Haji Mabrur

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri


Segala kesibukan itu -dari menghitung tabungan, urusan ke Depag, antre di
bank, periksa kesehatan, kursus manasik haji, pamit-pamit, tasyakuran,
menerima tamu-tamu yang titip doa, sampai upacara pelepasan di rumah, di
kabupaten, hingga di embarkasi- sungguh melelahkan para calon jamaah haji.
Belum lagi urusan di bandara-bandara. Segala kesibukan itu tentunya
pertama-tama karena didorong oleh keinginan hidup bahagia di akhirat.



Di surga Allah. Bukankah para penatar manasik selalu menyitir sabda Nabi
Muhammad SAW, *"Wal hajjul mabruur laisa lahu jazaa-un illal jannah" *? Haji
mabrur tak ada balasannya kecuali surga.


Maka, bukan saja kerelaan menanggung segala -biaya (termasuk biaya yang
tidak seharusnya), tenaga, dan pikiran- yang dapat kita lihat dari kesibukan
para calhaj (calon haji) itu, tapi juga dari semangat dan keseriusan mereka
saat beribadah di tanah suci. Siapa yang mau bersusah-payah sedemikian tanpa
hasil, sia-sia, gara-gara haji tidak mabrur.


Semuanya ingin haji mabrur. Para petugas dari Depag, perkumpulan-perkumpulan
haji, dan KBIH-KBIH pun senantiasa memujikan hal itu. Namun sayang,
pengertian tentang 'mabrur' itu sendiri jarang atau bahkan tidak pernah
diterangkan. Hal ini mungkin karena mereka sudah mempunyai
*husnuzhzhan*bahwa para jamaah sudah paham, atau boleh jadi, mereka
sendiri pun kurang
paham. Yang selalu dijelas-jelaskan justru bagaimana cara thawaf, sa'i,
wuquf, melempar jumrah, serta amalan ibadah haji dan doa-doanya. Di beberapa
daerah, bahkan, didirikan ka'bah-ka'bahan permanen atau semipermanen untuk
keperluan 'latihan' thawaf. Ini sebenarnya lucu.


Mengapa harus kursus dan latihan? Haji adalah ibadah amaliyah. Ibadah laku.
Tidak seperti salat yang di samping laku, ada bacaan-bacaannya yang wajib
juga. Sedangkan amalan atau laku ibadah haji, tidak ada yang sulit. Ihram
hanya memakai pakaian, salat sunnah, dan niat. Thawaf hanya berputar-putar
mengelilingi Ka'bah 7 kali. Anda tidak bisa membayangkan orang -sebodoh apa
pun tanpa dilatih sekalipun-keliru thawaf, misalnya keliru berputarnya.
Sebab, jika keliru berputar, orang itu akan tertabrak orang-orang yang lain.
Sa'i hanyalah mondar mandir dari Shofa ke Marwah. Jalur jalannya sudah
diatur dua jalur: yang menuju ke Marwah dan yang kembali ke Shofa. Tak
mungkin orang keliru, kecuali -paling-paling- lupa hitungannya.


Wuquf yang merupakan inti ibadah haji justru hanyalah berdiam diri. *
Thenguk-thenguk,* bahasa Jawanya. Masak berdiam diri saja mesti dilatih?
Hanya beberapa anak kecil yang biasanya sulit *thenguk-thenguk.* Melempar
jumrah pun ya hanya melempar. Bagi mereka yang di waktu kecil nakal dan suka
melempar jambu tetangga, melempar jumrah tentu perkara kecil. Sedangkan yang
namanya *tahallul,* tidak lain hanya mencukur atau memotong rambut.


Jadi, menurut saya, hal-hal seperti itu perlu dikurangi -jika berat
menghapusnya- dari kurikulum penataran manasik haji. Yang justru perlu
adalah memberikan penerangan kepada jamaah calhaj -yang umumnya orang-orang
awam- tentang hal-hal teknis lainnya. Misalnya, apa yang sebaiknya dibawa
dan apa yang tidak perlu dibawa, bagaimana menjaga kesehatan, bagaimana
menghadapi 'kehidupan luar negeri' dan tetek-bengeknya, bagaimana menghadapi
berbagai macam jenis manusia yang berbeda adat-istiadatnya, dsb, dst.


Berkenaan dengan hadis tentang kemabruran haji itu, ada riwayat yang
menyebutkan adanya pertanyaan para sahabat saat Nabi Muhammad SAW
menyebut-nyebut tentang haji mabrur itu: *"Wamaa birrul hajji ya Rasulallah*?"
Apa kemabruran haji itu ya Rasulallah? Dan ternyata jawaban Rasulallah SAW
tidak berhubungan dengan *thawaf, sa'i*, dan sebagainya itu. Tapi, justru
yang ada hubungannya dengan pergaulan dengan sesama jamaah yang sama-sama
beribadah, seperti menebarkan salam dan memberikan pertolongan. Bila riwayat
ini dianggap dhaif, kita masih bisa menyimak sunnah Rasul saat melakukan
ibadah haji. Bagaimana sikap *tawadhu',* kemurahan, kelembutan, dan hal-hal
lain yang menunjukkan penyerahan diri beliau sebagai hamba kepada Tuhan dan
*tepo sliro *beliau kepada sesama hamba-Nya.


Boleh jadi, semangat yang menggebu-gebu untuk mendapatkan kemabruran tanpa
memahami makna kemabruran itu sendiri dapat menyeret jamaah haji kepada
sikap egois dan mau 'menang sendiri'. Lihatlah mereka yang berusaha mencium
Hajar Aswad itu, misalnya. Alangkah ironis. Mencium Hajar Aswad paling
tinggi hukumnya adalah sunnah, tapi mereka sampai tega menyikut
saudara-saudara mereka sendiri kanan kiri. Bagaimana berusaha melakukan
sunnah dengan berbuat yang haram? Jangan-jangan, dalam banyak hal lain, kita
juga hanya mengandalkan semangat yang menggebu dan mengabaikan pemahaman.
Masya Allah.


Nah, jika ingin haji mabrur, jagalah hubungan baik dengan Allah dan dengan
sesama hamba Allah. Selamat beribadah! Semoga benar-benar mabrur!



KH. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar Raudlatut
Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke