Sajak Benteng dan Poso
Sajak Iswara
BENTENG
--12 Juli14 Agustus,32 hari invasi Zionis ke Libanon
Ratusan sniper disebar di seluruh penjuru kota.
Hasan nasrullah menghilang ke dalam bentengnya
yang aman dan terpelihara. Ia mampu menahan
setiap gempuran roket zionis dengan dadanya.
Ia adalah penerus Ahmad Yasin sang syuhada.
Di dalam mihrab yang nyaman, ia menerima tamu
dari wartawan dunia. "Perang ini tidak akan berakhir
kecuali dengan senjata, tutur kata dan doa!"
Selesai berbincang dan bertutur kata, kembali ia
ke peraduannya untuk bertapa
dan melakukan sujud dan doa.
"Perang ini tidak akan berakhir
kecuali dengan senjata, tutur kata dan doa!"
Jika kalian penguasa-penguasa arab berdiam
tidak angkat senjata melawannya,
niscaya musuh akan mendatangimu akhirnya.
Syahid di jalannya
adalah garis yang pasti datangnya.
Berkat doanya,
anak-anak di seluruh dunia menyalakan PS2,
merenggut joystik. Menatap monitor
dan meneliti presisinya.
Gairah dan kesabaran mendorongnya
membunuh musuhnya.
Begitu musuh rubuh dan misi telah usai,
serentak mereka berseru,
"runtuhlah astina, runtuhlah alangka,
hancurlah amerika, hancurlah zionis-israel."
Dan gegap gempita venezuela beserta seluruh dunia
menggetarkan sisa-sisa kejahatannya.
Oktober 2006
POSO
Pemuda-pemuda pemberani mencegat aparat
yang memburu tersangka
dengan milisi rakyat jelata.
Berhamburan masyarakat karena
tabuh bertalu-talu mengiringi masuknya polisi.
Pasukan polisi segera menelepon kesatuannya
demi bala bantuan dan wibawa pemerintah,
mereka meringsek ke dalam kepungan warga.
Rendra berseru-seru agar berdamai dan menahan diri.
Agus Sarjono mengejek kalian, pemuda-pemuda
inlander yang ingin cepat-cepat merdeka. Ditahannya
muatan sate semalaman di dalam perutnya, tetapi
mencret Remy Sylado pagi itu tak tertahankan juga.
Kaos, anarki, kebrutalan menjadi topeng dari
keperkasaan pemuda-pemuda dan pasukan polisi
yang saling berbentrokan di jalan raya. Kebencian
dunia meruap ke angkasa. Kalian memang pemuda-
pemuda dan polisi-polisi pemberani! Maka, jatuhnya
korban, seorang yang tertanam peluru di tubuhnya,
tiada lagi yang dapat menangisi kepergiannya
.
Di sini telah mati hidupnya kemanusiaan.
Oktober 2006