MENGGAYUNG BANJIR ( I ) Lihatlah air yang kini menyelimuti bumi, di tanah ini, di jantung kehidupan yang telah kau pijak! Kataku dalam sebuah pandangan mata, berlumur kekosongan antara kau dan aku. Sekali lagi, kita tengah memandang curam-curam kehidupan. Adanya kisah derita anak-anak manusia, yang berulang; di kota pengusung peradaban dan kemajuan. Dan langit Bagaikan enggan mendengar jerit-jerit permohonan yang telah ditumpahkan kepadanya. Banjir itu telah melantakkan satu keangkuhan manusiawi, dan menyadarkan kelemahannya, mungkin sesaat. Siapakah yang hendak dipersalahkan? Mungkin sang penentu negeri. Atau ketersilapan akal manusiawi, mungkin Tidak hanya itu! Ketika nafas-nafas mereka, sang penentu negeri telah menghambur keserakahannya, dan enggan menuai kesesakan manusia lainnya. Mereka telah memberikan luka kepada para pengais mimpi yang menenun harinya dibawah matahari, di kota besar ini. 2007, Leonowens SP
--------------------------------- Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates. [Non-text portions of this message have been removed]
