Kantor Berita Common Ground Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK) Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh 27 Oktober - 02 Nopember 2006 Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini. <http://www.commongroundnews.org/edition.php?sid=1&lan=ba> Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK) bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Untuk berlangganan, klik di sini. <http://www.sfcg.org/template/lists.cfm?list=cgnewspihindonesian> Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi website kami: www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/index.php?sid=1&lang=ba> . Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor Berita Common Ground (CGNews). Dalam edisi ini 1) Aliansi IslamBarat Melawan Sektarianisme di Iraq <http://groups.yahoo.com/group/Sastera/post?referer=/group/Sastera/&use_\ rte=1#3037> oleh Mehlaqa Samdani Penulis freelance, Mehlaqa Samdani, membahas peran yang dapat dimainkan oleh dunia Muslim dan Barat dalam mengurangi konflik sektarian di Iraq. Menyoroti para pemain utama di Iraq dan mereka yang mampu menggerakkan opini publik, Mehlaqa menyusun daftar tindakan yang bisa diambil dalam menyatukan sektesekte yang ada dan menjelaskan bagaimana Barat seharusnya mendukung usahausaha ini. (Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 23 Oktober, 2006) 2) ~PANDANGAN KAUM MUDA~ Bertemu MuridMurid Sebuah Madrasa di Amerika <http://groups.yahoo.com/group/Sastera/post?referer=/group/Sastera/&use_\ rte=1#3038> oleh Chinki Sinha Chinki Sinha, seorang penulis asal India yang tinggal di New York, menggambarkan kunjungannya ke sebuah madrasa di Massachusetts. Menghiasi tulisannya dengan sejarah singkat sekolahsekolah Islam dan stereotipestereotipe yang mereka hadapi, blakblakan Sinha memaparkan kesankesannya bertemu muridmurid sekolah tersebut saat ia "mewawancarai" mereka. (Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 23 Oktober, 2006) 3) Umat Muslim Menginginkan Demokrasi: Wawancara dengan Radwan Masmoudi <http://groups.yahoo.com/group/Sastera/post?referer=/group/Sastera/&use_\ rte=1#3039> oleh Paul Kengor dan Michael Coulter Dalam wawancara yang diterbitkan oleh Charlotte Observer, dua orang dosen, Paul Kengor and Michael Coulter bertanya pada Radwan Masmoudi, pendiri Center for the Study of Islam and Democracy yang berbasis di Washington, mengenai berbagai persoalan tentang demokrasi, syari'ah dan dunia Muslim. Benarkah umat Muslim menginginkan demokrasi? Mungkinkah itu terjadi di Iran? Iraq? Elemenelemen apakah yang ada dalam ajaran Islam yang dapat dipahami sebagai "liberal"? (Sumber: Charlotte Observer, 6 Oktober, 2006) 4) Di Balik Niqab <http://groups.yahoo.com/group/Sastera/post?referer=/group/Sastera/&use_\ rte=1#3040> oleh Salama A Salama Salama A Salama, kontributor tetap Al Ahram, berkomentar tentang niqab, tudung yang dikenakan sebagian perempuan Muslim untuk menutupi seluruh wajahnya. Tanpa melepaskan persoalan politik atau agama, Salama menyarankan agar kita berdiskusi dengan para perempuan yang mengenakan niqab. (Source: Al Ahram, 1925 October 2006) 5) RUU Perancis Memperumit Permohonan UE Turki <http://groups.yahoo.com/group/Sastera/post?referer=/group/Sastera/&use_\ rte=1#3041> oleh Scott Peterson Scott Peterson, penulis Christian Science Monitor, membahas apa arti keputusan Perancis akan penyangkalan genosida orangorang Armenia bagi permohonan Turki menjadi anggota Uni Eropa (UE) dan kebebasan berbicara. Orhan Pamuk, penerima Hadiah Nobel asal Turki, yang telah dituduh mencemarkan Turki karena berbicara tentang orangorang Armenia yang terbunuh selama PD I, menyatakan, "Apa yang saya sampaikan bukan cercaan, tetapi kebenaran. Jikapun salah, apakah orang tak boleh menyampaikan gagasannya dengan damai?" (Sumber: Christian Science Monitor, 13 Oktober 2006) 1) Aliansi IslamBarat Melawan Sektarianisme di Iraq Mehlaqa Samdani Pittsfield, Massachusetts Ketika dunia Muslim dan Barat tampak merenggang, penanggulangan konflik sektarian di Iraq menyodorkan kesempatan unik bagi kedua belah pihak untuk bekerja sama dan mencapai tujuan yang sama. Bahu membahu antara aktoraktor masyarakat sipil Muslim dan kelompokkelompok Barat tak hanya menjembatani sektesekte yang terpecah belah di Iraq namun juga menambal rasa saling curiga yang berkembang di antara dunia Muslim dan Barat.
Minggu lalu, Organisasi Konferensi Islam (OKI) mengadakan pertemuan dengan kaum Syi`ah Iraq dan ulama Sunni. Pertemuan itu menghasilkan delapan butir pernyataan yang disebut Dokumen Mekkah. Dokumen tersebut berusaha mencegah kaum Syi`ah dan Sunni saling membunuh. Inilah prakarsa nyata pertama dunia Muslim dalam menghentikan peperangan antar sekte di Iraq. Tentu saja ia tak boleh berhenti di sana dan mungkin akan lebih baik jika dibumbui usahausaha penciptaan masyarakat madani. Pertemuan di Mekkah seharusnya ditindaklanjuti dengan penciptaan sebuah forum Syi`ah dan Sunni Iraq. Tujuan utama forum ini adalah mengeluarkan fatwafatwa yang menangkal hasutan Abu Hamza AlMuhajir, sang pengganti Zarqawi. Setiap pernytaan yang dilontarkan oleh para ekstrimis menunjuk kaum Syi`ah sebagai cucu Ibn AlAlqami (vizir Syi`ah yang terlibat dalam penyerangan Mongol ke Baghdad pada tahun 1258) dan kekerasan terhadap mereka (kaum Syi`ah) harus ditolak mentahmentah oleh forum tersebut berdasarkan ayatayat Qur'an dan pesanpesan Nabi Muhammad yang mendorong persatuan dan kesatuan umat. Ulama, pemegang tampuk kekuasaan sesungguhnya, memiliki peran vital dalam hal iniotoritas dan pengaruh mereka terhadap rakyat jauh melebihi pemerintah. Tanpa campur tangan pemimpin spiritual Ayatollah Sistani, Iraq pasti sudah lama jatuh dalam perang sipil. Meski tetap meneriakkan provokasiprovokasi khas milisi Sunni, ia menasehati pengikutnya untuk menahan diri. Pertemuan Mekkah dan deklarasi yang dihasilkannya harus ditebarkan dalam mimbarmimbar Jumat dan mediamedia di Iraq musti memanfaatkannya untuk mendorong dialog antara ulama Sunni dan pengikut Syi`ah moderat di seluruh negeri. OKI seharusnya juga berkoordinasi dengan mantan presiden Iran, Mohammad Khatami, yang mengepalai International Center for Dialogue yang berkantor pusat di Jenewa. Negaranegara anggota OKI dan negaranegara pendonor seharusnya memberikan dana pada lembaga tersebut dan mensponsori kegiatan kemah perdamaian Syi`ahSunni bagi pelajarpelajar Iraq mengikuti model Seeds of Peace. Para praktisi resolusi konflik dari Amerika dan Eropa diundang untuk memberikan workshopworkshop perdamaian yang mengajarkan generasi muda Iraq untuk menyelesaikan konflik secara damai dan mengubah stereotipestereotipe keji mereka terhadap satu sama lain. Dokumen Mekkah seharusnya juga menciptakan sebuah basis untuk membicarakan perbedaaan theologis yang semakin lebar antara dua sekte tersebut. Secara historis, ahliahli theologi telah berusaha melakukan rekonsiliasi. Prakarsa paling penting diambil di Kairo pada tahun 1946 dengan terbentuknya Jamat al Taqrib (Kelompok Penyesuaian). Kelompok ini ingin menyatukan berbagai aliran pemikiran Islam dan memberikan pengakuan terhadap legal code Syi`ah sebagai aliran jurisprudensi tersendiri. Tahun 1959, Mohammad Shaltut, kepala Universitas AlAzhar mengakui Dua Belas Imam Syi`ah sebagai sebuah aliran dan menyampaikan fatwa yang mendukung mereka. Jamat al Taqrib, terkadang diserang oleh kelompokkelompok ekstrim Sunni dan akhirnya berhenti di tahun 1972. OKI harus menghidupkan kembali prosesproses seperti itu dengan memapankan generasi baru ahliahli theologi yang sejalan, baik di Iraq maupun di seluruh dunia Muslim. Organisasiorganisasi pembinaan di Iraq juga bisa turut mengurangi perselisihan antar sekte. Kelompokkelompok Muslim seperti Islamic Relief dan Muslim Aid bisa membentuk program bersama bagi kaum Syi`ah dan Sunni, mengeluarkan uang tambahan bagi komunitaskomunitas di mana dua sekte setuju bekerja sama. Entah memformulasikan programprogram kekaryaan di masyarakat atau proyekproyek berdana kecil, yang penting menyatukan kedua sekte tersebut. Peran serta Barat pada prakarsaprakarsa ini cukup dalam asistensi keamanan. Pasukan koalisi di Iraq memiliki peran kritis dalam mengembangkan perlindungan bagi berbagai prakarsa perdamaian yang disebutkan di muka. Organisasiorganisasi pembinaan, media massa, dan aktoraktor masyarakat madani lainnya tak henti menjadi target. Mereka membutuhkan perlindungan untuk bekerja secara efektif. Jika perlu, pasukan koalisi harus menyediakan pengamanan tambahan bagi tokohtokoh masyarakat madani agar mereka dapat meningkatkan kredibilitas dan popularitas pendahulu mereka di antara penduduk lokal. Para pemimpin Barat juga harus menyanjung usaha masyarakat madani dalam menghentikan konflik sektarian tersebut di depan publik, menjanjikan dukungan mereka melalui sebuah konferensi donor. Karena prakarsaprakarsa masyarakat madani relatif berbiaya rendah, negaranegara Barat pasti tak keberatan mengucurkan dana, apalagi hal itu akan meningkatkan citra mereka di mata rakyat Iraq dan dunia Muslim secara lebih luas. Seluruh mata tertuju pada rancangan perdamaian Perdana Menteri Nour Al Maliki untuk menyatukan partaipartai politik di pemerintahannya. Agar rencana tersebut diterima oleh banyak kalangan, ia harus disisipi prakarsaprakarsa perdamaian di tingkat akar rumput. Sebuah strategi efektif yang dilakukan oleh kelompokkelompok Barat dan aktoraktor masyarakat madani Islam dapat terus berjalan dengan membangun gereasi iraq masa depan yang mampu resisten terhadap sulutan kelompok keagamaan dan politik yang ekstrim. ### * Mehlaqa Samdani adalah seorang penulis feelance yang tinggal di Pittsfield, Massachusetts. Artikel ini didistribusikan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan bisa di akses di www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/> . Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 23 Oktober 2006, www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/> Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh. 2) ~PANDANGAN KAUM MUDA~ Bertemu MuridMurid Sebuah Madrasa di Amerika Chinki Sinha Syracuse, New York Kurang lebih lima menit jaraknya dari stasiun Mansfield di Massachusetts berdiri sebuah bangunan uzur. Sebuah gereja, begitulah tampangnya dari luar. Salib di bumbungannya koyak moyak. Hanya ada satu balok, tengadah ke langit. Patil horisontalnya hilang entah ke mana. Sebuah papan kecil di tembok menyebutkan bahwa bangunan tersebut adalah AlNoor Academy. Sebuah bendera imut berwarna hijau dan bertuliskan hurufhuruf Arab di gagangnya mencuat dari salah satu jendela gedung. Di atas pintu gerbang bertahta sesabit bulan, yang tampak asing dan aneh. Tak ada menara, tak ada simbolsimbol, atau apa pun, yang mengisyaratkan pada orangorang lewat bahwa ia adalah sebuah sekolah Islam. AlNoor dalam bahasa Arab artinya "cahaya", bisa pula berarti "kebenaran" sebagaimana ekspresi bahasa Inggris, "to see the light". Sekolah tersebut merupakan satusatunya sekolah menengah Islam di Massachusetts. Didirikan pada bulan September 2000, ia memiliki sekitar 75 siswa. Mereka berasal dari tempattempat seperti Rhode Island dan Dorchester, melakukan perjalanan selama satu jam untuk datang ke sekolah. Sekolah Islam sering disebut madrasa, kata bahasa Arab untuk sekolah yang juga diadopsi oleh bahasabahasa lain, bahasa Urdu atau Indonesia misalnya. "Sekolah ini bisa juga disebut AlNoor Madrasa," ujar salah seorang pendirinya, Dr. Saeed Shahzad. Madrasamadrasa sudah ada semenjak Abad ke 11. Tepatnya ketika Nizamiyah, sebuah pusat pembelajaran, didirikan di Baghdad. Kebanyakan berbentuk pondok dan memberikan makanan serta asrama gratis bagi para siswa. Mereka mengajarkan agama dan mendidik muridmurid untuk memahami syariah dan hadis. Saat ini, madrasamadrasa di Asia Selatan, terutama di Pakistan dan Afghanistan, dituduh mempromosikan terorisme oleh media massa. Mullah Mohammed Omar, seorang murid Darul Uloom Haqqania, sebuah madrasa di Pakistan, menyokong rejim Taliban di Afghanistan pada tahun 1960an. Berdasarkan reputasi ini, saya tergelitik untuk mengetahui lebih jauh perihal muridmurid Al Noor. Sesampainya di dalam sekolahan, saya menarik jilbab agak ke bawah hingga menutupi seluruh helai rambut di wajah. Ketika Robert Mond, sang kepala sekolah, muncul, ia menanyakan apakah saya ingin mengunjungi sebuah kelas. Kelas IPS baru saja dimulai. Gadisgadis kelas 10 di ruangan itu tampak penasaran melihat saya. Mereka tengah melakukan presentasi tentang Jepang dewasa ini. Seorang gadis membuka presentasi tersebut. Lampulampu pun dimatikan. Mata saya menelusuri seluruh ruangan, dan ketika sampai pada peta yang terpasang di dinding, saya mencari apakah Israel ada di sana, apakah Israel merupakan bagian dari dunia mereka. Ternyata ada. Remajaremaja putri itu ingin berbicang dengan saya. Setelah pelajaran selesai, kami lantas duduk di sebuah ruangan kelas yang kosong. Mereka duduk di seputar saya. Tiga orang dari mereka. Tiga buku hardcover berbahasa Arab tergeletak di meja. Mungkin ini kelas Bahasa Arab. Sono Ghori, Zainab Mehtar, dan Fatimah Mahdee, tak tahan untuk segera membuka mulut mereka, terkadang mereka saling memotong pembicaraan satu sama lain. Mereka mencintai hijab mereka, agama mereka, juga Amerika. Di sinilah mereka di lahirkan. Di Amerika. Seberapapun sulitnya mereka menyesuaikan diri. Sono, 14 tahun, seringkali diejek: "Kau anak Osama atau istrinya?" Sono memakai hijab semenjak kecil. Ibundanya sendiri tak mengenakan hijab, namun ia tak melarang putrinya. Sono memiliki mata yang besar, berbinarbinar saat bibirnya menari. Terlingkupi gaun biru dari kepala hingga ujung kaki, ia dilahirkan di kalangan imigran Pakistan. Ia mengatakan bahwa citacitanya adalah menjadi pengacara, hingga dapat merubah kondisi politik Amerika, negerinya. Tentang Israel, tentu saja dia tahu. "Saya cinta Amerika, namun ..," suaranya surut menghilang. Sono merasa jika ia masuk sekolah umum, ia akan terpengaruh ikutikutan pergi ke pesta bersama temantemannya. Ia juga merasa jika bergaul dengan orang nonMuslim akan membuatnya melakukan halhal yang dilarang oleh agamanya, seperti melawan orang tua, yang dalam Islam merupakan sebuah dosa. "Menurut Islam, surga berada di bawah telapak kaki bunda," tuturnya. Zainab, 14 tahun, bercitacita menjadi jurnalis, agar dapat menuliskan kebenaran. Berbeda dengan Sono, Zainab pendiam. Kedua orang tuanya berasal dari Burma. Ia menjelaskan pada saya bagaimana sekolah Minggu di masjid tak cukup untuk mempelajari atau menyelami agama mereka. Ayahnya juga mengajarnya di rumah. Syukurlah di sekolah seperti Al Noor ini, ia bisa belajar lebih banyak dan lebih bebas menjalankan ajaran agamanya. Ia menyatakan sangat terkejut ketika saya menceritakan laporanlaporan yang menuduh sekolahsekolah Islam mempromosikan terorisme. Langsung ia mengajukan sebuah ide. Semua orang harus datang ke madrasahmadrasah, agar dapat melihat kebenarannya. Sayangnya, bel sekolah berbunyi. Zainab bergegas melaksanakan sholat Ashar. Gaun birunya terseret di belakangnya. Gadis ketiga, Fatimah, 15 tahun, sedikit bicara anaknya. Kedua orang tuanya masuk Islam sebelum ia lahir. Meski ia memeluk agama Islam semenjak lahir, saudarasaudara kandungnya tidak. Mereka tetap menjalani keyakinan masingmasing. Mereka berpesta, berjalanjalan, dan melakukan halhal lain yang tak pernah ia lakukan. Fatimah memahami semua itu. Ini adalah Amerika dan seperti itulah kehidupannya. Fatimah bercitacita menjadi ahli kardiologi dan membaktikan diri bagi masyarakat berkulit hitam, keluarganya. Lihatlah, tak satupun dari mereka bercitacita menjadi teroris. Sebuah percakapan yang normal, pilihanpilihan normal, gadisgadis normal. ### * Chinki Sinha seorang penulis asal India yang tinggal di New York. Artikel ini didistribusikan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan bisa diakses di www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/> . Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 23 Oktober, 2006, www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/> Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh. 3) Umat Muslim Menginginkan Demokrasi: Wawancara dengan Radwan Masmoudi Paul Kengor dan Michael Coulter Dr. Masmoudi, Benarkah umat Muslim dan masyarakat Arab menginginkan demokrasi? Lebih dari 90 persen masyarakat Arab dan umat Muslim di 10 negara berpenduduk mayoritas Muslim yang telah dimintai pendapat memandang demokrasi sebagai bentuk pemerintahan terbaik. Jajak pendapat lainnya menyatakan lebih dari 80 persen penduduk dunia Arab tak ingin hukum syari'ah dijadikan sebagai hukum negara mereka. Mereka mengatakan ingin pemerintahan mereka berlandaskan nilainilai Islam, tapi tak ingin implementasi syari'ah yang kaku. Jadi ada perlawanan dari dalam jiwa umat Islam dan ini bukan terjadi kemarin atau setelah 911, tetapi jauh sebelumnya, paling tidak satu abad yang lalu, bersamaan dengan hasrat akan modernisasi di dunia Islam. Penduduk Mesir malah menginginkan reinterpretasi ajaran Islam lebih dari seratus tahun lalu. Dalam terbitan Anda, Muslim Democrat, Anda membicarakan elemenelemen dalam Islam yang dapat diinterpretasikan sebagai "liberal". Bisakah Anda menjelaskannya? Kebebasan beragama itu sangat pentingtak ada paksaan dalam beragama. Memaksakan agama itu bertentangan dengan tujuan agama itu sendiri, bertentangan dengan kehendak Tuhan. Islam sangat menekankan agar seseorang memutuskan sendiri keimanannya. Ada banyak contoh diberikan dalam sejarah Islam, bagaimana orangorang di masjid berdebat mengenai eksistensi Tuhan, terutama pada tiga abad pertama. Saya percaya agama mustilah sebuah pilihan. Itulah yang Tuhan inginkan. Dua prinsip politik yang dituntunkan dalam Qur'an adalah keadilan and shura. Shura itu perundingan, musyawarah. Persoalannya tak ada institusi atau metode yang menunjukan bagaimana musyawarah itu seharusnya dilakukan. Menurut saya, umat Muslim gagal memahami pesan dan menerapkan gagasan ini. Menurut Anda manakah negara Arab atau Muslim di Timur Tengah yang mampu melaksanakan demokrasi, sehingga bisa dijadikan contoh? Mungkinkah Iran? Membicarakan negara Muslim secara umum, saya akan mengajukan Turki sebagai contoh. Turki sungguh sebuah contoh yang baik bagi masyarakat dan negara Muslim yang demokratis. Saya pernah mengunjungi Iran dan Turki. Penduduk Iran barangkali merupakan masyarakat relijius terakhir saat ini. Itu karena pemerintah Iran mencekokkan agama ke mulut mereka. Sesungguhnya ada perlawanan terhadap agama di Iran, karena para mullah mencoba memerintah atas nama Islam dan mereka sangat tidak demokratis dalam melakukan hal itu. Penduduk Iran mulai membenci pemerintah dan anakanak muda mereka membenci agama. Turki benarbenar kebalikannya. Turki adalah negara yang tak memaksakan agama apa pun pada penduduknya, namun penduduk Turki termasuk yang paling relijius di Timur Tengah dan dunia Muslim. Apabila Anda ingin meyakinkan seorang pemimpin Islam bahwa sebuah negara Islam yang memaksakan agama pada penduduknya bukanlah sebuah ide yang bagus, bawalah ia ke Iran, tinggal di sana selama satudua minggu, lalu bawa ke Turki. Ia pasti berubah pikiran. Anda merasa optimis atau pesimis dengan prospek demokrasi di Iraq? Untuk jangka waktu panjang saya optimis, tapi tidak dalam jangka pendek. Saya malah khawatir akan terjadi pergolakan di sana. Dapatkah Anda memberikan kesimpulan akan pemikiran Anda mengenai Islam dan demokrasi di abad ini Kita perlu mereinterpretasi Islam, tapi bagaimana kita dapat melakukannya di bawah kediktatoran, ketika semuanya dikontrol oleh negara? Demokrasi adalah kuncinya, ia akan membuka kesempatan untuk mendiskusikan berbagai persoalan dan mengatasinya. Perlu waktu memang. Yang pasti, di Abad 21 ini, kita membutuhkan kebebasan berbicara tentang makna Islam. ### * Radwan A. Masmoudi, Tokoh kelahiran Tunisia, mendirikan Center for the Study of Islam and Democracy yang berbasis Washington. Artikel ini didistribusikan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan bisa diakses di www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/> . Sumber: Charlotte Observer, 6 Oktober, 2006, www.charlotte.com <http://www.charlotte.com/> Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh. 4) Di Balik Niqab Salama A Salama KairoMesir dan Inggris, kontroversi tentang busana Islami bagi para perempuan mendominasi headline media massa akhirakhir ini. Para intelektual memperdebatkan kesanggupan perempuan mengenakan niqab, atau tudung yang menutupi seluruh wajah, agar bisa keluar di muka umum. Niqab adalah kesadaran jiwa. Perempuan yang menutupi wajah mereka biasanya menutupi seluruh tubuh mereka, termasuk tangan. Hijab atau jilbab tak menjadi kontroversi karena ia merupakan bentuk yang lebih halus dari tata kesopanan. Ijinkan saya menyebutkan bahwa ibuibu dan saudarisaudari kita tak merasa perlu membungkus kepala mereka atau menutupi wajah mereka dan tetap menjaga kesopanan di muka umum. Alas, this time is now gone. Niqab adalah fashion terakhir dan ia dikaitkan begitu saja dengan agama tanpa alasan yang jelas. Perempuan mengenakan niqab tak dapat bergerak, berbicara, makan, bahkan melihat. Lalu sebagian orang bersikukuh bahwa mengenakannya merupakan kewajiban agama. Di London, Jack Straw, pemimpin House of Commons, yang meminta perempuan Muslim di wilayah pemilihannya, Blackburn, untuk melepaskan niqab kalau mau menghadap, berkata bahwa tudung yang menutupi seluruh wajah mengganggu komunikasi. Pernyataannya memicu demonstrasidemonstrasi penuh amarah dan menyulut perdebatan yang panas. Menteri pendidikan Inggris sependapat dengan Straw. Ia menyatakan bahwa para dosen merasa tak nyaman mengajar perempuanperempuan yang mengenakan niqab. Sang mentri menyatakan ia mendukung keputusan London Royal Academy melarang mahasiswamahasiswanya mengenakan tudung wajah. Di sekolahsekolah utama Inggris, para siswa protes karena mereka tak memahami guruguru yang bertudung wajah. Peristiwa yang kurang lebih sama terjadi di universitas Helwan di Mesir. Presiden universitas melarang perempuanperempuan yang mengenakan niqab tinggal di asrama kampus dengan alasan keamanan, seperti keselamatan para perempuan. Meski ia masih mengijinkan perempuan berniqab ke kampus dan ruang kuliah, tak urung ia mendapat sorotan. Sebagian orang menyamakannya dengan Presiden Perancis, Jacques Chirac, yang melarang pemakaian jilbab di sekolahsekolah. Di luar kontroversi niqab, Helwan dan Blackburn berbeda bak siang dan malam. Di Inggris, Straw menuduh pemakaian niqab memiliki tendensi politik. Tuduhan yang sama tak diajukan di Helwan. Kontroversi niqab tak bersangkut paut dengan kebebasan berpakaian atau keimanan, karena niqab tak lebih dari pakaian biasa, bukan kewajiban keagamaan. Para perempuan yang mengenakan niqab tampak mencolok di publik dibanding yang memakai pakaian lainnya. Mengenakan niqab untuk bekerja atau sekolah seaneh mengenakan pakaian renang atau piyama ke kantor. Kita ini masyarakat konservatif dan tak ada yang bisa mengklaim bahwa kritik tentang niqab memiliki motivasi politik. Kenyataannya niqab menurunkan derajat perempuan dan membatasi kesempatankesempatan mereka. Kaum perempuan yang memakai niqab serta merta menjadi objek seksual. Mereka efektif tak bisa menjadi guru, dokter, wartawan, atau pegawai negeri. Mereka tak dapat berinteraksi secara normal dengan dunia luar. Perempuan berniqab kehilangan kebebasan mereka untuk alasan yang tak jelas. Problem yang kita hadapi di sini tak bisa diselesaikan melalui maklumat keagamaan atau tindakan keamanan. Kita harus berbicara pada para perempuan itu. Kita harus memahami mereka lebih jauh. Dalam berbagai kasus, perempuan berniqab berasal dari pedesaan dan merasa terancam oleh kehidupan kota besar. Mereka mengalami gegar budaya dan menggenakan niqab sebagai pertahanan diri dari dunia luar. Jika penaksiran saya benar, maka konklusi logisnya adalah kita harus mengulurkan tangan dan memberikan nasehat sebelum menilainya dengan ukuran berbeda, seperti yang biasa kita lakukan. Mari kita tolong perempuanperempuan muda ini mengatasi ketakutan mereka. Mari kita menentramkan hati mereka. Setelah ketakutan itu sirna, semoga mereka tak merasa harus menutupi raut mereka kembali. ### *Salama A Salama adalah kontributor tetap surat kabar Mesir, Al Ahram. Artikel ini didistribusikan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan bisa diakses di www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/> . Sumber: Al Ahram, 1925 Oktober 2006, www.ahram.org.eg/weekly <http://www.ahram.org.eg/weekly> Hak cipta untuk publikasi telah diperolah. 5) RUU Perancis Memperumit Permohonan UE Turki Scott Peterson Istanbul, Turki Dengan selisih besar, parlemen Perancis melakukan pemungutan suara untuk menunjuk penyangkalan akan genosida orangorang Armenia di masa Ottoman Turki sebagai tindakan kriminal. Hal itu membuat Turki merasa gusar dan memperdalam kecurigaannya terhadap Uni Eropa (UE). Turki Muslim yang telah berusaha selama berpuluhpuluh tahun untuk bergabung dengan UE, dan kini keanggotaannya tengah dalam negosiasibersumpah akan membalas tindakan Perancis yang bisa menghilangkan jutaan dolar dalam perdagangan, bahkan keduanya mengeksplorasi batasbatas kebebasan berbicara. Pemungutan suara dilakukan pada hari yang sama dengan penganugerahan Hadiah Nobel terhadap novelis Turki, Orhan Pamuk. Tuduhan "melecehkan bangsa Turki" yang ditujukan pada Pamuk dijatuhkan setelah ia berpidato tentang pembunuhan sejuta orang Armenia dan 30.000 orang Kurdi merupakan ujian bagi komitmen Turki terhadap reformasi yang dituntunkan UE. Dua peristiwa itu menyerang jantung kontradiksikontradiksi di Turki modern, di mana aspirasiaspirasi UE yang demokratis dan bersandar pada Barat sering kali berbenturan dengan sejarah. Turki adalah negara sekuler yang setiaanggota penuh NATOdan memandang dirinya sendiri sebagai jembatan penting yang menghubungkan Barat dan Timur, namun belum juga diterima sebagai bagian dari Eropa. Banyak orangorang Turki yang melihat pemungutan suara terhadap genosida tersebut hanya untuk menghambat usaha mereka agar diterima sebagai anggota UE ke 25 . "Orangorang Turki tak bisa menerima hal ini; bahkan mereka yang mendapat pendidikan Perancis melengos terhadap Perancis," kata Sami Kohen, kolomnis hubungan luar negeri untuk surat kabar Milliyet. "Kami takut hal ini akan membesarkan hati para pengkritik UE yang akan mengatakan: "Cukup sudah; kita tak usah lagi bergabung dengan UE." Para pembuat hukum Turki pun mengajukan rancangan undangundang balasan yang akan menunjuk "genosida Aljajair " yang dilakukan oleh penjajah Perancis pada tahun 1945. Kolomniskolomnis Turki juga menyingkap peran Perancis dalam genosida di Rwanda tahun 1994, untuk membalas serangan Perancis ini. Para analis mengatakan pemungutan suara Perancis itu sepertinya membesarkan hati para nasionalis Turki dan mereka yang tak setuju dengan keanggotaan Turki dalam UE. Poling yang diadakan barubaru ini menunjukan bahwa dukungan terhadap usaha Turki untuk bergabung dengan UE menurun dari hampir 70 persen kini menjadi 50 persen. Untuk menjadi hukum, RUU harus melewati senat Perancis dan ditandatangani oleh Presiden Jacques Chirac. Hukuman yang diajukan terdiri dari penjara selama satu tahun, dan denda 45,000 atau $56,500, penalti yang sama kini berlaku pada bukubuku Perancis yang menyangkal Holocaust. Sebuah surat kabar Turki membuat lelucon terhadap reputasi Perancis sebagai rumah hak asasi manusia dan keadilan. Lelucon itu berbunyi: "Liberté, égalité, stupidité." "Hubungan TurkiPerancis, yang terbangun selama berabadabad....kini terguncang karena pernyataanpernyataan ngawur politisipolitisi Perancis yang tak mempertimbangkan konsekuensikonsekuensi politik dari tindakan mereka," ujar Menteri Luar Negeri Turki dalam pernyataannya. Sebenarnya sebelum pengambilan suara itu, Gul telah memperingatkan, "Jika RUU ini lolos, Turki tak akan kehilangan apa pun, namun Perancis akan kehilangan Turki. Perancis akan menjadi sebuah negara yang memenjarakan orangorang yang mengekspresikan pandanganpandangan mereka." Pemungutan suara kini menjadi isu politik di Perancis. Mayoritas suara menentang keanggotaan Turki di UE, tempat 400.000 etnik Armenia hidup, dan pemilihan presiden akan berlangsung dalam tujuh bulan. Ekspor Perancis ke Turki tahun 2005 mencapai 5 milyar. Selama kunjungan ke Armenia minggu lalu, Presiden Chirac mengatakan bahwa Turki tak seharusnya diijinkan bergabung dengan UE, kecuali jika ia secara resmi mengakui kematian 1 juta orang Armenia yang terjadi pada masamasa terakhir pemerintahan Ottoman adalah genosida. Meski pemerintah Perancis tak menyetujui perudanganundangan itu dan menyatakan "tak perlu dan tak pada waktunya", toh Chirac tetap berkata Turki harus mengakui genosida tersebut sebelum bergabung dengan UE. Meskipun pengurus UE bersusah payah mencatat bahwa tak ada kriteria genosida yang dapat dikenakan pada Turki, bagaimanapun sentimen tersebut sangat mempengaruhi usaha Turki. Ketakutanketakutan di Perancis diyakini merupakan satusatunya alasan Perancis menolak konstitusi yang diusulkan UE. "Perancis berhasil menghambat hubungan Turki dan UE dan berusaha membalas dendam pada Turki semenjak konstitusi UE gagal," kata Seyfi Tashan, direktur Turkish Foreign Policy Institute di Ankara, Ibu Kota Turki. "Jadi secara politik, semakin berhasil mereka merusak Turki, semakin bagus." Orangorang Armenia menyatakan bahwa 1,5 juta orang Armenia meninggal pada tahun 1915 dalam genosida sistematis pertama di Abad 20, sementara sejarahwan menyebutkan hanya satu juta. Turki secara resmi melaporkan bahwa sekitar 300.000 orang Armenia tewas dalam sebuah konflik partisan yang terjadi ketika orangorang Armenia membantu penyerbuan tentara Rusia selama PD I. Ketika Turki menyatakan akan membuka filefilenya pada para sejarahwan, sekelompok penulis dan akademikus yang menentang versi resmi tersebut terkadang menggunakan kata "genosida". Hal itu membuat mereka didakwa melecehkan negara oleh para jaksa garis keras. Pamuk berani melawan garis tersebut, novelnya telah menggali kerajaan Turki di masa silam untuk mengeksplorasi kontradiksikontradiksi dan dilemadilema Turki modern. Surat penghargaan Nobel menyebut karya tersebut: "Dalam pencarian jiwa melankolik kota asalnya, Pamuk telah menemukan simbolsimbol baru bagi benturan dan jalinan kebudayan." Di bulan Februari 2005, Pamuk berkata pada sebuah harian Swis, "30.000 orang Kurdi dan sejuta orang Armenia tewas dibunuh di tanah ini dan tak seorang pun berani mengatakannya kecuali saya." "Apa yang saya sampaikan bukan cercaan, tetapi kebenaran. Jikapun salah, apakah orang tak boleh menyampaikan gagasannya dengan damai?" ### * Scott Peterson adalah penulis Christian Science Monitor. Artikel ini didistribusikan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat diakses di www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/> . Sumber: Christian Science Monitor, 13 Oktober 2006, www.csmonitor.org <http://www.csmonitor.org/> Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh. Pandangan Kaum Muda CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun dianjurkan untuk menulis kepada Chris Binkley ([EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> ) untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan. Tentang CGNews-MK Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK) mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di seluruh dunia. Dengan dukungan dari Pemerintah Norwegia dan United States Institute of Peace, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional yang bergerak di bidang transformasi konflik. Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003. Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah (CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini. <http://www.sfcg.org/template/lists.cfm?list=> Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau afiliasinya. Kantor Berita Common Ground 1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200 Washington, DC 20009 USA Ph: +1(202) 265-4300 Fax: +1(202) 232-6718 Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040 Brussels, Belgia Ph: +32(02) 736-7262 Fax: +32(02) 732-3033 Email : [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Website : www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/index.php?sid=1&lang=ba> Editor Emad Khalil (Amman) Juliette Schmidt (Beirut) Chris Binkley (Dakar) Emmanuelle Hazan (Geneva) Nuruddin Asyhadie (Jakarta) Leena El-Ali (Washington) Andrew Kessinger (Washington) Penerjemah Olivia Qusaibaty (Washington) Rio Rinaldo (Jakarta) Zeina Safa (Beirut) CGNews adalah kantor berita nir-laba. Anda saat ini terdaftar sebagai %%emailaddr%% Untuk keluar dari layanan ini, klik disini. <http://www.sfcg.org/template/lists.cfm?mode=unsub&list=%%list.name%%&em\ ail=%%emailaddr%%> [Non-text portions of this message have been removed] Apa yang anda cari mungkin ada di sini http://www.bukusiber.com Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Sastera/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Sastera/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
