Perubahan

Anne sudah bekerja dua tahun lebih sebagai marketing support manager
di sebuah perusahaan kontraktor yang cukup besar. Anne senang bekerja
di sana. Atasannya baik, suasana kerja menyenangkan, hubungannya
dengan rekan-rekan kerja lainnya juga sudah sangat baik. Kadang-
kadang memang dia mengalami kejenuhan dalam bekerja, tapi masih dapat
diatasi sendiri olehnya.
Suatu hari Danny, atasannya menghubungi Anne. Danny berniat
memindahkan Anne sebagai branch manager di cabang baru yang akan
dibangun di pinggir kota. Danny menjelaskan bahwa Anne bisa
memperoleh komisi yang sangat besar sebagai kepala cabang. Danny
sendiri dulu sudah pernah bekerja sebagai kepala cabang di perusahaan
itu selama dua tahun, dan waktu itu sudah bisa membeli mobil mewah.
Cabang-cabang yang dipimpinnya sangat berhasil. Betul-betul menarik.

Meskipun tertarik, namun Anne ragu-ragu. Keraguan yang utama adalah
ketakutan. Ketakutan untuk berubah. Ketakutan untuk meninggalkan
kenyamanan yang dinikmatinya selama ini.

Suasana kerjanya sekarang sudah dirasakannya sangat menyenangkan.
Semua karyawan merasa akrab. Bagaimana kalau orang-orang di nanti
tidak sebaik di sini? Bagaimana kalau orang-orang di cabang tidak
bisa cocok dengannya? Bagaimana kalau suasana kerja tidak seakrab di
sini? Lagipula, hatinya berat meninggalkan teman-temannya. Mereka
semua sudah sangat dekat.

Apalagi Anne belum memiliki pengalaman di bidang itu sama sekali.
Bagaimana kalau dia gagal? Bagaimana kalau dia tidak berhasil
mengembangkan cabang yang dipimpinnya? Bagaimana kalau dia gagal tapi
ternyata sudah tidak bisa kembali ke jabatannya yang lama? Bagaimana
kalau dia kemudian dipecat? Karena belum berpengalaman, Anne juga
sama sekali tidak memiliki rasa percaya diri. Intinya, Anne takut.

Anne betul-betul bingung. Akhirnya dia tidak tahan. Anne menghadap
Danny, atasannya, dan menceritakan persoalan yang sangat memberatkan
hatinya ini. Anne berterus terang menanyakan pendapat atasannya.
Sebagai atasan, Danny mengatakan bahwa bila dilihat dari segi
kemampuan, dia yakin Anne bisa bekerja sebagai kepala cabang. Memang
akan ada banyak masalah. Tapi, dia yakin Anne pasti bisa
mengatasinya.

Anne agak terhibur dan termotivasi. Dia tetap merasa takut, tapi kini
Anne berusaha mencari cara agar ketakutannya berkurang. Pertama, Anne
mengumpulkan data teman-temannya di kantor pusat. Dia mencatat secara
rinci semua data mereka. Dari nama dan alamat, hingga tanggal lahir,
hobi, dan lain-lain. Dengan demikian, Anne merasa lebih mudah
berhubungan dengan mereka lagi nantinya. Kepindahannya bukan berarti
perpisahan untuk selamanya.

Kedua, Anne menggunakan waktunya yang masih sekitar dua bulan lagi
untuk belajar. Anne minta pada atasannya agar diizinkan magang di
kantor cabang yang lain terlebih dahulu. Anne ingin belajar dari
kantor cabang yang sudah besar. Danny mengizinkan.

Maka keesokan harinya Anne langsung pindah ke salah satu cabang
terbesar perusahaan itu. Di sana Anne mengamati cara kerja kepala
cabangnya. Anne mengikuti semua rapat, membaca semua laporan, ikut
menemui pelanggan, dan mengadakan pembicaraan dengan semua karyawan
di sana, dari manajer sampai office boy.

Anne benar-benar berusaha menjiwai kehidupan di cabang. Dia mulai
dari berusaha untuk mengenal orang-orang di sana. Anne mempelajari
tugas setiap orang, mempelajari kesulitan yang mereka hadapi, cara-
cara mereka mengatasi kesulitan tersebut, konflik yang terjadi antara
karyawan baik dengan pihak luar negeri.maupun dengan pelanggan atau
dengan pihak luar lainnya, gosip yang beredar di sana, harapan
mereka, strategi mengatur waktu, pengambilan keputusan, memotivasi
karyawan, mengawasi keluar masuknya barang, dan memperhatikan orang
lain.

Mula-mula Anne pusing. Tapi kemudian dia menemukan cara untuk
menghindari rasa pusing. Anne mulai membagi-bagi kegiatannya,
misalnya tiap Senin dia ikut rapat di pagi hari, bertukar pikiran
dengan atasan tentang rencana minggu berikutnya, mengatur gudang,
interview dengan karyawan di kantor belakang.

Selasa Anne harus berbicara dengan orang bagian keuangan di cabang
untuk mengetahui bagaimana laporan keuangan dibuat, bagaiman aliran
uang kas, bagaimana prosedur pembayaran dan penagihan. Demikian
seterusnya, Anne mengatur waktu belajarnya sendiri.

Setelah berada di cabang, Anne baru mulai merasakan bahwa
ketakutannya selama ini tidak beralasan. Orang-orangnya juga baik-
baik. Suasana kantor cabang juga menyenangkan. Dulu dia takut
berubah, tapi kini ternyata dia mampu menyesuaikan diri. Malah
kemarin Anne sudah mulai bisa menikmati perubahan tersebut.
Motivasinya meningkat. Ternyata perubahan ada gunanya.

Anne baru sadar bahwa selama ini dia takut berubah. Takut
meninggalkan kenyamanan yang telah dimiliki. Takut memulai sesuatu
yang baru. Padahal perubahan itu perlu. Change is a chance to
develop. No need to be afraid!

Sumber: Perubahan oleh Lisa Nuryanti, Director Expands Consulting &
Training Specialist


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke