Cinta dan Amor



*Saidi A. Xinnalecky**

/*) Wartawan/



Vamos, acorda meu amor, que é curta a hora! ...

/Relembra, oh desvairado amor,

cantigas e cantares que te disse

lá bem distante ao nosso abraço débil

o quanto te queria e com que ímpeto?

Portanto acorda, amor, que vai raiando a aurora!

Desperta, meu amor, que é curta a hora! /



(Gegaslah, tegaskan sayangku, kini saatnya! ...

Lihatlah, kekasih yang jauh,

Para penyanyi dan nyanyiannya selalu tentang itu

Sebaiknya jarak dan kerenggangan dienyahkan

Bilakah keinginan dan kebersamaan seiring?

Pastikan, sayang, untuk bersama wujudkan impian!

Tegaskan, sayangku, kini saatnya!)



*Celina Bittencourt*



Portugal adalah tanah penyair. Demikianlah pengakuan dalam buku-buku

sastra Portugis. Negeri kecil dengan penduduk 10 juta itu, dalam dunia

kepenyairan, melebihi luas sesama negeri Semenanjung Iberia, Spanyol.

Alfonso X (1221-1284), Raja Castilia dan Leon, membuat sejarah panjang

tentang produk dan risalah hukum dalam bahasa Spanyol, tetapi menulis

puisi tidak bisa tidak menggunakan bahasa Portugis.



Bila kata amor ditebar dengan sastra Portugis, Pulau Timor pun akan

bersemi. Terakhir, saat perayaan hari referendum Timor Leste, 30 Agustus

lalu, adalah penyanyi Krisdayanti yang membuat media menyebut-nyebut

kata amor, meski sebelumnya media di Indonesia tentu saja sudah mengenal

kata amor dari ratusan, bahkan ribuan, karya sastra dan judul Amor atau

yang menggunakan kata amor. Dalam bahasa Indonesia, bisa diartikan:

cinta, kasih, sayang.



Amor memang selalu menjadi tema sentral korpus sastra Portugis sejak

para penulis dan penyair klasiknya hingga kini. Penulis, penyair, dan

pelukis renta Brasil, Celina Bittencourt, 81 tahun, adalah salah satu

penerus keasyikan sastra Portugis, bila mengurai cinta. Penggalan bait

terakhir dari puisinya, ”Acorda, Meu Amor” (Tegaskan, Sayangku), tadi

meneruskan puisi-puisi cinta sejak Luís Vaz de Camões (1524-1580)

dan—seteru sejarahnya—Fernando Pessoa (1888-1935), sampai penyair

kontemporer Alexandre Manuel O’Neill (1924-1986) dan Nuno Júdice, yang

cemerlang pada 1972.



Kendati novel atau karya sastra lainnya dan kepingan rekaman lagu-lagu

dari penyanyi legendaris Portugal, Reberto Carlos (1960-an), sampai

kelompok pemusik Flor-de-lis, Semi-Final (1) Eurovision Song Contest

2009 (Song title: Todas As Ruas Do Amor), tentang Amor dan/atau Meu

Amor, tak banyak—bahkan tidak beredar—di Indonesia, tetapi KD telah

membuatnya menjadi nomenklatur cinta yang kian ramai digunakan khalayak.

Kebetulan pula, penyanyi muda Ridho Rhoma Irama merilis sebuah lagu

berjudul Dewa Amor.



Persoalannya muncul ketika amor menjadi populer atas pilihan makna yang

dialami oleh orang-orang yang menggunakan kata itu untuk mengekspresikan

cinta mereka. Dalam perspektif tertentu, memang maknanya bisa dipahami

secara umum (common sense), seperti penggunaan kata cinta dan sayang

dalam bahasa Indonesia. Tetapi, dalam maknanya yang genuine, baik

denotatif maupun konotatif, dalam bahasa Portugis ataupun Latin, terasa

ada nuansa yang tegas memilah maknanya. Dengan kata lain, kata amor

telah mengalami salah kaprah saat digunakan dalam bahasa Indonesia.



Denotasi amor adalah ”cinta”, ”sayang”, atau ”kasih”. Secara konotatif

biasa digunakan bahasa Portugis kepada seseorang yang telah tertaut hati

dengan lawan jenisnya dengan jalan setia, tanpa perselingkuhan ataupun

pengkhianatan. ”Minha namorado” (kira-kira bermakna: pacarku) akan

terasa lebih pas, jika bermaksud menunjukkan seorang kekasih dalam masa

pacaran. Setelah tahapan pacaran, baru ada ungkapan ”meu amor”. Pada

tahap ini, dua insan tersebut telah serius menyatukan cinta untuk

menikah atau berumah tangga, seperti dilukiskan oleh Celina Bittencourt

tadi. Mereka berdua selanjutnya akan disebut sebagai noevo e noeva

(calon pengantin laki dan perempuan).



Seorang istri yang sah akan berkata bahwa dia yang seharusnya berkata

”meu amor” kepada suaminya, bukan perempuan lain, meski—perempuan lain

itu—sedang dilanda asmara terhadap suaminya. Perkara ini tidak

menyangkut hubungan cinta, an sich. Tetapi juga soal religio-kultural.



Penyair Portugis, Alexandre Manuel O’Neill (1924-1986), dengan tepat

melukiskan mereka yang jatuh cinta kepada anggota casamento lain itu

dengan:



    ada kata-kata yang mencium kita

    seolah memiliki mulut

    kata-kata cinta, harapan, cinta yang dalam, harapan yang gila

    kata-kata telanjang yang kau cium

    saat malam kehilangan wajahnya;

    kata-kata yang saling menolak

    pada dinding-dinding kesedihanmu



Dalam bahasa Portugis, tidak pada tempatnya ungkapan ”meu amor” keluar

dari seseorang yang berstatus di luar sebuah casamento (rumah tangga).

Kecuali, antara suami-istri dalam casamento itu. Ini pun setelah melalui

prosesi pernikahan religius dalam gereja yang ditetapkan oleh pastor

melalui serangkaian ritual.



Vamos, acorda meu amor, que é curta a hora! Tak hanya sebuah puisi,

tetapi dalam realisme harus memenuhi makna konotatifnya. Ungkapan yang

indah, memang, tak harus dibiarkan maknanya menjelajah, tetapi harus

dibatasi sehingga ia bisa menunjuk sesuatu yang jelas dalam ruang dan

waktu. Inilah sebuah pengetatan makna, yang seharusnya ditiru oleh

sastra Indonesia. Bukankah khazanah sastra Melayu (Indonesia) sangat

dipengaruhi oleh sastra Portugis?



http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/10/05/BHS/mbm.20091005.BHS131549.id.html

 


http://media-klaten.blogspot.com/my 
facebook:http://id-id.facebook.com/people/Wahyudi-Yudi/1484406851


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke