Rasanya Baru Kemarin Oleh: KH. A. Mustofa Bisri
Rasanya Baru kemarin Bung Karno dan Bung Hatta Atas nama kita menyiarkan dengan seksama Kemerdekaan kita di hadapan dunia. Rasanya Gaung pekik merdeka kita Masih memantul-mantul tidak hanya Dari para jurkam PDI saja. Rasanya Baru kemarin. Padahal sudah enam puluh tahun lamanya. Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa Sudah banyak yang turun tahta Taruna-taruna sudah banyak yang jadi Petinggi negeri Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi. Rasanya Baru kemarin Padahal sudah lebih setengah abad lamanya. Petinggi-petinggi yang dulu suka korupsi Sudah banyak yang meneriakkan reformasi. Tanpa merasa risi Rasanya baru kemarin Rakyat yang selama ini terdaulat sudah semakin pintar mendaulat Pejabat yang tak kunjung merakyat pun terus dihujat dan dilaknat Rasanya baru kemarin Padahal sudah enam puluh tahun lamanya Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh Padahal pembangunan badan yang kemarin dibangga-banggakan sudah mulai runtuh Kemajuan semu masih terus menyeret dan mengurai pelukan kasih banyak ibu-bapa dari anak-anak kandung mereka Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi Masih terus menutup mata banyak saudara terhadap saudaranya Daging yang selama ini terus dimanjakan kini sudah mulai kalap mengerikan Ruh dan jiwa sudah semakin tak ada harganya Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan para penguasa berlaku sewenang-wenang kini sudah pandai menirukan Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya Semakin bertambah besar pengaruhnya Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda Kepentingan sendiri dan golongan sudah semakin melecehkan kebersamaan Rasanya Baru kemarin Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka. Pahlawan-pahlawan idola bangsa Seperti Pangeran Diponegoro Imam Bonjol, dan Sisingamangraja Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam dan Kura-kura Ninja Banyak orang pandai sudah semakin linglung Banyak orang bodoh sudah semakin bingung Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan Rasanya Baru kemarin Tokoh-tokoh angkatan empatlima sudah banyak yang koma Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah banyak yang terbenam Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya sudah banyak yang tak jelas maunya Rasanya Baru kemarin (Hari ini ingin rasanya Aku bertanya kepada mereka semua Sudahkah kalian Benar-benar merdeka?) Rasanya Baru kemarin Negeri zamrud katulistiwaku yang manis Sudah terbakar nyaris habis Dilalap krisis dan anarkis Mereka yang kemarin menikmati pembangunan Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri Sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri Mereka yang kemarin sudah terbiasa mendapat kemudahan Banyak yang tak rela sendiri kesulitan Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum Rasanya baru kemarin Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka Mahasiswa-mahasiswa yang penjaga nurani Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni Para oportunis pun mulai bertampilan Berebut menjadi pahlawan Pensiunan-pensiunan politisi Sudah bangkit kembali Partai-partai politik sudah bermunculan Dalam reinkarnasi Rasanya Baru kemarin Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik Rasanya Baru kemarin Tokoh-tokoh orde lama sudah banyak yang mulai menjelma Tokoh-tokoh orde baru sudah banyak yang mulai menyaru Rasanya Baru kemarin Pak Harto yang kemarin kita tuhankan Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri Atau lenyap seperti disembunyikan bumi Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan Oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan Rasanya baru kemarin Habibie dan Gus Dur sudah mencoba sebentar Menduduki kursi kekuasaan yang terlantar Megawati yang mendapat giliran dan sudah berusaha Sekuat tenaga gagal memperpanjang kuasa SBY yang menggantikan kekuasaan Terus dicoba cobaan demi cobaan Jusuf Kalla sudah menggantikan Hamzah Haz di istana Sambil menggantikan Akbar Tanjung di Golongan Karya Saifullah Yusuf dan Alwi Syihab sudah menjadi menteri Meski berbuntut pertikaian dalam partai sendiri Tokoh-tokoh KPU yang dituding sering memperlihatkan arogansi Malah banyak yang menjadi terdakwa kasus korupsi Mantan-mantan calon dalam pilpres dan pilkada Banyak yang masih tak bisa menerima kenyataan yang ada Banyak yang demam pesta demokrasi Ternyata belum bisa menghayati demokrasi Rasanya baru kemarin Partai-partai politik sudah menjadi rebutan Para pemimpinnya sendiri yang melihat kesempatan Tanpa peduli warga mereka yang rentan Ormas-ormas pun banyak yang seperti tak tahan Melihat iming-iming kekuasaan Rasanya baru kemarin Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur Bahkan rakyat tak perlu lagi berkelahi dan memperkaya diri Karena wakil-wakil mereka sudah mewakili dengan baik sekali Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta Kini sudah pandai menembakkan kata-kata (Hari ini ingin rasanya Aku bertanya kepada mereka semua Bagaimana rasanya Merdeka?) Rasanya Baru kemarin Padahal sudah enam puluh tahun kita Merdeka. Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali Mereka yang kemarin dijarah Sudah mulai pandai meniru menjarah Mereka yang perlu direformasi Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi Mereka yang kemarin dipaksa-paksa Sudah mulai berani mencoba memaksa Mereka yang selama ini tiarap ketakutan Sudah banyak yang muncul ke permukaan Mereka yang kemarin dipojokkan Sudah mulai belajar memojokkan Mereka yang kemarin terbelenggu Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupa Sudah mulai banyak yang lupa Rasanya baru kemarin Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua Tentang makna merdeka Rasanya baru kemarin Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri Hanya dengan meludahkan kata-kata Rasanya baru kemarin Dakwah mengajak kebaikan Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan Dialog dan diskusi Sudah digantikan peluru dan amunisi Rasanya baru kemarin MUI yang didirikan untuk mendukung rezim lama Kini sudah mencoba menjelma orsospol ulama Pendukung-pendukung Islam Sudah semakin berani mencemari Islam Masyarakat Indonesia yang berketuhanan Sudah banyak yang kesetanan Bendera merahputih yang selama ini dibanggakan Sudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian Aceh semakin merana Ambon dan Papua terus terlena Bangsaku yang sejak dulu dipuja-puja Kini selalu dihina-hina Rasanya baru kemarin Orangtuaku sudah lama pergi bertapa Anak-anakku sudah pergi berkelana Kakakku dan beberapa kawanku sudah berhenti menjadi politikus Aku sendiri masih tetap menjadi tikus (Hari ini setelah enam puluh tahun kita merdeka ingin rasanya aku mengajak kembali mereka semua yang kucinta untuk mensyukuri lebih dalam lagi rahmat kemerdekaan ini dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani diri sendiri bagi merahmati sesama) Rasanya baru kemarin Ternyata sudah enam puluh tahun kita Merdeka (Ingin rasanya aku sekali menguak angkasa dengan pekik yang lebih perkasa: Merdeka!) Rembang, 17 Agustus 2005 Penulis adalah pemimpin Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang. [Non-text portions of this message have been removed]
