"Pada mulanya adalah kata, dan kata menjadi daging. Demikianlah asalnya, demikianlah hingga kini. Bahasa, kata, membentuk sejarah, membentuk kebudayaan, tradisi, manusia. Kita tak dapat memahami manusia tanpa bahasa, tak dapat memahami bahasa tanpa bahasa, tak pula memahami bahasa tanpa manusia..." demikianlah tulis Sabine R. Ulibarri, seorang penulis dari New Mexico dalam prolog Bab 3 bukunya El Alma de la Raza (1972).
Apa yang dikatakan oleh Ulibarri semustinya tidaklah asing bagi kita yang memiliki pepatah "bahasa menunjukan bangsa". Sebuah pepatah yang secara lengkap sesungguhnya berbunyi, "Budi bahasa yang halus alamat orang baik, dan tutur kata tak senonoh menunjukan asal bukan orang bangsawan, bukan orang yang berbangsa baik." Pepatah itu, walau pada mulanya lebih merupakan sebuah kategori imperatif atau pernyataan etis-feodalistik, namun di sisi lain memberikan kesadaran bahwa setiap bahasa merupakan pandangan dunia yang unik, bahwa bahasa menunjukan identitas dan harkat manusia. "Mati adalah makna kehidupan, dan bahasa adalah neraca kehidupan," kata Toni Morrison, novelis Amerika, yang menerima Nobel Sastra 1993. Sungguh menakjubkan cahaya-cahaya yang melimpahi Angkatan Muda 1928, hingga mereka dapat merumuskan pernyataan-pernyataan secara tepat dan indah, yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda: Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia; Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia; Kami putra dan putri Indonesia berbahasa satu, bahasa Indonesia. Tidak hanya sebatas koar, pemuda-pemudi Indonesia masa itu bersikeras melawan tekanan pemerintah Hindia Belanda yang ingin mengganti bahasa resmi (bahasa Melayu/Indonesia) dengan bahasa Belanda. Seperti yang dilaporkan oleh Nur St. Iskandar, sastrawan dan perintis kemerdekaan RI, dalam pidatonya pada sebuah pertemuan yang diselenggarakan Ikatan Guru-Guru Bahasa Indonesia di tahun 1960, "Makin keras dan pesat gerak kebangsaan pemuda-pemudi itu, makin giras pula mereka mempergunakan dan menguarkan bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan. Dalam prosa dan puisi!" Agaknya mereka menghayati benar kalimat-kalimat dalam Genesis, "Demikianlah, mereka membentuk satu bangsa dan satu bahasa. Itulah mula-mula mereka usahakan. Sesudah itu tak ada lagi yang bisa menghalangi mereka melakukan apa yang mereka inginkan." Dewasa ini, telah menjadi keprihatinan umum bahwa eksistensi bahasa Indonesia mendapat ancaman serius di tengah arus globalisasi. Bahasa Indonesia kini mengalami krisis identitas, menjadi bahasa centang- perenang, diharu biru oleh bahasa Inggris. Untuk menyentil kondisi itu Remy Silado secara cerdas dan naka menulis sebuah judul "Disumpahi Pemuda: Satu Nusa Satu Bangsa Dua Languages" untuk esainya yang mengritik habis para pesolek (kaum terpelajar, elit politik, yang dijangkiti penyakit nginggris—dalam esai lain, "Nginggris: Penyakit Remaja yang Belum Tanggal pada Orang Tua," sang munsyi menunjuk penyakit ini sebagai gejala pubertas, kebingungan mencari identitas dalam kepribadian yang terpecah). Di tingkat yang lebih kompleks dan halus, malah mengalami pembunuhan besar-besaran bahasa Indonesia sebagai bahasa, baik oleh para pemakai maupun penyusunnya. Usaha-usaha pembakuan bahasa oleh pihak- pihak yang memiliki kekuasaan di wilayah bahasa, baik pemerintah, sekolah, maupun media massa, di bawah palang "Baik dan Benar" atau "pelogisan bahasa", menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang keras hati, yang sibuk mengagumi paralisisnya sendiri, kelumpuhannya sendiri. Bahasa Indonesia menjadi bahasa statis yang disensor dan menyensor. Zalim, kejam, bengis dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Tak memiliki hasrat atau tujuan-tujuan selain memelihara gerak bebas dalam narsisisme narkotiknya, eksklusivitas dan dominasinya. Ia tak bisa dipertanyakan, tak mampu membentuk atau mentoleransi gagasan-gagasan baru, menerima pemikiran-pemikiran yang berbeda, hanya duduk teguh bagai arca dan memberi ingatan lisut akan stabilitas dan harmoni dalam masyarakat. Melihat kondisi ini dan mempertimbangkan kekuatan bahasa yang begitu besar, maka diperlukan usaha-usaha untuk menghidupkan kembali bahasa Indonesia, menemukan kembali kekuatannya sebagai bahasa, dan selanjutnya menjadikannya penopang dalam berhubungan dengan bahasa lain, kebudayaan lain, bangsa lain, dalam semangat "berdiri sama tinggi duduk sama rendah". Yang lebih utama, membebaskan bangsa Indonesia dari kebisuan bahasa yang terbirokrasi dan mengembalikan kembali harkat kemanusiaannya, sebagai sosok yang mampu mendapatkan dan mengaktualisasikan dirinya lewat bahasa. Belajar dari sejarah, maka usaha menghidupkan kembali bahasa Indonesia, mustilah diserahkan pada para pemuda-pemudi Indonesia. Semenjak dini mereka harus diajak untuk memiliki kepedulian dan memikirkan bahasa Indonesia, tidak dalam solah tingkah Pak Turut, tidak sebagai kerbau dicocok hidungnya, melainkan dalam kegairahan penjelajahan—penjelajahan menemukan diri, dunia, bahasa, sebagaimana dicontohkan oleh Pak Keating dalam film Dead Poets Society. Belajar dari sejarah dan film tersebut, maka usaha ini mustilah dijalankan pertama kali melalui sastra, terutama puisi. Puisilah yang pertama kali berurusan dengan bahasa dan merupakan wujud bahasa purwa kala. Puisilah yang selalu berusaha melucutkan diri dari kebekuan-kebekuan bahasa untuk dapat menyatakan apa yang tak ternyatakan. Puisi adalah bahasa itu sendiri. Tentu saja puisi yang mampu menjadi puisi, yang tak mengingkari jati dirinya sebagai penjelajahan tak berhingga, bukan pengulangan, pencagaran ungkapan- ungkapan yang telah ditemukan sebelumnya, apalagi puisi yang tak mampu membedakan antara metafora dan rujak kata-kata. Apa yang dicari mungkin ada di sini: http://www.giantproduct.com dan http://www.bukusiber.com Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Sastera/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Sastera/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
