stresor (faktor pembuat ketegangan). Itu perlu supaya jangan menjadi stres (tegang) dan mampu menyesuaikan (beradaptasi) dari segala tekanan atau stresor tersebut. Supaya kita tidak menjadi distres, di mana kondisi seseorang dalam taraf ini sudah 'sakit' karena tidak mampu lagi beradaptasi dengan keadaan di sekelilingnya, dan akhirnya kepribadian dirinya berubah, seseorang yang kehilangan jati dirinya, karena keadaan yang menekan dan dia tidak mampu beradaptasi dengan keadaan tersebut. Tentu saja era globalisasi, banyak menyumbang perubahan kepribadian seseorang, di mana seseorang dituntut menghadapi, intensitas persaingan yang ketat, volume kerja yang bertambah, beban tanggung jawab yang lebih berat, target kerja meroket. Demikian pula suasana lingkungan kerja berubah dengan pesat. Semua orang dituntut lebih berinovasi. Kualitas sumber daya manusia dituntut optimal. Pasangan, anak-anak yang menuntut untuk diperhatikan. Godaan pergaulan yang sering bertentangan dengan kepribadian yang dimiliki. Jika semua tuntutan di atas tidak mampu diatasi maka akan timbul rasa frustasi, rasa kecewa diri, baik pada diri sendiri, atau terjebak menyalahkan orang lain, ssehingga menimbulkan keluhan fisik maupun psikis dari yang ringan-ringan saja, sampai yang berat, bahkan menjadi penderita depresi terselubung, membuat kepribadian berubah dari murung sampai sadisme. Berdasarkan pengamatan selama ini, jumlah orang yang tidak bisa mengatasi tuntutan globalisasi, semakin hari semakin banyak jumlahnya, itu dibuktikan semakin banyaknya jumlah orang yang mengeluh sakit psikomatik. Misalnya, masalah emosi yang menimbulkan temperamen tinggi dan berakibat menderita penyakit tekanan darah tinggi dari ringan sampai stroke. Masalah perselisihan dengan pasangan hidup yang juga menuntut untuk diperhatikan, demikian juga anak-anak membuat frustasi berat, sehingga menimbulkan penurunan prestasi kerja. Masalah gangguan ereksi (impoten dini) dan berbagai keluhan sejenis, di mana menimbulkan rasa rendah diri dan sikap mudah tersingung, sehingga berakibat terganggunya hubungan antarsesama, baik dalam lingkup ruang kerja atau dengan para klien dan dengan masyarakat pada umumnya. Perubahan kepribadian membuat perubahan juga pada kesejahteraan diri, di mana hal ini bukan hasil usaha orang lain, tetapi murni merupakan usaha diri kita. Seberapa besar usaha yang kita lakukan, akan menentukan seberapa baik dan seberapa cepat kita berjalan, menuju kemampuan menyesuaikan diri dalam tekanan keadaan yang membuat kita berubah kepribadian, yang tentu saja sangat merugikan sikap profesional kita dalam berkarier. Prof Dr dr Dadang Hawari dalam bukunya yang berjudul "Stres, Cemas, & Depresi" Penerbit FKUI, Jakarta 2001 mengemukakan cara-cara untuk mengatasi stresor supaya terhindar dari distres yang bisa membawa bencana, baik terhadap diri sendiri terlebih bagi orang lain dan lingkungan. Dia merekomendasikan untuk melakukan identifikasi dan inventarisasi masalah (stresor), menanggulangi masalah (stresor) secara pragmatis, menyusun skala prioritas, menjabarkan alternatif (pilihan), mengantisipasi risiko serta ambisi jangan menjadi racun. Kebanyakan kita selalu hidup dipenuhi dengan ambisi, walaupun hal itu tidaklah salah! Sebab, hidup tanpa ambisi sama sekali menjadikan kita kosong, tanpa tujuan, dan monoton. Yang menjadi salah serta menimbulkan masalah, adalah kita diperbudak ambisi yang menimbulkan mimpi-mimpi muluk tanpa mau melihat realitas lagi. Keprofesionalan seseorang sering diracun oleh ambisinya sendiri. Sebagai contoh, seseorang yang bercita-cita membangun gedung pencakar langit, tentu saja diperlukan kerja keras untuk membuat dulu pondasinya, agar bangunan kokoh dan aman. Tetapi, seseorang yang hanya dipenuhi ambisi untuk menciptakan/memiliki gedung pencakar langit, dia bisa berbuat di luar nalar, tidak melihat realitas lagi, tanpa memedulikan apakah pondasi untuk cita-citanya tersebut sudah direncanakan dan dibuat sebaik-baiknya? Contoh dalam kehidupan, kita sering kali hanya mengejar apa yang namanya harta benda, kita menimbun sebanyak-banyaknya, tetapi kita lengah untuk belajar bagaimana harta benda itu bisa tetap kita miliki dan bertumbuh dalam segala cuaca kehidupan. Yang terpenting harta itu membuat kita hidup bahagia, bukan membuat susah dan gelisah karena takut dirampok, takut kehilangan dan sebagainya. Demikian juga kepribadian dan ambisi, kita miliki untuk bertumbuh, untuk menapaki jalan perjuang menuju kesuksesan berprestasi. Maka, gunakan kepribadian dan ambisi kita secara positif agar memberi kebahagiaan pada diri sendiri, bukan malah menjadi celaka karenanya. Kepribadian berempati akan memberi kemampuan pada kita untuk dapat menyampaikan pesan dengan cara dan sikap yang akan memudahkan, penerima pesan menerimanya. Oleh karena itu, dalam ilmu pemasaran (marketing) memahami kepribadian/perilaku konsumen merupakan suatu keharusan, sebagai satu 'ilmu' wajib yang dimiliki oleh seorang penjual, jika mau menajdi profesional yang sukses. Kepribadian kita yang dicerminkan, sebagai sikap saling memahami dan mengerti keberadaan orang lain dalam orentasi kerja kita. Rasa empati yang dicerminkan mengerti akan perasaan orang lain, akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun jaringan kerja. Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif, atau siap menerima masukan atau pun umpan balik apa pun dengan sikap yang positif. Sebab, inilah yang dapat membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dan saling menguatkan. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan, apalagi kritik dari orang lain. Dan jika kita mempertahankan sikap kepribadian yang demikian dalam profesi, jaringan hubungan kerja dengan orang lain akan rusak, dan tentu saja akhirnya kita kandas, karena kepribadian dan ambisi sendiri. Sumber: Peran Kepribadian dalam Profesi oleh Lianny Hendranata [Non-text portions of this message have been removed]
