Kami teruskan buat fans dan pembaca buku Catatan Harian Membuka Hati! Maaf bagi
yang sudah terima terusan posting diskusi Wiyoso Hadi dengan kawan-kawan beliau
ini, dari relasi lainnya Mas Yos atau dari relasi kawan-kawannya Mas Yos.
Posting diskusi ini berukuran 123k sehingga kami edit sebagian dan pecah
menjadi 2 (dua) bagian agar bisa tersaji dalam milis Saudara yang mungkin
membatasi posting email yang diterima hanya sampai dengan 100k.
Salam Baca,
PH Pro
Indonesia
---------------------------------
From: WIYOSO HADI
Sent: Mon 7/2/2007 12:28 PM
Subject: RE: Uneg-Uneg (Bukannya Eneg-Eneg)
:-) suwun master-master boleh murid tambahkan dikit :-)
Fa may ya'mal mitsqaala dzarratin khairay yarah
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah (sekecil apa) pun,
niscaya dia akan melihat balasaannya."
(QS Az-Zilzaal [99]: 7)
=> Epos
Wa may ya'mal mitsqaala dzarratin syarray yarah
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah (sekecil apa) pun,
niscaya dia akan melihat balasannya."
(QS Az-Zilzaal [99]: 8)
=> Eneg :-)
But :-) ndak semua balasan (kebaikan ataupun keburukan materiil maupun
non-materiil :-) akan diperlihatkan/diberikan Yang Maha Kuasa di dunya fana ini
tapi pasti dilunasi di hari Akhir setelah kiamat nanti, pada hari kita semua
dibangkitkan kembali dari kubur kita masing-masing. Hingga dalam Qur'an Surah
ke-102 At Takaatsur ayat ke-3 yang juga merupakan Qalbu Surah ke-102, Allah
Swt. mewanti-wanti kita yang masih suka menyalurkan Eneg (Energi Negatif) wabil
khusus Eneg bermegah-megahan, sombong, riya, sok kuasa, sok kaya, sok hebat,
sok baik, sok bagus, sok tahu, sok paling benar :-) di dunya:
Kalla saufa ta'lamuun
"Janganlah begitu kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)
(Qalbu Surah ke-102)
lebih tegas lagi dalam "bagian" surah Az-Zilzaal ayat 6 yang juga merupakan
Qalbu Surah ke-99, DIA Yang Maha Halus lagi Yang Maha Waspada terhadap
kita-kita semua, menyapa kita:
....asytaatal liyurau 'amaalahum
"...diperlihatkan kepada mereka (balasan) perbuatan mereka (di dunya)"
(Qalbu Surah ke-99)
Dalam konteks ini, Hukum Alam Sebab-Akibat dll dunya fana ini termasuk
"bagian" dari Sunnatu-Llah, "bagian" dari ketentuan dan ketetapan DIA Yang Maha
Kekal.
"..kullu syai-iin haalikun illaa wajhahuu lahul hukmu wa ilaihi turja'uun. "
"...tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya. Bagi-Nya-lah segala
penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan."
(QS Al Qashash[28]: 88)
Qaala Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa
lanakuunanna minalkhaasiriin
"Berkatalah (Adam dan Siti Hawa dalam doa): "Ya Rabb (Pemelihara) kami, kami
telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan
memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang
merugi."
(Qalbu Surah ke-7)
Ya Allah ampunilah kami, limpahkan pertolongan dan petunjuk-Mu kepada kami,
bimbinglah kami menuju ke hadirat-Mu
Amin ya Allah ya Lathiif ya Khabiir ya Haadi ya Baaqi ya Ghafuurur-Rahiim.
---------------------------------
From: EHRMONS FISCA PURWA WINASTYO
Sent: Mon 7/2/2007
Maaf saya ikutan ya..
Hukum Alam sudah ada dan "bekerja" di bumi jauh sebelum ada Kitab Suci
diturunkan.
cmiiw.....
--- ©Ehrmons ---
---------------------------------
From: TASRIPIN
Sent: Mon 7/2/2007
AssWr.
Kalau bisa didiskusikan, menyandarkan balasan atas suatu amal (perbuatan)
kepada hukum kekekalan energi menurut saya kurang tepat, kenapa? karena hukum
kekekalan energi itu bersifat material. sulit sekali mengaitkan antara
pengorbanan yang sifatnya material dengan hasil (balasan) yang sifatnya
nonmaterial. Mungkin pak Jamil hanya ingin memulai presentasinya "untuk
mengeneralkan" bahwa segala upaya (niat) untuk mewujudkankebaikan, perbuatan
baik akan memperoleh balasannya minimal sebesar pengorbanan yang dikeluarkan "
Sesungguhnya Allah tidak akan mendzalimi hambanya sedikitpun..... "Innallaha
Laa yadzlimu .... (Qs. Annisa ayat ...maaf gak hafal). Bahkan Allah yang Maha
Pemurah akan melipatgandakan balasan (Jazaa) kepada yang DIA kehendaki. Saya
berkesimpulan bahwa yang dimaksud Energi Positif yang digunakan Pak Jamil
adalah segala niat, Upaya (Ikhtiar), pengorbanan untuk melaksanakan perbuatan
yang baik (Al-bir). "Barang siapa berbuat baik maka sesungguhnya kebaikan itu
untuk dirinya". "Maka barangsiapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur
untuk dirinya sendiri." Istilah Energi negatif mungkin maksudnya adalah segala
niat, upaya, pengorbanan, amal, yang tidak baik, keji, maksiat. Orang yang
melakukan maksiat misalnya Narkoba,KKN,Khomr, berburuk sangka dll sesungguhnya
perbuatan yang mendzalimi diri sindiri. Dampak/Efek itu akan kembali kepada
dirinya sendiri bahkan berdampak buruk kepada orang lain, dan Allah akan
menambah siksanya di Akhirat kelak sebagai wujud keadilanNya. Pak Jamil
mencontohkan kisah tentang dampak makanan yang tidak halal yang dihasilkan dari
KKN pada sebuah keluarga.Tdk akan memberikan berkah kepada keluarga tersebut
bahkan anaknyan kena NARKOBA, dengan biaya yang sepadan dengan hasil
korupsinya.
Mari kita niatkan untuk menciptakan epos-epos baru, mulailah dari diri
sendiri. Wallahu A'lam Bisshowab
---------------------------------
From: WIYOSO HADI
Sent: Fri 6/29/2007 18:01 PM
;-) Maaf mas Yusdi mengenai isi Buku KUBIK Leadership saya lupa sudah lama
sekali saya tidak membacanya, lebih baik mas pinjam ke teman2 yang beli
kemarin. Sedang soal Pengharapan Balasan Amal Ibadah dan Kerja Ikhlas, nuwun
sewu mas ;-), sebatas pengetahuan agama saya dan ilmu-ilmu spiritual yang
ditransfer ulama-ulama zuhud bermata batin awas kepada saya, maka bagi saya,
manusia mengharap balasan dari ibadah yang dilakoninya boleh-boleh saja. Hal
ini secara implisit tersebut dalam wasiat Luqman al-Hakim kepada anaknya:
"Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan
berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan
mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
Mengetahui."
(QS Luqman [31]:16)
Dalam konteks ini Epos dan Eneg sejalan dengan makna-makna obyektif Ayat tsb.
Walau demikian itu baru tingkatan ibadah hamba "pedagang". Lebih utama dari
itu, Allah Swt. dalam "bagian" Surah Al-Bayyinah (98) ayat 5 yang juga
merupakan Qalbu Surah ke-98 menghendaki kita agar dalam beribadah kepada-Nya
(baik dalam bentuk ibadah ritual agama maupun sosial) haruslah IKHLAS. Ini
wujud ibadah tertinggi, yaitu ibadahnya kaum mukhlisin.
Wa maa umiruu ilaa liya'budullaaha mukhlishiina lahud diin...
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya mengabdi kepada Allah dengan
ikhlas beribadah kepada-Nya dalam(menjalankan) agama...
(Qalbu Surah ke-98)
Nah, balasan hamba-hamba Allah yang beribadah dengan "ikhlas" balasannya itu
berlipat-lipat. Berbeda dengan balasan Epos yang orang2 atheis juga bisa terima
dan nikmati, balasan "IKLHAS" beribadah hanya bisa diterima dan dinikmati oleh
Hamba-Hamba-Nya yang beriman (bahasa arabnya: Mu'minin) yang Mukhlisin (ikhlas
dalam beribadah kepada Allah). Bila Epos bersifat Matematis dan setimpal
sebagaimana mengacu kepada Surah Luqman ayat 16 di atas, yaitu misalnya Kita
buat baik 90% maka balasannya pun cepat atau lambat akan terbalas kepada kita
secara kumulatif setimpal 90% pula. Tapi kalau kita Ikhlas beribadah maka
kelipatan dari balasan keikhlasan kita beribadah kepada-Nya hanya Allah Yang
Maha Mengetahui berapa kelipatannya. Hal itu di luar pengetahuan manusia. Allah
lah Yang Maha Berkehendak. Dan apa pun yang Dia kehendaki maka terjadilah.
Allaahu lathiifum bi 'ibaadihii yarzuqu may yasyaa'u wa huwal qawiyyul 'aziiz.
Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa
yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
(Qalbu Surah ke-42)
Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bisa lebih ikhlas lagi beribadah
kepada-Nya.
Amiin yaa Allah yaa Lathiif-Ul-Khabiir.
---------------------------------
From: YUSUF ARIEF EFFENDY
Sent: Fri 6/29/2007
pertanyaan yg bagus mas, cuma sayang sekali saya tdk bisa menjawab secara
uraian detil. mungkin pertanyaan mas bisa dijawab Pak Jamil melalui bukunya
KUBIK LEADERSHIP di BAB IX halaman 273 "MENINGKATKAN KERJA IKHLAS". Mungkin
Mas Yos bisa menguraikan secara simpel dan gampang dipahami? silahkan Mas
Yos....
---------------------------------
From: YUSDIANTO
Sent: Fri 6/29/2007
Subject: Uneg-Uneg (Bukannya Eneg-Eneg)
Master sekalian, Numpang nanya dunk ( Mungkin Kemarin saya melewatkan
Penjelasan Pak Jamil)
berdasarkan hukum kekekalan energi bahwa energi di alam jumlahnya tetap dan
hanya berubah bentuk saja, begitu juga dengan energi yang kita keluarkan akan
sama dengan energi yang kita dapatkan hanya dalam bentuk yang lain saja, lalu
kemudian mucullah istilah epos ( energi positif) dan eneg ( energi negatif).
Setelah mengetahui hal tersebut tentunya ada sebuah harapan bahwa kalo kita
melakukan hal yang positif ( mengeluarkan epos), maka suatu saat kita akan
mendapatkan balasan (balasan dari epos yang kita keluarkan). begitu juga dengan
eneg.
Klo eneg, InsyaAllah setiap kita akan berusaha menghindari semampunya, tapi
mengeluarkan epos dengan harapan suatu saat akan mendapatkan epos juga,
bagaimana kaitan pengharapan balasan tersebut dengan kerja Ikhlas? setau saya
ikhlas adalah melakukan suatu hal tanpa mengharapkan balasan atau Imbalan (
meskipun suatu saat nanti).
Mungkin saya yang kurang paham dengan penjelsan pak jamil, mohon temen-temen
bisa memberikan pencerahannya....
matur nuwun........
Yusdianto
---------------------------------
PH PRO
Publikasi & EO
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
[Non-text portions of this message have been removed]