MENGGAYUNG BANJIR ( IV )
   
  Bencana ini telah berulang, di tanah yang sama, di negeri yang bersimpuh 
kehitaman asa para penguasa. Kepulan asap rokok kian menuai khayal, memberi 
kelegaan nafas sejenak di atas jalan layang ini. Aku bagai menanti kehadiran 
sang penghilang luka, yang datang di saat khayalan menyatu dengan kepergian 
asap rokok; dan jauh menghilang entah kemana… Terlalu naif sebuah angan ini.
   
  Ketertegunan sesaat? Mungkin ketika sebuah bencana menyentak kesadaran 
manusiawi. Setelah itu, sebuah kesadaran kian melangkah tinggalkan satu hakikat 
peradaban manusia: tiada perbedaan diantara segala nafas! Aku akan pergi 
meninggalkan penat hari, bergegas untuk menggayung banjir…***
   
  2007, Leonowens SP   

 
---------------------------------
Any questions?  Get answers on any topic at Yahoo! Answers. Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke