Pekerjaan Agama

Oleh: Emha Ainun Nadjib



Saya bersama teman-teman menyimpulkan bahwa yang dimaksud pekerjaan Agama
bukan hanya sembahyang, puasa, zakat dan haji, melainkan juga mandi, makan
yang tepat , berangkat ke tempat kerja mencari nafkah untuk anak istri,
menolong siapa saja yang perlu ditolong, bikin koperasi partikelir,
menghimpun tukang-tukang ojek dan pedagang kakilima, dan seterusnya.


Itu semua adalah pekerjaan Agama, alias menjalankan perintah Tuhan. Termasuk
juga menyelenggarakan perkumpulan bulanan bersama puluhan ribu
sahabat-sahabat sebangsa untuk saling mensinergikan kemampuan ekonomi,
mencerahkan hati, menata pikiran, memperluas wawasan nasional, serta
mengungkapkan apa adanya apa kandungan hati kami tentang kepemimpinan
nasional yang berjasa menciptakan kegelisahan-kegelisahan. Itu semua adalah
pekerjaan Agama.


Dan karena pekerjaan Agama, maka teman-teman saya yang lain, yaitu para
pejuang sosial modern di kota-kota, menganggapnya tidak progresif, tidak
kritis, tidak ada hubungannya dengan demokrasi. Maka hanya kami sendiri yang
menikmati manfaatnya, padahal kehidupan kami tidaklah untuk kami sendiri,
melainkan untuk saudara-saudara sebangsa dan setanah air. []


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke