Selamat Jalan, Gus Dur......

Rabu, 30 Desember 2009 , 20:46:00



MANTAN Presiden RI Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur, meninggal
Rabu (30/12) pukul 18.45 WIB di RSCM Jakarta. Gus Dur meninggal sesaat
setelah mendapat jengukan Presiden Susilo Bambang Yudoyono, dan masih
disaksikan Menko Kesra Agung Laksono yang kebetulan sedang menjenguk.



Tokoh nasional kelahiran Jombang, 4 Agustus 1940, ini meninggal setelah
digerogoti berbagai penyakit, terutama gula darahnya yang melonjak
akhir-akhir ini. "Beliau masuk rumah sakit sejak 25 Desember karena kadar
gula darahnya tinggi. Juga sempat dilakukan operasi gigi. sejak itu kondisi
Gus Dur turun drastis," ujar Solahuddin Wahid, adik kandung Gus Dur yang
akrab dipanggil Gus Solah.



Kepergian tokoh bangsa sekaligus tokoh agama ini membuat sontak berbagai
tokoh yang langsung datang melayat ke rumah sakit. Di rumah sakit juga
kebetulan sedang ramai dipenuhi puluhan wartawan yang akan mengikuti
konferensi pers tentang kondisi Gus Dur sendiri.



Gus Dur menjabat Presiden RI ke-4 mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001.
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang
pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, yang bernama KH. Wahid Hasyim.
Sedangkan Ibunya bernama Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren
Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Dari perkawinannya dengan Sinta
Nuriyah, mereka dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada
Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah
Wulandari.


Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin
memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Pada usia belasan tahun Gus Dur
telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di
samping membaca, beliau juga hobi bermain bola, catur dan musik. Kegemaran
lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop.


Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo.
Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa
berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai
kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya
telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh.
Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.


Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan
memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas
Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Gus Dur pun mulai menjadi penulis.
Beliau kembali menekuni bakatnya sebagai penulis dan kolumnis. Lewat
tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian
banyak orang.


Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu
di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur
mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum
diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri.
Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama
Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan
pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.


Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis
Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai
wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan
perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan
berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin.


Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa
al-`aqdi yang diketuai K.H. As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan
ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali
dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan
muktamar di Cipasung Tasikmalaya Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU
kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Selama menjadi
presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur kontroversial. Seringkali
pendapatnya berbeda dari pendapat banyak orang.



Tokoh nasional yang juga sering disebut Bapak Demokrasi ini kini telah
pergi. Meninggalkan nama yang sarat amalan dan monumental. Selamat jalan,
Gus....(das)



Sumber:

http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=118894


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke