Hati-hati Selingkuh
Hati!<http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2010/02/23/815/Hati-hati-Selingkuh-Hati>



Selingkuh seperti sebuah kecelakaan tak disengaja yang lalu dinikmati efek
'tabrakannya'. Seperti juga mencuri mangga tetangga terasa lebih nikmat
daripada beli sendiri. Begitulah kira-kira perumpamannya. Ada rasa takut
yang menyelip tetapi nikmat, seperti adrenalin yang berpacu di dalam tubuh.



Lalu, muncul di sesela hati tentang perasaan lain, mulai membeda-bedakan apa
yang didapat di dalam rumah dengan yang didapatnya di luar rumah. Ada
perasaan hangat teraliri dalam tubuh karena merasa diperhatikan, lalu
parahnya timbul perlahan rasa takut kehilangan pada orang yang salah. Aneh?
Tidak juga.



Fenomena selingkuh memang sudah makin merajai di kalangan wanita bekerja. Di
tengah himpitan beban pekerjaan yang menumpuk, tak lagi intens membuka
komunikasi dengan suami dan hanya sebatas membahas hal-hal penting saja,
tentang anak atau keperluan rumah tangga, ditengarai sebagai pemicu
terjadinya perselingkuhan.



Tak dipungkiri, wanita butuh mengungkapkan perasaan mereka dan curhat
menjadi sarana yang tepat. Dimulai dari sekedar makan siang bersama sahabat
pria, curhat tentang pekerjaan lalu makin akrab dan tak sadar telah
melanggar batas-batas yang ada, menjurus pada persoalan pribadi.



Memang betul pepatah yang mengatakan, terlalu berlebihan itu memang tidak
baik. Begitu juga saat curhat, jika dosisnya berlebihan dan terus berkembang
ke arah obrolan mesra, berhati-hatilah. 'Bahaya curhat' mengintai saat Anda
dan pasangan selingkuh mulai main kucing-kucingan, bertemu dan berkomunikasi
di jam-jam yang telah disepakati bersama. Tak dipungkiri makin canggihnya
teknologi yang memberi kemudahan komunikasi tanpa batas, baik lewat sms atau
chatting di 'kotak pesan', para selingkuhers berlomba-lomba melakukan dosa
indah. Acara 'kopi darat' pun jadi semakin lancar jaya.



Kondisi inilah yang lalu memunculkan emotional affair atau dalam istilah
umumnya, selingkuh hati. Hal ini terjadi karena kita merasa memiliki
'chemistry' dengan pria selain pasangan. Bukan tentang berbagi kenikmatan
bersetubuh saja, tetapi lebih karena hati dan perasaan yang terlibat di
dalamnya. Sensasi 'cinta terlarang' yang menggelora itu bahkan sama dengan
kenikmatan saat intim. Inilah yang kemudian diistilahkan dengan head sex.



Konon banyak orang mengatakan bahwa pria lebih senang melakukan
perselingkuhan tubuh tanpa melibatkan hati (no hard feeling). Sedang wanita
sebaliknya, cenderung melibatkan perasaan mereka. Hal ini tentu saja
berdampak parah bagi wanita. Saat wanita disibukkan dengan khayalan dibuai
'cinta terlarang', para prianya malah merasa biasa-biasa saja.



Tak dipungkiri juga, saat pria intens membuka komunikasi dengan sahabat
perempuannya, para pria itu menyelipkan hidden agenda yaitu curhat berakhir
sesi 'get laid' dengan sahabat perempuan. Fatalnya, jika ini sudah terpenuhi
maka gairah perselingkuhan itupun tak lagi membara. Sementara di lain sisi,
wanita sudah terlanjur melibatkan hati dan emosinya, hingga semakin sulit
melepaskan dan timbul rasa ingin memiliki. Gotcha!, inilah akibatnya, para
wanita itupun lalu terjebak dalam hubungan tanpa status.



Lalu, jika Anda sudah terlibat selingkuh hati, apakah lebih baik mengakui
hal ini kepada pasangan atau lebih baik diam? Jawabannnya, tergantung pada
situasi dan niat. Jika ingin tetap mempertahankan cinta terlarang itu, maka
perkawinan Anda beresiko bubar jalan. Namun jika memilih mengakui cinta
terlarang itu hadir dalam perkawinan Anda dan pasangan, maka konsekuensinya
pasangan Anda akan kecewa dan itu tugas Anda untuk menyembuhkan luka
hatinya.



Bila Anda memilih mengakhiri 'cinta terlarang' itu, ada baiknya segera
hentikan semua bentuk tindakan yang mengarah pada penunjukan rasa sayang,
seperti ngobrol mesra atau janji kencan. Bicarakan hal ini dari hati ke hati
dengan pasangan. Saat melakukan 'pengakuan dosa', pertimbangkan juga momen
yang tepat dan kesiapan mental pasangan, ini mencegah agar tak menimbulkan
masalah baru. Dengan kepala dingin, Anda dan pasangan bisa saling
instropeksi dan mencari win-win solution.



Selingkuh hati adalah 'alarm pembangun'. Saat mulai terjadi ketidakberesan
dalam perkawinan Anda, alarm itu akan berbunyi. Agar alarm peringatan itu
tak berbunyi, mulailah ciptakan kebersamaan dan keterbukaan dengan pasangan
setiap saat. Sebagai contoh, Anda bisa meluangkan waktu sejenak setelah
pulang kantor untuk bermanja-manja dengan pasangan.



Perlu Anda ketahui, selingkuh apapun itu jenisnya adalah bentuk pelarian
sesaat. Selingkuh hanyalah milik pengecut yang tidak bisa menerima kenyataan
hidup. Sebelum berujung menyakitkan hati Anda, teman selingkuh Anda, dan
masing-masing pasangan, segeralah perselingkuhan itu diakhiri. Anda tentu
tidak akan mau 'terbakar' kan?, jadi jangan pernah 'bermain api'.



Dar berbagai sumber.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke