Dedaunan yang Berguguran

Barangkali kematian yang paling sulit kita terima adalah kematian dari
seorang anak. Pada beberapa kesempatan saya pernah diberi kehormatan untuk
memimpin upacara pemakaman bagi seorang anak laki-laki atau perempuan,
seseorang yang belum lama mengecap pahit manisnya kehidupan. Tugas saya
adalah membantu menuntun orang tua yang sedang putus asa, dan juga anggota
keluarga yang lainnya, mengatasi siksaan rasa bersalah dan tuntutan obsesif
atas jawaban dari pertanyaan, "Mengapa?"

Saya sering menceritakan kisah perumpamaan berikut ini, yang dikisahkan
kepada saya beberapa tahun silam di Thailand.

Seorang bhikkhu hutan yang sederhana tengah bermeditasi sendirian di sebuah
pondok jerami di tengah hutan. Pada suatu larut malam, terjadilah badai
musim hujan yang garang. Angin menderu-deru bagaikan suara mesin jet dan
hujan yang deras menerpa pondoknya. Semakin malam beranjak pekat, badai
makin bertambah liar. Mula-mula, dahan-dahan pohon terdengar tercerabut dari
batangnya. Lalu seluruh bagian pohon terengut oleh angin ribut dan
dihempaskan ke tanah dengan suara sekeras guntur.

Sang bhikkhu segera sadar bahwa pondok jeraminya tak akan sanggup
melindunginya. Jika sebuah pohon tumbang menimpa pondoknya, atau meskipun
cuma sebuah dahan besar, pondoknya akan rata dengan tanah dan meremukkannya
sampai mati. Dia tidak tidur sepanjang malam. Seringkali sepanjang malam
itu, dia seolah-olah mendengar para raksasa hutan mendobrak ke permukaan
tanah dan hatinya berdegup untuk sesaat.

Beberapa jam sebelum fajar menyingsing, secepat datangnya, begitu pula badai
itu berlalu. Di pagi hari, sang bhikkhu keluar dari pondoknya untuk
memeriksa kerusakan yang terjadi. Banyak dahan besar dan dua pohon berukuran
lumayan yang luput mengenai pondoknya. Dia merasa beruntung masih hidup. Apa
yang tiba-tiba menarik perhatiannya bukanlah pohon-pohon yang tumbang dan
dahan-dahan patah yang berserakan dimana-mana, tetapi dedaunan yang sekarang
menyebar menutupi lantai hutan.

Seperti dugaannya, kebanyakan dedaunan yang berguguran adalah daun-daun yang
berwarna coklat tua, yang telah memenuhi umur kehidupannya. Di antara
dedaunan yang berwarna coklat terdapat banyak daun yang kuning. Bahkan
terdapat pula beberapa daun yang hijau. Dan daun-daun yang berwarna hijau
itu masih segar dan cerah sehingga sang bhikkhu tahu bahwa dedaunan itu baru
saja jatuh dari pucuknya. Pada saat itulah hati sang bhikkhu memahami sifat
kematian sebagaimana adanya.

Dia ingin menguji kebenaran dari pengetahuan yang baru saja dia pahami itu,
lalu dia mendongak ke arah dahan-dahan pohon itu. Cukup meyakinkan, hampir
sebagian besar dedaunan yang tertinggal di pohonnya adalah dedaunan hijau
yang sehat segar, pada kehidupan dininya. Namun, meskipun banyak dedaunan
muda yang gugur di atas tanah, ada sebagian daun berwarna coklat tua peot
dan keriting yang tetap bertahan didahannya. Sang bhikkhu tersenyum, mulai
hari itu, kematian dari seorang anak tak akan pernah lagi membingungkannya.

Ketika badai kematian datang menghempaskan keluarga kita, badai itu biasanya
mengambil orang-orang yang sudah tua, "dedaunan yang coklat burik". Badai
itu juga mengambil orang-orang yang berusia paruh baya, seperti daun-daun
kuning di pohon. Kadang, anak-anak belia pun meninggal juga, pada usia dini
mereka, seperti halnya dedaunan yang berwarna hijau. Dan suatu kali kematian
juga merenggut kehidupan dari anak-anak yang kita kasihi, seperti badai
merenggut  tunas yang masih hijau. Inilah sifat hakiki dari kematian dalam
kehidupan kita, sebagaimana hakikat badai di sebuah hutan.

Tak seorang pun yang perlu disalahkan dan tak seorang pun yang harus merasa
bersalah atas kematian dari seorang anak. Inilah sifat alami dari segala
sesuatu. Siapa yang bisa menyalahkan badai?  Hal ini dapat membantu kita
untuk menjawab pertanyaan mengapa anak-anak meninggal. Jawabannya sama
dengan mengapa sebagian daun yang masih hijau berguguran dalam sebuah badai.
(Ajahn Brahm, "Membuka Pintu Hati" bab tentang Penderitaan dan Pelepasan)

Sumber: Disadur dari buku "Membuka Pintu Hati 108 Cerita Tentang Kebahagiaan
Sejati"


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke