Babu di Rumahku
Sendiri<http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2009/11/05/738/Babu.di.Rumahku.Sendiri>



Cuma tiga bulan kurasakan madu pernikahan. Selebihnya, aku merasa serumah
dengan lelaki yang tak kukenali. Tanpa percakapan, aku selalu dirampok sepi.


Pembaca, perkenalkan namaku Dina, ibu dengan satu anak, Rizky. Kami tinggal
di sebuah pulau di daerah Riau. Aku juga seorang wanita karier di sebuah
perusahaan asing dan menduduki posisi penting di kantorku. Suamiku, Har,
bekerja di salah satu LSM, juga berposisi. Dalam kesempatan ini aku ingin
sekali berbagi kisah dan sangat berharap saran dari pembaca. Saran atau
nasihat yang dapat menunjukkan sinar terang untuk hidupku.


Pembaca, aku mengenal Har sejak sama-sama duduk di bangku SMP. Tapi itu
hanya kenal biasa, tak ada kenangan manis. Aku tahu dia, dia pun tahu aku.
Cukup. Kami tak pernah dekat, apalagi pacaran. Dia tetangga, juga teman satu
kelas.


Setelah bekerja, aku kembali bertemu dengan Har, melalui perantara seorang
sahabat. Singkat saja, kenalan dan dekat. Sering jalan bersama, satu bulan
kemudian, Har menyatakan cinta. Dia pun segera mengajakku menikah. Kuterima
tawaran itu, karena aku tahu dia serius. Enam bulan kemudian, kami pun resmi
menikah.


Pembaca, tiga bulan pertama adalah hal yang sangat indah, hal terindah dalam
hidupku. Tak sedetik pun kami berpisah, berduaan terus. Maklum, pengantin
baru, kami tak pernah merasa puas mereguk madu. Tapi, setelah tiga bulan
itu, semuanya berubah. Aku melihat suamiku sebagai sosok yang pendiam, cuek,
dan tak pernah mengajakku bercerita, berkeluh-kesah, atau bertukar pikiran.
Kucoba mengamati dan menerima sikap dia, tapi aku malah tertekan.
Karakternya itu membuatku merasa tak pernah ada dalam hidupnya, tak mendapat
perhatian. Tak pernah ada cerita apa pun, aku merasa seperti pembantu di
rumahku sendiri.


Memang, dia tak pernah berkata kasar atau memukulku. Tapi, didiamkan, tak
dianggap ada, itu lebih sakit bagiku daripada sebuah pukulan. Dia cuek
banget. Aku merasa sendirian. Semua hal aku harus memutuskan sendiri, tak
mendapatkan arahan atau pun pertimbangan darinya.


Ketika tidak kuat lagi, aku katakan padanya bahwa aku lelah, aku sepi,
teraniaya, dan ingin diperlakukan sebagai istri. Tapi, apa kata suamiku? Dia
mengaku sangat mencintaiku, amat sangat. Tapi, dia tak tahu harus bersikap
bagaimana pada diriku. Dia merasa apa yang dia lakukan adalah wajar
sepanjang tidak menyakitiku, tidak selingkuh, dan bertanggungjawab secara
ekonomi. Aku menangis. Bagaimana aku harus meminta perhatiannya, jika dia
merasa sudah tak tahu harus bersikap bagaimana? Dia merasa hal itu bukan
sebuah kesalahan. Bayangkan! Aku cuma diberi kesepian-kesepian, pendiaman,
yang aku tak tahu entah sampai kapan.


Setahun, aku hamil dan melahirkan. Kukira, dengan adanya anakku, dia akan
berubah. Mungkin, aku juga tak lagi sepi. Apalagi, anakku yang lahir lelaki,
yang kuyakin amat diimpikan setiap suami. Aku percaya, dia akan lebih peduli
padaku, atau minamal pada anakku. Nyatanya, tak ada perubahan itu. Harapanku
menguap, jadi kekosongan saja. Suamiku tetap saja cuek, santai seperti tak
ada masalah, seperti menganggap aku dan anakku tak pernah ada di rumah untuk
diajak sebagai teman bicara. Gila! Bahkan kalau dia pergi ke luar kota,
untuk menelpon atau SMS saja, dia tak pernah melakukannya. Itu sudah
kebangetan, sudah tidak lagi menusiawi. Aku marah, aku berontak.


Tapi, apa katanya? Suamiku bilang, dia ingin konsentrasi kalau bekerja, agar
bisa tenang dan cepat kelar lalu pulang. Katanya, jika selalu ingat aku dan
anak, dia tidak bisa tenang, pekerjaan pun terbengkalai. Gila, nggak?


Dia juga berkata, bahwa sikapnya itu memang membuatku tersiksa. Tapi dia
mengaku tidak bisa berbuat apa pun untuk mengubah situasi itu. "Aku ya
memang begini ini," katanya. Apanya yang nggak bisa berubah? Dia yang tidak
mau berubah!


Har juga meminta maaf, bahwa selama menikah aku tidak menjadi tempat dia
curhat. Katanya, dia yakin jika pun curhat, aku tidak akan dapat membantunya
menyelesaikan masalahnya. Ya Tuhan, dari apakah hati suamiku? Mengapa dia
tega berpikir dan berbicara begitu?


Padahal, aku selalu ingin menjadi yang terbaik untuknya. Kubantu ia mencari
nafkah dengan bekerja. Tetap kusempatkan diri memasak setelah pulang kantor
karena aku tahu suamiku tidak suka makan di luar. Selelah apa pun jika ia
minta tolong, akan segera kukerjakan. Itu tak lain karena aku mencintai
suamiku. Aku menghargainya, mendewakannya. Tapi, tapi balasannya...!!


Pembaca... aku benar-benar kesepian. Aku tidak bisa cerita ke teman-teman
atau ke keluargaku yang lain karena aku tak mau suamiku dicela, dimaki atau
disumpahi oleh orang-orang yang kesal atas sifatnya. Bagaimanapun, dia
suamiku, ayah anakku, pemimpin dan kepala rumahtanggaku. Aku tak ingin dia
dipandang rendah oleh saudaraku. Aku harus menjaga hargadirinya dan juga
martabatnya. Aku hanya bisa pasrah dan curhat ke Allah SWT. Namun aku
hanyalah manusia biasa yang tetap butuh diskusi. Bantulah aku pembaca. Apa
yang harus aku lakukan? Haruskan aku pasrah menjalani hidup ini? Apakah ini
memang takdir yang harus aku jalani, dan menerima saja diperlakukan suami
sebagai perempuan bisu yang tak bisa apa-apa, yang tak pernah diajak
berbicara?


Aku percaya, Allah akan membantuku melalui tangan-tangan pembaca semua.
Bantulah aku, ya? Ya?


Cerita Dina melalui email


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke