Aq turut prihatin. Bercerai adalah hal yg dmurkai Allah,walaupun dbolehkn klo 
alasanny ada n bisa dprtanggungjwbkn. Sy yakin ibu orang yg baik n brbakti u 
suami.disaat awal mmutuskn menikah pastiny sgala hal kburukan yg mngkn muncul 
adlh tnggjwb pasanganny u mngingatkn. Allah tahu jika perjuangan anda dgn 
ketulusn n k'ikhasan.dan psti ada ptunjuk.smga dberi ksabaran. Saran sy 
bantu suami ibu dg mmbawa ke psikiater,sy turut mndoakan bisa 
dprbaiki.salam-dira-

Ananto Pratikno wrote: 
>    
>                   Suamiku Berkelainan Jiwa 
> Bukan hal yang mudah untuk meyakinkan orang tuaku bahwa Tomi adalah pria 
> yang baik dan bertanggung jawab serta layak menjadi suamiku. Sayang, tiga 
> tahun perkenalan batin itu, ternyata tak mampu menampakkan sisi iblis dari 
> Tomi. Aku merasa terpedaya. 
> Tomi berusia 29 tahun, sedangkan aku, Gita, istrinya, berusia setahun lebih 
> muda. Kami sama-sama bekerja di perusahaan swasta, Tomi sebagai tenaga 
> marketing sedangkan aku sebagai sekretaris. Berangkat dan pulang kerja kami 
> selalu berbarengan, namun adakalanya kami tidak bisa pulang bersama, karena 
> Tomi lembur atau sebaliknya, aku yang lembur. 
> Hubungan sebagai suami istri antara aku dan Tomi sangatlah harmonis, kami 
> jarang sekali bertengkar. Kami saling mempelajari karakter masig-masing dan 
> kemudian berusaha memahaminya. Tomi juga sangat sayang kepadaku, seringkali 
> rasa sayangnya ditunjukkan dengan mengirimi aku sms-sms mesra. 
> Hingga suatu hari, Ratna tetangga depan rumah, bertandang menemuiku untuk 
> mengajak berpatisipasi dalam arisan RT. Kami duduk di teras rumah, sementara 
> Tomi juga berada di sekitar kami, di halaman rumah sedang memotong rumput. 
> Tomi menyapa ramah Ratna dan mempersilakan untuk masuk dan duduk di ruang 
> tamu, tapi Ratna memilih duduk di teras bersamaku. 
> Selama berbincang dengan Ratna, kami tidak memperhatikan Tomi, tapi mendadak 
> Ratna kaget  dan berseru kecil seraya menarik roknya lebih ke bawah. Sontak 
> mataku melihat arah mata Ratna, ternyata Tomi suamiku sedang jongkok di 
> bawah tepat di depan Ratna dengan pura-pura menggunting rumput namun matanya 
> nanar melihat ke tengah-tengah paha Ratna. Ratna berdiri dan langsung 
> berpamitan kepadaku tanpa menoleh ke arah Tomi. Malu dan marah aku 
> dibuatnya. Kukatakan bahwa apa yang dilakukannya sungguh tidak sopan dan 
> kurang ajar sekali, Tomi hanya tertawa. "Aku minta tadi kalian masuk ke 
> ruang tamu, tapi tak mau. Sekarang, karena dia yang duduknya tidak sopan, 
> malah aku yang disalahkan," kilahnya. 
> Aku agak memahami juga alasannya. Mungkin dia tadi sudah tahu kalau Ratna 
> dan aku duduk di situ, dan dia memotong rumput di bawah, akan terlihat paha 
> Ratna. Ya, kami yang memang tak menyadari permintaannya tadi. Aku pun cepat 
> melupakan peristiwa itu. 
> Sebulan berselang, saat aku sudah melupakan kejadian memalukan itu, kami 
> berdua belanja di supermarket dekat rumah, kami pisah rak, aku berada di rak 
> daging sementara Tomi mencari minyak dan pewangi baju. Mendadak aku 
> dikejutkan oleh teriakan nyaring seorang perempuan disertai makian panjang 
> dan keras. Seisi supermarket menoleh untuk melihat apa yang terjadi termasuk 
> aku. Ternyata Tomi, suamiku, sedang ditampar seorang perempuan cantik yang 
> mengenakan pakaian tanktop seksi. 
> Kutanyakan pada perempuan seksi itu apa yang telah dilakukan Tomi. Ternyata 
> Tomi telah memandang nanar ke belahan dadanya dan terus mengikutinya 
> belanja, hingga  tiba-tiba Tomi mengulurkan tangan untuk memegang belahan 
> dadanya. Mendengar semua itu, langsung kutampar Tomi di hadapan perempuan 
> itu juga di hadapan para pengunjung supermarket dan segera kutinggal pergi. 
> Tomi menyusulku pulang dan duduk berdiam diri selama berjam-jam.di kursi 
> tamu, sedangkan aku hanya menangis dengan perasaan malu sedih, marah yang 
> semuanya bercampur aduk jadi satu. 
> Pada akhirnya aku menganggap Tomi mempunyai kelainan kejiwaan, karena 
> matanya memang tak pernah bisa lepas dari tubuh perempuan. Kemanapun kami 
> pergi Tomi tetap membelanjakan matanya dan hal itu tak bisa dicegah bahkan 
> olehku sekalipun. Lama kelamaan aku tidak kuat dengan kelakuan anehnyanya 
> tersebut. Aku merasa Tomi sudah tidak menghargaiku sebagai istrinya. Tetapi 
> di luar kebiasaan buruknya itu, sebenarnya Tomi adalah suami yang baik. Tapi 
> mana bisa tahan aku hidup dengan suami yang matanya keseringan belanja? 
> Nah, dalam situasi itu, aku dekat dengan teman kantor, Mas Noval. Kedekatan 
> itu semula biasa. Dia memang baik, dan acap memuji kalau tubuhku bagus dan 
> kakiku seksi. Aku tertawa saja dengan ucapannya itu. Tapi, setelah aku 
> menikah, dan Tomi begitu, acap memelototi perempuan lain dan tak pernah 
> memujiku, pujian dari mas Noval membuat dadaku kini bergetar. Aku jadi suka 
> kalau dia memandangku, lama, dan kemudian memujiku. Karena itu, kadang aku 
> pun berpakaian agak ketat hanya untuk mendapatkan pujiannya. Aku merasa hal 
> itu semacam balas dendam pada Tomi. Dia selalu memuji perempuan lain, tapi 
> dia tidak tahu bahwa lelaki lain justru mengagumi dan memuji istrinya. 
> Kedekatanku dengan Noval ternyata ibarat bara bagiku. Aku begitu ketagihan 
> akan pujian dan tatapan matanya. Karena itu, ketika dia memuji dan bahkan 
> sesekali menyentuhku, kubiarkan saja, meski kadang aku berpura marah. Tapi 
> kelanjutannya ternyata panjang. Aku merasa diperhatikan dan mendapatkan 
> penghargaan. Akhirnya bisa diduga, aku terhanyut, dan mengikuti gejolak 
> asmaranya. Tapi apa yang terjadi, ketika hampir asmara itu tak tertahan, aku 
> tersadarkan. Mas Noval ternyata juga terobesesi pada tubuhku. Dia menciumi 
> betisku, dadaku, sembari mendesis-desis, memegang dadaku keras-keras. Aku 
> kaget, karena hal itu mengingatkan aku pada kelakukan Tomi. Gairahku pun 
> hilang, dan tak terjadilah perzinahan itu. Ternyata, Mas Noval adalah Tomi 
> dalam bentuk yang lain. Untunglah, aku tak sampai termakan oleh lelaki yang 
> sama. 
> Kini, aku merasa jijik dengan Tomi, dan tak mau meladeninya lagi sebagai 
> istri. Dia memang berjanji berubah, dan berhariu-hari hanya dari kantor dan 
> rumah, tak pernah mau ikut ke mal. Tapi, kalau kami ke luar, tiap ada 
> perempuan cantik, pasti dia komentari. Dia selalu minta maaf, dan merasa 
> tersiksa. Tapi aku entah kenapa, merasa dia tidak sungguh-sungguh berubah. 
> Apa yang harus aku lalukan? Bisakah Tomi berubah? Benarkah itu kelainan jiwa 
> dan tak bisa disebuhkan? Apakah aku harus bercerai? 
> Cerita Mita kepada redaksi 
> [Non-text portions of this message have been removed] 
>      



      

Kirim email ke