Membuat Batu Bata

Oleh: Emha Ainun Nadjib



Hampir tiap hari saya pergi dari desa ke desa, dari kota ke kota, dari
lapangan ke lapangan, dari orang sedikit ke orang banyak, dari orang banyak
ke orang sangat banyak, dari orang kota ke orang dusun, dari wong cilik ke
wong tidak gedhe, pokoknya ke mana saja semampu-mampu saya, dari Tinambung
ke Grobogan, dari Lowokwaru ke Sidayu, dari masyarakat cliwik ke masyarakat
santri. Kami selalu saling bertanya dan saling mengungkap secara
terang-terangan di tempat terbuka apa keresahan kami, apa pendapat kami
tentang presiden, menteri, ekonomi dan politik nasional, pokoknya tentang
apa saja tanpa tedheng aling-aling.


Namun itu semua baru memberi barokah bagi pendidikan politik kami sendiri,
itu semua baru menciptakan manfaat bagi pencerahan hati dan perjuangan
sosial kami sendiri -- dan belum bermanfaat secara lebih luas bagi
masyarakat Indonesia. Sebab batu-bata dan gergajian kayu-kayu yang kami
bikin dan persiapkan untuk pembangunan rumah baru nasional itu dinilai
kurang bermutu oleh para arsitek dan pemimpin alternatif yang sekarang mulai
memimpin sejarah kita bersama. []


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke