Pengantar Kumpulan Puisi "Sebab Akulah Kata"

 

Apakah arti puisi bagi manusia hari ini? Masihkah kita membutuhkan 
puisi? Bisakah kita hidup tanpa puisi?

 

Bagi kebanyakan orang, puisi bukan hanya telah menjadi pokok 
sekunder atau tersier, ia bahkan telah terhapus dari daftar 
kebutuhan. Bagi mereka puisi tak lebih dari sekumpulan kata-kata 
kosong aneh, ungkapan perasaan mendayu-ndayu, atau kalimat-kalimat 
putus asah penuh tanda seru, yang tak memiliki relevansi apapun 
dengan kehidupan mereka, perut lapar mereka atau hasrat-hasrat akan 
kelimpahan.

 

Mengenai pesimisme terhadap puisi, penyair Subagio Sastrowardoyo 
pernah menulis dalam sebuah puisi berjudul "Sajak" yang diterbitkan 
tahun 1957: 

 

Apakah arti sajak ini

Kalau anak semalam batuk-batuk, 

bau vicks dan kayuputih

melekat di kelambu

Kalau istri terus mengeluh

tentang kurang tidur, tentang

gajiku yang tekor buat 

bayar dokter, bujang dan makan sehari

Kalau terbayang pantalon

sudah sebulan sobek tak terjahit

…

 

Tentu saja sebagai seorang kawi yang hidup di dalam dan bagi puisi, 
Subagyo tak berhenti pada potret "ketakberdayaan" puisi di hadapan 
kehidupan nyata ini (apapun yang dimaksud dengan "nyata" di sana), 
dalam puisi yang sama, ia pun mengajukan sebuah jawaban: 

 

Ah, sajak ini,

mengingatkan aku kepada langit dan mega.

Sajak ini mengingatkanku kepada kisah dan keabadian.

Sajak ini melupakanku aku kepada pisau dan tali.

Sajak ini melupakan kepada bunuh diri

 

Ada dua fungsi puisi yang diajukan dalam jawaban tersebut. Pertama, 
puisi sebagai cermin yang merefleksikan eksistensi manusia yang 
terkatung antara keilahiaan dan kemakhlukan, keabadian dan kefanaan, 
beserta segenap implikasinya. Kedua, puisi sebagai hiburan, obat, 
atau jalan keselamatan, tempat manusia berlari dari keputusasaan 
hidup.

 

Persoalannya, apakah dalam kehidupan 1 GBpS sekarang ini, orang 
memiliki waktu untuk bercermin? Lagi pula dunia virtual sibernetik, 
tempat mimesis merupakan operasi utamanya, "cermin" dan "bercermin" 
tak lagi berarti. Setiap waktu, orang dihadapkan pada cermin, dan 
dalam cermin itu mereka hanya menemukan cermin yang lain. Manusia 
kini hidup dalam sebuah rumah cermin tak berhingga dan abadi.  Dalam 
rumah cermin itu pula, keputusasaan adalah humor terlucu. 
Keputusasaan adalah gejala khas kaum eksistensialis, yang selalu 
berusaha menyelamatkan kekhususan dirinya, keakuannya,  sementara 
bagi penghuni rumah cermin itu, "aku sebagai pusat dunia" 
(egosentrisme) adalah musuh besar mereka, sumber dari segala sumber 
kejahatan dan kekacauan dunia. Hidup di rumah cermin itu, membuat 
mereka menyadari bahwa "manusia sebagai realitas sui generis, 
khusus, telah mati" dan "aku hanyalah sebuah konstruksi", sebuah 
cermin lain, sehingga tidak ada alasan apapun untuk 
mempertahankannya, terutama semenjak segala sesuatu yang absolut, 
yang orisinal, dan yang otentik, termasuk di dalamnya masa lalu dan 
masa depan yang terpersepsi telah mereka letakan dibawah tanda 
silang. 

 

Jawaban Subagyo, atau jawaban lain yang sejenis, yang memasukan hal-
hal di luar puisi sebagai alasan, hakekat, tujuan, dan fungsi 
keberadaan puisi bagi kehidupan manusia baik masa lalu, kini dan 
masa depan, bagaimanapun akan selalu gagal. 

 

Untuk memahami makna dan keberadaan puisi bagi manusia, kita harus 
melongok dan mengambilnya dari susuk-bilik puisi itu sendiri. Hal 
ini dimungkinkan sebab pada kenyataannya puisi masih ditulis, masih 
menjadi permainan utama  dunia pubertas dan atau percintaan kita, 
masih menjadi bagian inheren kehidupan religius kita melalui ayat, 
mantra, atau puji-pujian yang dilantunkan saat beribadah, bahkan 
memainkan peranan penting dalam dunia bisnis, melalui iklan. 
Tampaknya puisi tak pernah benar-benar lenyap, dan hanya 
menjadi "gajah di pelupuk mata yang tak kelihatan" dalam peribahasa 
kita.  

 

Terlepasnya sang gajah dari pelupuk mata menunjukan bagaimana 
manusia tak dapat melihat melihat dirinya sendiri, artinya ketika 
puisi menempati posisi sang gajah, kita dapat mengasumsikan bahwa 
puisi memiliki hubungan khusus berkaitan dengan eksistensi manusia. 

 

Sangat menarik menyadari bahwa puisi sebagai seni metaforik menandai 
kelahiran bahasa.  Apa yang menggerakan manusia berbicara atau 
berkata-kata adalah hasrat-hasrat dalam dirinya, dan ekspresi 
pertamanya adalah bahasa figuratif atau puitik. "Pada mulanya hanya 
puisi yang terkatakan; tak ada isyarat pelogisan hingga jauh 
kemudian," tulis filsuf Perancis, J.J. Rousseau dalam Essai sur 
l'origine des langues. Senada dengan Rousseau, dalam Scienza Nuova, 
ahli hukum Italia, Giambatista Vico menyatakan bahwa "penyair adalah 
bangsa yang pertama". Dalam merespon dunia `manusia primitif' tak 
bersifat kekanak-kanakan atau barbar, namun secara instingtif dan 
karakteristik puitik, mereka memiliki apa yang disebut sapienza 
poetica (kebijaksanaan puitik) yang menuntun respon-respon mereka 
terhadap lingkungan dan menuangkannya dalam bentuk metafisika, 
metaphor, simbol dan mite.  

 

Bahasa sendiri merupakan pembeda manusia dengan makhluk lainnya, 
penunjuk akan "kemanusiawian" manusia. Postmodernisme yang membawa 
pembalikan ke arah bahasa secara besar-besaran dalam kehidupan kita 
dewasa ini, bahkan meletakan bahasa sebagai satu-satunya sumber 
eksistensi manusia. Bahasa mengkonstitusi "aku" manusia, dan 
demikian juga dunia di luar dirinya. Tidak ada sesuatu di luar 
bahasa, bahkan dalam diam sekalipun. 

 

"Aku" adalah sebuah pernyataan bahasa. Pengkonstitusian "aku" 
manusia dan dunia di luar dirinya melalui proses penandaan, yaitu 
melalui relasi dan perbedaan dengan tanda-tanda lain, 
semisal "kau", "dia", "mereka", "kita", "kami". Manusia 
terkonstitusi melalui bahasa sebagai serentetan wacana, sebab bahasa 
tak memiliki referensi absolut. Bahasa tak mengekspresikan "diri 
sejati" yang mendahului dan tetap, namun membawa diri manusia dalam 
arus kemenjadian.  

 

Proses penandaan sudah semestinya bersifat metaforis atau puitik, 
sebab di dalamnya terdapat penukaran tanda dengan tanda lainnya; 
transferensi dari genus ke spesies, atau berdasarkan analogi 
(Aristoteles).  Jadi ketika kita mengatakan bahwa tidak ada yang 
diluar bahasa, sesungguhnya pada saat itu juga tidak ada yang di 
luar puisi.

 

Menggarisbawahi Vico, puisi adalah cara manusia merespon kehidupan. 
Dengan kemampuannya mentransmutasikan tanda yang mobil dan dapat 
saling dipertukarkan, puisi mampu "membekukan" realitas (baca: 
bahasa) dan seketika itu pula berubah menjadi puisi. Pembekuan itu 
memungkinkan masa lalu muncul kembali dan menciptakan dirinya 
sendiri secara terus menerus dalam kekinian melalui momen penciptaan 
dan penciptaan ulang, menulis dan membaca—sebuah aksi yang selama 
ini dipikirkan secara terpisah, padahal sesungguhnya saling 
mengandaikan satu sama lain dan tak terpisahkan. Hanya dengan 
demikian makna tertakik, hanya dengan demikianlah manusia ada, di 
luar itu hanyalah bahana atau gema dan sunyi. Sebuah ketakbermaknaan 
atau ketakbernamaan, dunia Adam sebelum diajar nama-nama (kini kita 
bisa menyebutnya "diajarkan puisi") oleh Tuhan.

 

Kesadaran semacam inilah, meski mungkin masih sederhana dan samar-
samar, yang melandasi remaja-remaja yang tergabung dalam grup teater 
Kelompok Doyan Kerja (Kedok) SMA 6 Surabaya, sebuah kelompok teater 
sekolahan yang sangat aktif dan disegani di kota ini karena prestasi-
prestasinya, mengadakan Lomba Cipta Puisi Pelajar se-Jawa Timur 
(LCPPJT) 2007 dengan tajuk "Sebab Akulah Kata", yang karya-karya 
para 6 pemenang dan 56 nominatornya dibukukan dalam kumpulan ini. 

 

Tentu ini hasil sebuah proses yang panjang. Lebih dari 10 tahun yang 
lalu kelompok ini pernah memasang sebuah baliho kain pada pohon 
beringin di depan gedung sekolah mereka, bertuliskan" "Berapa harga 
1 kg puisi?" Kalimat tanya itu sesungguhnya adalah judul acara 
pembacaan puisi yang mereka gelar. Alih-alih mempromosikan kegiatan 
tersebut, melalui baliho itu mereka mempertanyakan posisi puisi pada 
khalayak. Itulah sebabnya pada bagian-bagian sebelumnya dari tulisan 
ini, saya merasa perlu mendiskusikan makna puisi bagi kita hari ini. 

 

LCPPJT 2007 ini sendiri mendapat respon yang cukup baik. Hampir 700 
puisi dikirimkan ke panitia. Dari seluruh karya yang masuk, dewan 
juri, yang terdiri dari Arief Santoso (redaktur sastra Jawa Pos), 
penyair W. Haryanto (penyair), dan saya sendiri menominasikan  62 
puisi. Selanjutnya dari jumlah itu ditentukan 6 puisi pemenang.

 

Sebagian besar puisi-puisi yang diikutsertakan dalam lomba ini cukup 
membesarkan hati, dalam batas-batas tertentu puisi-puisi itu 
menunjukan kematangan, pengetahuan yang dalam, baik perihal puisi 
atau pengetahuan lain, seperti mitologi, sejarah, dan sebagainya, 
serta kesadaran akan lokalitas dan fenomena sosial.  Ada peningkatan 
kualitas dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa puisi bahkan 
mengejutkan dewan juri. 

 

"Bujuk Saladi" misalnya,  sebuah sajak yang berkisah tentang sebuah 
asta (bujuk) dari seorang kyai bernama Saladi, dan melaluinya "sang 
aku" (yang dalam perbincangan sastra sering disebutkan "aku lirik", 
sebuah pleonasme yang mubazir, sebab lirisisme dengan sendirinya 
mengandaikan keakuan) mencari kembali masa lalunya yang hilang di 
bawah dorongan-dorongan utopia dan alienasi,  mampu menghadirkan 
dialog antara "dunia luar" dan "dunia dalam".

 

bukit ambar seribu malam, masih bergentayang menyerupa layar bayang 
bayang

merayapi dusun, perkampungan- perkampungan bertingkah seperti ayunan

berputar menebar sampir kemenyan doa dan daun daun yang terus gagar 
berlantun

memajang paras senja sore hari, lalu terdendang ke pandan lembut 
ladang ladang rumput

mengabarkan syair cinta yang lama tersimpan dengan sehelai nyanyian

dari ladang tanah yang terkupas membawa kembali perburuan panjang

 

                                                                     
            dimanakah jejak itu?.

                                                                     
             masa kanakku,

 

Kemampuan membangun hubungan-hubungan itu, juga ditunjukan dengan 
kefasihan memasukan unsur-unsur lokal (bahasa, nama tempat, nama 
pohon, nama ritual di sebuah daerah) dan data-data sejarah dan 
sosial yang digarap ke dalam puisi ini tanpa mengganggu keutuhannya. 
Tanpa diberikan catatan kaki sekalipun pembaca tak akan terganggu 
dalam menikmati puisi ini, meski ia tak tahu benar hal-hal yang 
dirujuk, namun sang penyair tampak tetap merasa perlu menyajikan 
referensi-referensi itu dalam sebuah catatan khusus.

 

Satu-dua  trope (pemakaian figuratif atau metaforik atas sebuah kata 
atau ekspresi) atau metafor memang terasa kabur atau berlebihan, 
seperti "impian naluri yang terus terputar noktah cerita" pada bait 
ke lima baris ke enam yang dikutipkan di bawah ini (cetak tebal)"

 

kita sudah mendayung zaman kehancuran      

saling berkobar membakari beranda tua itu

tempat leluhur- leluhur dahulu  bertapa meluapkan dahaga

memurungkan usia rindu berabad abad tahun penyesalan

sedang kau yang  tercipta dari lambung ribuan madungan- madungan2  
tanah ini

bertaruh  dengan impian naluri yang terus terputar noktah cerita

sambil mendidihkan pohon pohon yang terus tumbang ke tanah asalmu 
kembali

mentenung suara azad masa silam yang terbuang jauh keunjur waktu

  

Apakah yang dimaksud dengan kalimat ini? Dapatkan "impian" 
dipasangkan atau dipadupadankan dengan "naluri"? "Impian" biasa 
diartikan sebagai sesuatu yang diinginkan atau cita-cita muluk, 
dan "naluri" adalah dorongan atau nafsu pembawaan yang menggerakan 
untuk berbuat sesuatu. Relasi apakah yang dibayangkan si penyair 
dengan memasangkan dua kata benda ini? "Naluri tentang impian" 
atau "impian tentang naluri"? Dan apakah arti dari keduanya? Bahkan 
jika kita membubuhkan tanda koma di belakang "impian", 
sehingga "naluri yang terputar cerita" merupakan kalimat penjelas 
dari kata tersebut, kita tetap tak melihat korelasi apapun. Hal lain 
dari kekaburan ini adalah pemakaian bentuk pasif "terputar". 
Jika "yang terputar noktah cerita" merupakan penjelas dari "naluri" 
atau "impian naluri" tidakkah seharusnya bentuk yang diambil adalah 
aktif, sehingga menjadi "yang terus memutar noktah cerita", atau 
jika "mimpi naluri" dimaknai sebagai tempat maka sang penyair musti 
kata ganti penghubung "yang" dengan "tempat"?  Frasa "noktah cerita" 
dalam kalimat ini juga terasa janggal. "Noktah" sering disinonimkan 
dengan "titik" yang menunjuk sesuatu hal untuk memulai sesuatu atau 
menandai sesuatu, atau sebuah noda. Ia adalah sesuatu yang geming, 
dan tak beralur, tak memiliki runtutan waktu atau rangkaian adegan, 
hanya penanda sebuah kedudukan adegan atau waktu, sebuah fase dalam 
runtutan waktu atau rangkaian adegan atau sebuah cerita, oleh 
karenanya ia tak mungkin diputar, berputar, atau terputar. 

 

Di luar itu, masih akan kita temukan beberapa lagi, namun seperti 
dinyatakan sebelumnya, jumlahnya hanya sedikit.

 

Sesuatu yang paling menarik dari "Bujuk Saladi" adalah teknik 
interupsi atau seselan yang dipergunakannya. Setelah bait-bait 
panjang, dengan kalimat-kalimat panjang yang hampir tak memberikan 
kesempatan untuk menghela nafas, sebuah bait pendek yang terdiri 
dari satu baris atau dua baris menyelingi. Ia, puisi itu, seperti 
mengajak kita menyelam ke dalam air dan sesekali, dalam irama yang 
tertentu, muncul ke permukaan untuk mengambil nafas. Mengaitkannya 
dengan isi puisi itu sendiri, ia merepresentasikan bagaimana "aku" 
yang tenggelam dalam nostalgia, dalam mimpi, sesekali terjaga, dan 
hanyut kembali.

 

Puisi yang juga menyengat dewan juri adalah "Nol". Berbeda 
dengan "Bujuk Saladi" yang memanfaatkan sejarah dan kebudayaan lokal 
sebagai titik tolak kreatif, "Nol"  menggali dari warisan kimia dan 
fisika. Dalam puisi ini kita akan mendapati istilah-
istilah: "avogadro", "koefisien", "elektron", "atom 
Rutherford", "hidro karbon", "alkuna", dan sebagainya.  Hebatnya, 
semua itu tak hanya menjadi tempelan. Mereka tersusun dalam jalinan 
apa yang disebut oleh Octavio Paz sebagai "frase puitik" (unit ritme 
minimal dari puisi, kristalisasi segi fisik dan semantik bahasa) 
yang kental.

 

Bilangan avogadro mati

Koefisien dari segala reaksi nol, tidak tersisa

Dua linear ganjil tiba-tiba

Dan angka-angka pun tercengang kosong

 

Genre "puisi ilmiah" (puisi fisika, puisi matematika, puisi kimia) 
dalam setra puisi Indonesia hampir atau bahkan sama sekali tak 
tersentuh. Mungkin karena tingkat kesulitannya yang tinggi, karena 
sang penyair dituntut, bukan hanya paham akan teori atau prinsip-
prinsip sains, tetapi juga mampu menjadikan teori-teori itu sebagai 
milik pribadi hingga ia dapat menari di atasnya, bermain-main 
bersamanya dan menciptakan sebuah dunia baru yang tak dapat disentuh 
oleh sains itu sendiri, atau apapun. 

 

"Nol" mampu menghadirkan itu semua. Jargon, teori, atau prinsip-
prinsip itu tak dibiarkan begitu saja menjadi diri mereka sendiri, 
ia dimanfaatkan, dirubah, untuk sesuatu yang lain, yaitu chaos, 
kekacauan dunia.

 

Konfigurasi atas semua elektron tidak terarah

Atom Rutherford terpecah gaduh

Dalam kegaduhannya, negasi menjadi gempar

Bila gugus-gugus tersebut tidak lagi dalam satu ruang 

 

Pemakaian "atom Rutherford" pada baris kedua bait di atas, 
sesungguhnya menimbulkan tanda tanya. Model Rutherford dalam ilmu 
fisika dipandang kurang tepat (walaupun begitu, namanya tetap 
dihormati, sebab ia membukakan mata kita bahwa atom bukanlah 
partikel yang paling tunggal dan tersusun dari partikel-partikel 
subatom dan membuka lapangan studi tentang struktur atom), mengapa 
sang penyair tak menyebutkan "(model) atom Bohr" yang lebih akurat? 
Keanehan ini juga dapat kita temukan pada logo Komisi Tenaga Atom 
Amerika Serikat atau bendera Agen Internasional Tenaga Atom yang 
memajang model Rutherford. Agaknya model Rutherford lebih memenuhi 
imajinasi penyair mengenai struktur atom dibanding Bohr atau mungkin 
ada alasan-alasan lainnya.

Jika tidak, maka sang penyair harus lebih hati-hati dalam memberikan 
detail. Bukan saja karena pembaca bukanlah orang bodoh, tetapi 
karena ia sedang menyusun dunia. Karena ia sedang mengucap "Kun!"

 

Sesuatu yang patut disayangkan dan mengganggu "kesempurnaan" puisi 
ini adalah problem penalaran yang ditunjukan pada bait berikut 
(cetak tebal):

 

Satu atom tak elakkan tuk lepaskan hidrokarbonnya

Karena mungkin alkuna akan mengganjil begitu saja

Tidak lagi sebuah ikatan rangkap tiga

Antar atom karbonnya

 

Kata "karena" pada baris kedua di sana rasanya tidak tepat, sebab 
keberadaan kata "akan" menunjukan bahwa keganjilan alkuna adalah 
kondisi di masa depan, yang akan terjadi jika syarartnya, yaitu 
baris pertama, terjadi. Kata penghubung kausalitas yang seharusnya 
dipakai di sini adalah "hingga".

 

Mutiara yang harus ditakzimi adalah pembalikan dari "jagad gede" 
ke "jagad cilik" di bait terakhir puisi ini, yang dilakukan tanpa 
kehilangan seluruh atmosfer keilmiahan yang dibangun semenjak bait 
pertama sampai bait sebelumnya.

 

Teremosi atas segala transisi

Namun tidak mungkin tereaksi kembali

Jiwa ini berteriak dalam keangkuhan waktu

Yang telah satukan nol, dengan jiwa ini

 

Selain dua puisi ini, masih banyak lagi puisi-puisi dari lomba ini, 
seperti "Thartus", "Laila Gung Cek", "Bila Billy", "Sebuah Perahu 
Rapuh", "Astrolabium Elegi", "Bola-Bola Coklat", "Negeri yang 
Terkoyak", dan lain-lainnya,   yang menarik dan membuat dewan juri, 
atau kita semua, melihat langit malam perpuisian Indonesia masa 
datang terang benderang penuh gemintang warna-warni. (*)

 

 

 

 

 



Kirim email ke