Tangis 40 Hari 40 Malam


Sesudah melakukan dosa terkutuk itu, Daud, sang Nabi, menangis 40 hari 40
malam.
Ia bersujud. Tak sejenakpun mengangkat kepalanya.

Keningnya bagai menyatu dengan tanah. Air matanya meresap membasahi tanah
tandus itu sehingga tumbuhlan reumputan. Rerumputan itu kemudian meninggi
merimbun dan menutupi kepalanya.

Allah menyapanya.


Bertambah nangis ia, meraung dan terguncang-guncang. Pepohonan di sekitarnya
bergayut berdesakan satu sama lain mendengar raungan itu, kemudian
daun-daunnya rontok, kayu-kayunya mengering, oleh duka derita dan penyesalan
Daud yang diresapimya.


Dan Allah masih juga 'menggoda'nya: "Daud, Engkau lupa akan dosamu. Engkau
hanya ingat tangismu."


Dan sang Nabi terus berjuang dengan air matanya.



Air mata kehidupan Daud bagai samudera.


Kesungguhan Daud terhadap nilai-nilai ketuhanan -- ya nilai kehidupan ini
sendiri -- bagai samudera.
Adapun saya, yang hidup ribuan tahun sesudah Daud, hanya pernah menitikkan
air mata beberapa cangkir. Juga apa yang saya bisa sebut air mata ruhani
saya.


Di dalam zaman yang telah jauh maju ke depan ini, barangkali saya bersemayam
di kehidupan yang ringan dan riang melakukan dosa-dosa.


Emha Ainun Nadjib,

Dari buku "Secangkir Kopi Jon Pakir", Penerbit Mizan, 1995


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke