Harta Berhargakah? harta yang paling berharga adalah keluarga mutiara yang paling indah adalah keluarga puisi yang paling bermakna adalah keluarga ....
Potongan syair lagu yang pernah menjadi sangat populer bersama sinetron Keluarga Cemara beberapa tahun silam itu, mengingatkan siapa saja yang belajar di sekolah kehidupan tentang makna penting sebuah keluarga. Sebagai satuan terkecil dalam sebuah masyarakat, keluarga menjadi ajang pertumbuhan tunas-tunas bangsa. Dalam keluargalah anak- anak mengalami dinamika kehidupan manusia dengan neka ragam problema dan corak emosi yang dimunculkannya. Anak-anak belajar mengenali hampir semua hal, pertama-tama dan terutama dalam keluarga, kemudian di lingkungan hidup sekitar rumah, lalu ke sekolah, dan masyarakat. Para psikolog dan psikiater sering mengingatkan bahwa sejumlah peristiwa penting dalam perjalanan kehidupan sebuah keluarga—entah itu yang menyenangkan atau tragis menyedihkan—sangat susah terhapus dari memori seorang anak. Dengan begitu kita semua membawa pengalaman masa kecil ketika beranjak remaja dan kemudian menjadi dewasa. Sehingga, hampir setiap masalah kejiwaan yang mengganggu kehidupan seseorang, kemudian dikaitkan dengan pengalaman masa kecilnya. Asumsinya jelas, masa kecil yang tak bahagia membuka peluang munculnya problem kejiwaan dalam diri setiap manusia pada tahap-tahap kehidupan selanjutnya. Jika pengalaman masa kecil dalam keluarga mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan karakter dan kepribadian seorang anak manusia, maka seberapa bahagiakah kita sebagai kanak-kanak dulu? Adakah kita cukup bahagia untuk menjadi pribadi yang matang secara kejiwaan? Ataukah kita terkungkung oleh sejumlah trauma masa kecil yang sekarang menjadi ganjalan dalam hubungan kita dengan pasangan dan anak-anak kita sendiri? Bagaimana pula dengan anak-anak yang dibesarkan di rumah kita hari- hari ini? Siapakah di antara kita yang secara berkala meluangkan waktu untuk mencari tahu hal-hal seperti apa yang membuat anak-anak kita merasa bahagia? Siapakah di antara kita yang kemudian benar- benar memberi waktu untuk melakukan hal-hal tersebut? Berapa lama waktu senggang, di luar tuntutan pekerjaan dan tugas-tugas rumah tangga, yang masih tersisa untuk bermain dan bercengkerama dengan anak-anak kita pada bulan-bulan terakhir ini? Kapan kita terakhir kali tertawa ria bersama-sama seluruh anggota keluarga, sepanjang hari, dalam suasana yang menentramkan hati? Bagaimana suasana liburan keluarga kita yang terakhir? Jika rentetan pertanyaan seperti di atas diajukan kepada orangtua di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, boleh jadi jawabannya tidak menggembirakan. Di dera oleh tuntutan kebutuhan hidup yang menggila, sebagian besar keluarga sekarang harus berjuang keras untuk sekadar memiliki waktu bersama. Kedua orangtua bekerja mencari nafkah, sementara anak-anak ditemani baby-sitter atau pembantu, sudah galib kita saksikan dimana-mana. Yang justru mulai langka---atau bahkan dianggap sudah kuno---adalah menemukan sosok perempuan yang tinggal di rumah, khusus untuk mengasuh anak-anaknya. Kalau pun masih ada, mungkin karena mereka tidak mendapatkan kesempatan memperoleh pekerjaan, bukan pilihan yang dilakukan dengan sadar penuh suka cita. Ada banyak sebab mengapa para ibu harus ikut serta mencari nafkah keluarga. Boleh jadi karena penghasilan suaminya tak mencukupi dan ia punya kesempatan memperoleh pekerjaan [bahkan ada kalanya karier istri lebih mencorong dari suaminya]. Bisa juga karena perempuan sekarang merasa tugas-tugas domestik di rumah kurang menantang pengembangan dirinya, sehingga ia bekerja untuk mengaktualisasikan potensinya. Atau karena berpisah dengan suami dan menjadi orangtua tunggal bagi anak-anaknya. Apapun alasannya, anak-anak kemudian harus menerima kenyataan diasuh baby-sitter dan pembantu. Syukur-syukur kalau ada nenek-kakek yang bersedia dikaryakan untuk menjaga cucu. Sementara ayah dan bunda membiasakan diri untuk pergi pagi, dan pulang malam dalam kondisi lelah. Maka anak-anak pun membiasakan diri untuk menerima hal semacam itu sebagai kenyataan, sebagai situasi "keluarga yang normal". Ditambah beban pelajaran, pekerjaan rumah, kursus musik dan matematika, anak-anak juga belajar untuk tak menuntut banyak waktu dari orangtuanya. Masa kanak-kanaknya dipercepat, ikut program akselerasi untuk mandiri dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dan pada waktunya kelak, mereka juga akan menduplikasi pola asuh orangtuanya kepada anak-anak mereka sendiri. Memang sudah harus begitu, mau bagaimana lagi? Nampaknya segala sesuatu berjalan lancar sebagaimana mestinya. Sampai sesuatu terjadi. Dalam peringatan Hari Ibu di akhir Desember, seorang anak kita menuliskan sebuah surat seperti yang beredar di sejumlah milis belakangan ini. Berikut cukilannya: SURAT BUAT MAMA .... Mamaku sayang, aku mau cerita sama mama. Tapi ceritanya pake surat ya. Kan, mama sibuk, capek, pulang udah malem. Kalo aku banyak ngomong nanti mama marah kayak kemarin itu, aku jadinya takut dan nangis. Kalo pake surat kan mama bisa sambil tiduran bacanya. Kalo ngga sempet baca malem ini bisa disimpen sampe besok, pokoknya bisa dibaca kapan aja deh. Boleh juga suratnya dibawa ke kantor. Ma, boleh ngga aku minta ganti mbak? Mbak Jum sekarang suka galak, Ma. Kalo aku ngga mau makan, piringnya dibanting di depan aku. Kalo siang aku disuruh tidur melulu, ngga boleh main, padahal mbak kerjanya cuman nonton TV aja. Bukannya dulu kata mama mbak itu gunanya buat nemenin aku main? Trus aku pernah liat mbak lagi ngobrol sama tukang roti di teras depan. Padahal kata Mama kan ngga boleh ada tukang-tukang yang masuk rumah kan? Kalo aku bilang gitu sama mbak, mbak marah banget dan katanya kalo diaduin sama Mama dia mau berhenti kerja. Kalo dia berhenti berarti nanti Mama repot ya? Nanti Mama ngga bisa kerja ya? Nanti ngga ada yang jagain aku di rumah ya? Kalo gitu susah ya, Ma? Mbak ngga diganti ngga apa-apa, tapi Mama bilangin dong jangan galak sama aku. Ma, bisa ngga hari Kamis sore Mama nganter aku ke lomba nari Bali? Pak Husin sih selalu nganterin, tapi kan dia cowok, Ma. Ntar yang dandanin Aku siapa? Mbak Jum ngga ngerti dandan. Ntar aku kayak lenong. Kalo Mama kan kalo dandan cantik. Temen-temen aku yang nganterin juga mamanya. Waktu lomba gambar minggu lalu Pak Husin yang nganter; tiap ada lomba Pak Husin juga yang nganter. Bosen, ma. Lagian aku pingin ngasi liat sama temen- temenku kalo Mamaku itu cantik banget, aku kan bangga, Ma. Temen- temen tuh ngga pernah liat mama. Pernah sih liat, tapi itu tahun lalu pas aku baru masuk SD, kan Mereka jadinya udah lupa tampangnya mama. Ma, hadiah ulang tahun mulai tahun ini ngga usah dibeliin deh. Uangnya Mama tabungin aja. Trus aku ngga usah dibeliin baju sama mainan mahal lagi deh. Uangnya Mama tabung aja. Kalo uang Mama udah banyak,kan Mama ngga usah kerja lagi. Nah, itu baru sip namanya. Lagian mainanku udah banyak dan lebih asyik main sama Mama kali ya? Udah dulu ya, ma. Udah ngantuk. I love you Mom,..(aku tanya bu guru katanya artinya "aku cinta padamu," berarti aku juga boleh mencintai mama, ya). Coba bayangkan! Bagaimana perasaan seorang ibu jika menerima surat semacam itu dari anak yang dikasihinya? Dan bagaimana pula reaksi seorang ayah jika membaca surat tersebut? Masa bodohkah? Marahkah? Sedihkah? Bingungkah? Atau menantang kita untuk memikirkan kembali prioritas hidup yang kita jalan selama ini? Kita agaknya memang perlu menyadari tantangan jaman yang berkembang. Ada banyak perbedaan antara konteks jaman ketika kita dibesarkan 40- 50 tahun silam, dengan konteks jaman sekarang. Sebagian dari kita mungkin tak bisa lagi membesarkan anak-anak seperti ketika kita dibesarkan orangtua kita. Jadi, kita memang perlu menemukan pola asuh yang lain, yang berbeda, yang lebih cocok dengan tantangan masyarakat kita saat ini. Dan dalam proses menemukan pilihan-pilihan yang lebih tepat, beberapa pertanyaan dasar mungkin perlu kita jawab dengan jujur. Misalnya, apakah anak-anak dan keutuhan keluarga masih cukup penting artinya bagi kita sebagai pribadi? Atau, tanpa kita sadari sepenuhnya, nilai dan arti anak-anak dan keutuhan keluarga telah mengalami inflasi besar-besaran dalam cara berpikir kita saat ini? Benarkah harta yang paling berharga adalah keluarga? Tabik Mahardika! Sumber: Harta Berhargakah? oleh Andrias Harefa [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ------------------------------------------------- Donasi Dana untuk Sarikata.com : BCA : 145-131-0238 | BNI : 001-432-7613 BRI : 0206-0100-0020-501 | A/N : Yudhi Aprianto ------------------------------------------------- Sarikata @ Facebook : http://www.facebook.com/group.php?gid=49585017711 +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
