Evi Aprianti, Istri Radhar Panca Dahana
Terus Bangkitkan Semangat Menulis

Sudah tahun keempat penulis Radhar Panca Dahana menjalani cuci darah
setelah dinyatakan gagal ginjal. Sang istri, Evi Aprianti (30) terus
menyemangati sampai Radhar bisa berkarya lagi. Kesetiaan dan
ketabahannya sungguh luar biasa.

 Sudah empat tahun ini Mas Radhar melakukan cuci darah sejak dokter
mengatakan dia sakit gagal ginjal 9 Januari 2001 silam. Ia harus
melakukan cuci darah seumur hidupnya. Tak hanya gagal ginjal,
sekarang penyakit yang ada dalam tubuhnya semakin banyak, yaitu
sekitar 13 penyakit. Misalnya saja asam urat, jantung, dan paru-paru
bengkak.

Sungguh merupakan keajaiban Tuhan, Mas Radhar sanggup bertahan
melewati cuci darah selama ini. Banyak temanku yang hanya sanggup
bertahan dua bulan. Makanya aku sadar, aku harus siap kehilangan
dirinya. Kapan pun Mas Radhar dipanggil Tuhan, aku hanya bisa pasrah.

Terkadang, aku merasa stres dan frustrasi menghadapi kenyataan ini.
Biasanya, aku melampiaskannya dengan berwudu. Lalu, aku sembahyang,
menyerahkan segalanya dalam tangan Allah.

SERING MINUM OBAT
Sejak kapan Mas Radhar sakit? Aku enggak tahu persis. Seingatku,
tahun 1997 Mas Radhar bermukim di kota Besancon, kota kecil berjarak
450 Km di timur Paris, Perancis untuk menyelesaikan kuliah S2. Tiga
bulan kemudian, aku menyusulnya. Aku mengkhawatirkan kondisi
tubuhnya.

 Aku tahu betul, pola makan Mas Radhar kurang baik. Jika sedang
menulis, dia suka lupa makan dan minum. Baginya, minum kopi dan
sebungkus rokok sudah membuatnya kenyang. Kalaupun aku menyediakan
segelas air putih, dia tidak meminumnya. Begitu pola makannya
bertahun-tahun sejak kami menikah.

Sebelum berangkat, Mas Radhar mengingatkanku untuk membawa obat sakit
kepala. Rupanya dia sudah sering menderita sakit kepala
berkepanjangan. Tiba di Perancis, aku sungguh terkejut melihat
kondisi tubuhnya. Badan kurus, rambut gondrong, dan jenggotnya sangat
lebat. Dengan penuh cinta, aku rapikan penampilannya. Akhirnya, dia
rapi lagi meski berat badannya sudah mencapai 45 kg dari 52 kg.

Selama mendampingi Mas Radhar di Perancis, dia sering pusing dan
muntah. Aku dan Mas Radhar menduga, gejala seperti itu bisa diobati
dengan obat sakit kepala yang bisa dikonsumsi dua atau tiga kali
sehari. Mas Radhar pun jadi tergantung untuk mengonsumsi obat sakit
kepala. Bisa jadi obat-obatan itu secara perlahan-lahan merusak
ginjalnya.

Di balik sakitnya Mas Radhar, ketika tinggal di Perancis kebahagiaan
menghampiri kami. Setelah empat tahun menikah, lahir seorang putra,
Cahaya Prima Putra Dahana pada 15 April 1999. Ada pengalaman lucu
semasa aku hamil. Mas Radhar stres karena berat badanku naik dari 55
kg menjadi 96 kg. Porsi makanku memang hebat sekali. Sehari, aku bisa
mengonsumsi 1 kg daging.

Namun, setelah aku melahirkan, gejala sakitnya semakin terlihat. Dia
sering muntah dan pusing kepala. Dia juga didiagnosis ada kista di
tubuhnya. Ia pun kian hobi minum obat. Tanpa sadar, ginjalnya semakin
rusak.

MENOLAK CUCI DARAH
Tahun 2000 ketika Cahaya berusia enam bulan, aku dan Mas Radhar
memutuskan untuk kembali ke Tanah Air. Aku sangat kangen Indonesia.
Apalagi Cahaya merupakan cucu pertama dari keluargaku, sedangkan
untuk keluarga Mas Radhar merupakan cucu ke-13.
Seharusnya, sih, Mas Radhar menyelesaikan kuliahnya. Namun, dia tidak
sanggup hidup sendiri tanpa kehadiranku.

 Selang beberapa bulan kemudian, cobaan dari Tuhan menimpa
keluargaku. Mas Radhar sakit. Namun, Mas Radhar termasuk sulit dibawa
ke dokter. Dengan banyaknya tanda-tanda penyakitnya yang sudah mulai
menjalar ke dalam tubuhnya, aku membujuknya untuk ke dokter.
Kukatakan, dia harus bisa menemani Cahaya menjadi lelaki dewasa.

Setelah diperiksa, paru-parunya sudah bengkak, hipertensinya makin
tinggi mencapai 200, dan dia dinyatakan gagal ginjal. Dokter
mengharuskan dia melakukan cuci darah. Aku mencoba bicara dan
membujuknya agar bersedia cuci darah. Namun, dia malah marah. Aku
terus merayunya. Aku tidak ingin kehilangan dirinya.

Oleh karena tetap tak bersedia, aku mengajaknya ke pengobatan
alternatif di daerah Sukabumi. Perpaket biayanya Rp 17 juta. Tapi,
penyakitnya tidak berhasil disembuhkan. Dengan rasa lelah di hati,
aku mencari dr. Mujadid, dokter yang pertama kali menangani penyakit
Mas Radhar.

Demi kesembuhannya, semakin banyak larangan yang harus dipatuhinya.
Salah satu caranya melakukan pola makan teratur (diet). Namun, ketika
makin dilarang makan sesuatu, Mas Radhar malah mengonsumsi semakin
banyak. Selama mengenalnya, Mar Radhar tipe lelaki yang semakin
dilarang berbuat sesuatu, dia malah makin giat melanggarnya.

Ketika aku memintanya cuci darah, dia juga menolak. Akibatnya, 9
Januari 2001 ketika sedang di rumah, daya tahannya tidak kuat menahan
beban berat penyakit di dalam tubuhnya. Segera kubawa ia ke RSCM.

LIMA HARI KOMA
Sungguh masa yang berat ketika mendampingi Mas Radhar dirawat selama
43 hari. Ditambah
lagi, selama lima hari Mas Radhar koma. Kucoba memberi kekuatan
padanya dengan menggenggam kedua tangannya. Bayangkan, dia berusaha
melepas semua selang infus yang melekat di tubuhnya yang semakin
kurus.

 Aku juga terpaksa mengikat salah satu tangannya untuk mencegah dia
menyakiti dirinya sendiri. Selain itu, kondisi kedua matanya juga
sudah berwarna merah karena aliran darahnya sudah naik ke kepala. Di
saat seperti itu, aku pasrah dan terus berdoa.

Jika dia harus pergi menghadap Tuhan, aku sudah siap dengan
mendampingi di sisinya.
Setelah lima hari koma di RSCM, dr. Derry yang merawatnya, memintaku
untuk menandatangi surat persetujuan bahwa Mas Radhar harus dilakukan
cuci darah selamanya. Padahal sebelum koma, Mas Radhar sudah
melarangku untuk tidak tanda tangan setuju cuci darah. Namun, aku
tidak mau kehilangan lelaki yang kucintai. Jika tidak cuci darah, Mas
Radhar akan pergi selamanya. Aku pun tanda tangan.

Mas Radhar cuci darah pertama kali tanggal 9 Januari 2001. Setelah
tiga kali cuci darah, dia sadar tepat pada hari ulang tahunku tanggal
14 Januari. Setelah sadar, Mas Radhar bertanya, "Di mana saya?"
Dengan lembut kukatakan, dia sudah berada di RSCM. Dia sempat kecewa
ketika kukatakan, dia sudah melakukan cuci darah. Kukatakan, dia
hanya perlu tiga bulan cuci darah. Padahal, dia harus melakukan
seumur hidupnya.

Sulit sekali bagi Mas Radhar menerima kenyataan ini. Ketika cuci
darah, dia pasti marah sama kepadaku. Aku yakin, itu bukan sifat
aslinya, setahuku Mas Radhar sosok pria yang romantis. Sampai dua
tahun Mas Radhar begitu terpukul. Ia tidak mau menemui siapa pun
termasuk sahabatnya.

Mas Radhar memang syok dengan cuci darah ini. Apalagi cuci darah ini
mengharuskan tangannya dioperasi untuk memudahkan jarum cuci darah
masuk ke dalam tubuhnya. Sampai saat ini, aku tidak berani melihatnya
ketika sedang melakukan cuci darah. Aku tidak tega melihat tangannya
disuntik dengan jarum yang ukurannya besar.

 KEMBALI RAJIN MENULIS
Selama itu pula, aku berusaha membangkitkan semangatnya. Aku tidak
mau dia putus asa. Pelan-pelan, aku mengajari dia menulis kembali
dengan membawa komputer ke tempat tidurnya. Awalnya dia menolak,
namun aku pantang menyerah. Lama kelamaan, Mas Radhar mau menulis
kembali. Salah satunya, dia menulis puisi Tak Siapa Pun di Situ.
Puisinya bercerita mengenai penyakit yang hinggap di tubuhnya.

Selain itu, Mas Radhar belakangan rajin menulis artikel dan esai
tentang budaya di berbagai media. Prestasinya pun semakin bersinar.
Cerpennya Sepi Pun Menari di Tepi Hari, tahun lalu terpilih menjadi
cerpen terbaik pilihan Kompas.

Hanya saja aku sering sedih karena Mas Radhar banyak larangan. Dia
tidak boleh banyak minum. Sebab, seseorang yang menderita gagal
ginjal dan melakukan cuci darah, tidak bisa memproduksi urine.

Kalau minum terlalu banyak, air akan menggenang di seluruh rongga,
termasuk merendam jantung dan paru-paru. Untuk mencegah haus, saat
bepergian, Mas Radhar selalu membawa termos es. Dia selalu mengemut
es agar penggenangan air tidak terjadi." Minum es, kan, membuat Mas
Radhar cuma sedikit mengonsumsi es. Setelah cuci darah, dia hanya
boleh minum air sebanyak 500 cc, termasuk air yang terdapat dalam
sayuran dan buah.

Lantas dari mana dana untuk cuci darah? Berkat bantuan Ibu Pia
Alisyahbana, dia bisa melakukan cuci darah. Ibu Pia juga membantu
biaya rawat inap Mas Radhar di rumah sakit. Aku sangat berterima
kasih dengan bantuan Ibu Pia yang berakhir Januari lalu.

Aku tetap mencari dana tambahan untuk biaya cuci darah yang dilakukan
rutin tiga kali dengan waktu lima jam dalam seminggu. Lama kelamaan,
biaya untuk memenuhi kebutuhan rumah semakin menipis. Aku meminta
izin Mas Radhar untuk bekerja kembali.

Aku belajar membuat lontong yang diajarkan ibu mertuaku. Aku jajakan
di sekitar gedung perkantoran. Meski hasilnya tidak sebesar pekerja
kantoran, bisa membantu biaya kebutuhan rumah tangga. Selain itu,
sejak Januari lalu, aku kembali kerja kantoran.

YAKIN AKAN KEMBALI
Sayang, sejak aku kembali bekerja, hubunganku dengan Mas Radhar jauh.
Mas Radhar ingin membahagiakanku dengan pergi menjauh dari kami.
Bahkan, aku diminta mencari Radhar lainnya. Dia merasa tidak bisa
membahagiakan aku secara lahir dan batin. "Berikan saya waktu untuk
sendirian," katanya seraya memintaku untuk tidak menghubungi dia.

Tentu saja aku tidak mungkin memenuhi keinginan untuk mencari
pengganti dia. Permintaannya justru sangat menyakitkan hatiku. Ah,
biarlah di sisa hidupnya, Mas Radhar berbuat apa yang dia inginkan.
Sungguh aku sayang padanya. Sejak menikah dengannya, aku tidak pernah
menoleh laki-laki lain. Mas Radhar adalah segala-galanya buatku.

Sejak kepegiannya, aku juga merasa tidak betah di rumah. Sebab,
setiap aku duduk di ruang tamu, mataku selalu memandang ke pintu
pagar rumah, untuk menanti kepulangannya. Kalau aku sudah tidak kuat
lagi, aku pergi bersama Cahaya dengan tujuan untuk menenangkan diri.
Kadang aku kasihan melihat Cahaya yang kini duduk di TK B. Ketika
bangun tidur, dia selalu menanyakan ayahnya. Aku yakin, Mas Radhar
tahu kerinduan Cahaya. Makanya aku berharap, Mas Radhar harus percaya
adanya mukjizat. Aku tahu, dia punya semangat tinggi.

Mudah-mudahan perpisahan sementara ini semakin menguatkan hubungan
kami. Biarkan aku sendirian di rumah ini untuk menjaga Cahaya Prima
Putra Dahana. Aku yakin, Mas Radhar akan kembali kepadaku. Aku selalu
berdoa, Tuhan akan mengembalikan dia kepada kami.

Sumber: Tabloid Nova


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke