Dia Mengikat Masa Depanku


Perkenalanku dengannya berlangsung manis. Sammy lelaki yang menyenangkan,
sopan, dan tahu membuat perempuan merasa "terbang". Aku pun, seiring waktu,
mulai acap mengkhayalkan dirinya. Ternyata khayalanku bersambut. Cintaku tak
bertepuk sebelah tangan. Dunia pun terasa segar dan menyenangkan.



Hari-hariku tak lepas dari Sammy. Sepulang kerja, dia pasti sudah ada di
pelataran parkir, menungguku. Kami pun akan menghabiskan malam bersama,
bercanda, makan malam, dan bermesraan kecil-kecilan. Di usiaku yang masih
tergolong muda, Sammy adalah pacar keduaku. Tapi rasanya, inilah untuk
pertama kalinya aku jatuh cinta.



Mungkin beda usia kami yang membuatku merasa selalu berada dalam
pengertiannya. Sammy lebih tua 7 tahun dariku. Karena itu, dia menjadi
pengambil keputusan tentang kami. Belanja misalnya, selain memang selalu dia
yang membayari, jenis busana pun dia yang memilihkan. Dan aku selalu merasa
nyaman dengan pilihannya. Sammy membawaku ke arah hidup yang lebih baik dan
menggairahkan. Jadi, tak salah kan jika kupercayakan diriku padanya.



Aku ingat pasti malam itu, nyaris 9 bulan setelah perkenalan kami. Sehabis
menghadiahiku berbagai kemeja dan sebuah cincin, kami bermesraan kecil di
mobilnya. Tapi kurasakan dia begitu bergairah malam itu. Aku sampai merasa
dia mengarahkanku ke "sesuatu". Tapi lucunya, atau anehnya, aku membiarkan
saja "sesuatu" itu terjadi. Aku tahu betapa berbahayanya jika "sesuatu" itu
terjadi, dan aku takut. Tapi ketakutanku itu tak menahan rasa ingintahuku
juga atas "sesuatu" itu. Dan begitulah, di mobil itu, "sesuatu" itu kami
singkap dan kami singgahi. Di mobil itu aku menyerahkan diriku, tanpa
tangis. Tapi juga bukan tanpa sesal. Ada sedikit rasa bangga ketika Sammy
kaget bahwa ternyata aku masih perawan. Dan sedikit kecewa karena kuserahkan
diriku justru di mobil, bukan di ranjang pengantin.



Tapi mobil itu hanya permulaan saja. Selanjutnya, berbagai hotel, tempat
wisata, kami singgahi untuk berpetualang asmara. Aku pemain baru, dan hanya
mengikuti saja arahan Sammy, yang kukira sangat mengerti. Aku pun tak bisa
lagi mengelak, kapan pun dia hendak.



Lucunya, setelah "sesuatu" itu tak lagi jadi rahasia, rasa cintaku tumbuh
kian kuat padanya.



Bukan saja rasa cinta, tapi juga ketergantungan.

Ketergantungan yang parah.

Aku jadi dihinggapi rasa cemas, jika dia, misalnya, tak datang suatu malam.
Aku jadi takut dia tiba-tiba menghilang.

Padahal dulu, tak pernah rasa cemas itu datang.

Padahal dulu, kalau dia tak datang, tak pernah aku merasa sangat kehilangan.



Dan memang setelah kemesraan yang menggebu-gebu itu, Sammy jadi berkurang
frekwensi berkunjungnya. Jika pun dia menelpon akan menjembut, nyaris tanpa
basa-basi, dia langsung membawa aku ke hotel, menggumuliku. Kemudian, makan
malam, dan memulangkanku ke kontrakan. Selalu begitu.

Aku, setelah kenal "sesuatu" itu memang jadi menyukainya. Tapi aku tak suka
kalau cuma menjadi boneka.



Dan kini kuakui, Sammy menganggap aku boneka.



Objek seksualitasnya. Pemenuhan fantasinya. Gambaran idealnya tentang
persetubuhan.

Aku tak mau itu. Maka kutanyakan padanya, mengapa dia tak datang sesering
dulu. Mengapa dia kini lupa bercumbu dan bercinta seperti dikejar waktu.



Aku mengaku cemburu. Cemburu pada hari-hari ketika dia tak ada bersamaku.
Cemburu pada ketakutan dan kecemasan yang acap datang setelah aku tak lagi
punya "sesuatu". Cemburu pada keberdiamannya jika jalan bersama, yang tak
seriang dan segembira dulu.



Sammyku tidak seperti ini, dan aku ingin dia seperti dulu.

Tapi memang waktu tak bisa diputar. Cerita selalu punya masa edar.



Sammy akhirnya berterus terang. Dia tak lagi lajang. Telah enam bulan dia
menikah. Jadi, dua minggu setelah asmara di mobil itu, dia menikah. Dua
minggu setelah dia mengambil "sesuatu" itu dariku, dia pun mendapatkan
"sesuatu" yang lain dari perempuan lain.



Tapi aku tak bersedih. Kata Sammy, dia tidak cinta perempuan itu. Kata
Sammy, dia hanya mengikuti saran orangtua. Kata Sammy, akulah perempuan yang
ingin dia nikahi. Kata Sammy, kami harus kuat menderita dulu sebelum menuju
bahagia. Kata Sammy, hanya kepadaku dia bisa merasakan kenikmatan asmara.
Kata Sammy, bahkan ketika bercinta dengan istrinya, dia acap membayangkanku.
Kata Sammy, dia bertengkar karena tanpa sadar dia mengeluhkan namaku. Kata
Sammy, mereka akan bercerai. Kata Sammy, aku harus bersabar. Kata Sammy, aku
harus bersabar lagi. Kata Sammy, tapi kami juga harus bercinta terus, biar
ikatan di antara kami menjadi abadi. Kata Sammy, aku harus bersabar lagi,
soal cerai tengah diurus. Kata Sammy, aku harus bersabar terus.



Akhirnya, kesabaranku justru tergerus.



Sampai kapan? Aku tak bisa menanti, dan dimintai sabar sampai dua tahun ini.
Aku tak bisa hanya membiarkan dia menggelepar di atas tubuhku saja. Aku
ingin berumah dengannya dan tak hanya bercinta. Aku ingin keluar dari
ketidakpastian ini.



Tapi Sammy bilang, hanya dia yang mengerti aku. Sammy bilang, perempuan yang
tak perawan, tak akan bisa dihargai pasangan. Sammy bilang, jika aku
berpaling darinya, lelaki yang menikahiku akan mencampakkanku sehabis malam
pertama. Aku jadi takut. Aku jadi tahu, betapa terikatnya aku setelah
menyerahkan "sesuatu" itu padanya. Aku jadi tahu, betapa masa depanku jadi
terbatas, pilihanku jadi kian sedikit setelah itu.



Sammy ingin aku bersabar, tapi aku justru terkapar. Aku bingung. Aku tak
tahu benarkan dia tak cintai perempuan itu. Benarkah dia ingin bercerai? Aku
tak ingin bercinta lagi sebelum urusan ini kelar. Tapi aku selalu takut
menolak, karena takut sekali jika dia campakkan. Aku menyesal sekali
berkenalan dengannya, dan terpikat pada cintanya. Cinta yang kuyakin penuh
dengan rekayasa badaniah saja. Tapi aku bisa apa?



Cerita Liana


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke