Idul Fitri "atawa" Lebaran

*Oleh: KH. A. Mustofa Bisri*



Hari Idul Fitri di Indonesia mungkin berbeda dengan Idul Fitri di
negeri-negeri lain. Di Indonesia terasa lebih meriah bahkan dari hari raya
Kurban yang sering disebut juga hari raya Akbar.



Di Indonesia, Idul Fitri juga sering disebut Lebaran. Perayaannya tak cukup
hanya sehari. Di beberapa daerah orang merayakannya hingga sepekan. Bahkan,
bila kita hitung acara-acara halalbihalalnya, bisa sebulan penuh.



Eloknya lagi, hari Idul Fitri di Indonesia tidak hanya dirayakan oleh kaum
Muslim, tetapi melibatkan hampir seluruh masyarakat.



Indonesia dan Mesir



Sebagai perbandingan, Idul Fitri di Mesir. Pemandangan di sana hanya orang
ramai melakukan shalat id, lalu rombongan keluarga-keluarga berpiknik
mengunjungi taman-taman atau kebun binatang untuk makan bersama.



Di Indonesia, setelah melakukan shalat id, masyarakat melakukan silaturahmi,
saling mengunjungi, dan bermaaf-maafan. Untuk yang terakhir ini, bahkan
dilakukan oleh mereka yang sengaja datang dari tempat-tempat yang jauh,
terutama perantau yang sekalian mudik meninjau keluarga. Kebiasaan
silaturahmi ini tidak hanya dilakukan antarkeluarga, tidak hanya antarkaum
Muslim, tetapi juga antar-RT, RW, instansi, dan lainnya.



Tampaknya, di hari raya ini, dada orang-orang terasa lebih lapang. Orang
yang paling keras sekalipun, dalam suasana Lebaran, tiba-tiba mudah meminta
maaf dan memaafkan. Hal ini boleh jadi karena bagi kaum Muslim khususnya,
ada rasa plong, terlepas dari dosa-dosa hasil ketulusan mereka berpuasa
selama satu bulan.



Memang ada hadis Nabi SAW yang menyatakan, "barangsiapa berpuasa di bulan
Ramadhan semata-mata karena iman dan hanya mengharap ganjaran Allah, orang
itu akan diampuni dosanya yang dilakukan sebelumnya".



Namun, kesalahan yang dilakukan manusia bisa kepada Tuhan, bisa juga kepada
sesama hamba, dan ini rupanya amat disadari para pendahulu kita yang
mula-mula mentradisikan silaturahmi Lebaran. Dengan asumsi dosa-dosa kita
yang langsung kepada Allah telah diampuni oleh-Nya, bukan berarti semua dosa
telah tuntas diampuni.



Ada dosa-dosa lain yang—paling tidak menurut saya—lebih gawat dan sulit,
yaitu dosa-dosa kepada sesama. Jika dicermati, sebenarnya pergaulan dengan
Allah jauh lebih enak ketimbang dengan manusia. Allah Maha Pengampun. Dosa
kita kepada-Nya, sebesar apa pun jika disesali dan kita mohonkan ampun, akan
diampuni-Nya. Lembaga pengampunan-Nya banyak sekali. Beristigfar; menghapus
dosa; bersembahyang menghapus dosa; berpuasa menghapus dosa; berbuat baik
menghapus dosa; dan banyak lagi.



Berbeda dengan manusia. Salah sedikit marah, bahkan sering kekhilafan yang
tidak disengaja pun sulit dimaafkan. Untuk meminta maaf atau memaafkan,
orang memerlukan timing tertentu seperti Lebaran ini.

Anehnya, terhadap Allah Yang Begitu Baik, kita justru begitu berhati-hati,
bahkan sering berlebihan hingga menimbulkan waswas atau menimbulkan masalah
di antara kita. Sementara terhadap sesama manusia yang sulit, kita sering
sembrono dan seenaknya. Padahal, banyak dalil naqli yang menyebutkan
gawatnya dosa antarsesama.



*Menghormati sesame*



Imam Muslim (817-865 M), misalnya, meriwayatkan sebuah hadis yang bersumber
dari sahabat Abu Hurairah (w 676 M), sebuah hadis perlu direnung-perhatikan.
Suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, "Atadruuna manil
muflis?" "Tahukah kalian siapa itu orang yang bangkrut?"



Para sahabat menjawab, "Pada kita, yang namanya orang bangkrut adalah orang
yang tak punya lagi uang dan barang."



Rupanya bukan itu yang dimaksud Rasulullah SAW. Beliau bersabda,
"Innal-muflisu min ummatii man ya'tii yaumal qiyaamah bishalaatin…."
"Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang di
hari kiamat membawa shalat, puasa, dan zakat, sementara sebelumnya dia telah
mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, memukul
ini. Maka kepada si ini diberikan dari ganjaran kebaikan-kebaikan orang itu
dan kepada si itu diberikan dari ganjaran kebaikan-kebaikannya. Apabila
habis ganjaran kebaikan-kebaikan orang itu sebelum semua tanggungannya
terlunasi, maka akan diambil dosa-dosa mereka yang pernah disalahinya dan
ditimpakan kepadanya, kemudian orang itu pun dilemparkan ke neraka."
Nauzubillah.



Hadis ini dengan jelas mengingatkan, kita tidak boleh hanya mengandalkan
amal ibadah ritual, sementara secara sosial kita tidak berlaku hati-hati
terhadap sesama. Tidak sedikit di antara kita orang tertipu, tanpa sadar,
karena telah bersembahyang, berpuasa, berzakat, dan berhaji, merasa diri
sudah dekat dengan Allah, bahkan ada yang keterlaluan merasa diri wakil-Nya,
lalu seenaknya memperlakukan sesama hamba Allah. Dengan mudah mencaci maki,
memukul, menuduh, melukai, merampas hak, dan berlaku sewenang-wenang
terhadap sesama.



Banyak yang lupa, penilaian terakhir orang pantas disebut hamba saleh yang
mendapat rida Allah dan memperoleh surga, semata-mata ada di tangan Allah.



Menurut firman-Nya dalam Al Quran, manusia diciptakan bersuku-suku dan
berbangsa-bangsa agar saling mengenal dan menghormati. Yang paling mulia di
antara mereka di sisi-Nya ialah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Dan
siapa yang paling takwa, hanya Allah yang mengetahui. Bukan kita.



Nah, tradisi Lebaran yang khas di negeri kita ini sudah sepatutnya dicerdasi
sebagai sesuatu yang memiliki nilai lebih. Lebaran untuk melebur dosa kita
terhadap Allah sekaligus terhadap sesama. Dengan demikian, bisa diharapkan
diri-diri kita menjadi kembali bersih dari segala dosa. Kembali ke fitrah,
untuk kemudian berusaha menjaga kebersihannya dengan menjaga pergaulan dan
hubungan baik kita, baik dengan Sang Pencipta maupun dengan sesama
hamba-Nya.



Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin!



A Mustofa Bisri *Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar Raudlatut
Thalibin, Rembang, Jawa Tengah*


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

-----------------------------------------------***
cara keluar dari milis ini :
kirim email kosong ke [email protected] 
dan REPLY email konfirmasi dari yahoogroups.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke