I'tikaf
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri


Salah satu ibadat yang tak begitu berat, yang sangat dianjurkan dan besar
sekali pahalanya adalah I'tikaf, orang hanya perlu masuk dan berdiam diri di
mesjid- menurut ulama fiqih, sebentar pun jadi- dengan niat mendekatkan diri
kepada Tuhan.



Beri'tikaf di mesjid, bertafakur mendekatkan diri kepada Allah merupakan
mendekatkan diri kepada Allah merupakan salah satu kelanggengan Nabi dan
para Mukmin pendahulu kita, umumnya di bulan Ramadhan. Mereka bahkan nabi
yang begitu dekat dengan Allah, memerlukan beri'tikaf disela-sela kegiatan
keseharian yang rata-rata masih dalam lingkup ibadat. Seringkali bahkan
mereka menetap beberapa lama di mesjid, sehingga harus dikirimi
makanan olehkeluarga mereka. Terutama di sepuluh hari terakhir
Ramadhan, Nabi saw.-
sebagaimana diceritakan oleh istri beliu sendiri, Sayyidatina Aisyah-
mengkhususkan waktu untuk beri'tikaf dimesjid.


Boleh jadi di zaman sibuk dan modern ini, beri;tikaf terasa tidak popular.
Bagaimana di dunia yang bersemboyan waktu adalah uang' begini, orang sudi
meluangkan waktu untuk berdiam di mesjid seperti pengangguran? Bahkan
menganjurkannya saja mubaliq pun kayanya sungkan.


Namun, bukankah justru di zaman dimana aktifitas kejasadan dan kebendaan
mendominasi kehidupan seperti sekarang, kita sangat memerlukan paling tidak
sesekali meliburkan diri dari kerutinan pemanjaan jasad. Memberi bagian
rohani kita untuk berkomunikasi sendiri dengan Al-Khaliq, menyerap cahaya
dari Nur-Nya yang agung bagi kepentingan janji pertemuan kita kelak
dengan-nya.


Ya, sejenak dalam kehidupan keseharian-disela-sela kesibukan memakmurkan
bumi- berdiam diri dirumah Tuhan, bertakafur dan bersendiri dengan Tuhan,
agaknya sangat kita perlukan. Sungguh tidak masuk akal bila untuk perjalanan
singkat, rencana cermat kita buat, segala daya, pikiran dan waktu kita
kerahkan untuk membekalinya; sementara untuk perjalanan panjang
mengahadap-Nya, kita tidak mengambil kesempatan apa saja yang kita harapkan
dapat membantu mempermudah dan memperlancarnya.



Bukankah kita perlu pengenalan, syukur keakraban, yang cukup terhadap. Siapa
kita kelak menghadapnya? Ataukah kita tak peduli kita tak dianggap atau
diabaikan-Nya.[]



Penulis adalah pemimpin Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke