* Kerana cerpen inilah TYT yang ada sekarang ini/masa itu dia TSKN memanggil saya ke pejabatnya atas arahan Ketua Menteri dan saya dikasih amaran/lalu e mail saya yang diberikan oleh pemerintah dicopot dan kesannya saya di “ice box”kan. Adalah buku diharamkan/disuruh bakar termasuk karya-karya dianggap sebagai karya setan oleh yang berkenaan.
SHUTTLECOCK TAHU DI MANA KM BERDIRI
[email protected]
SUATU sore yang kira-kira sudah lama berlalu, seorang Ketua Menteri berbicara sambil ketawanya bisa didengar oleh para sobat lain di sekitarnya lobi pada sebuah hotel yang sungguh nyaman suasananya/yang menyebabkan orang jadi kaget akibat ketawanya itu, maklum saja sang Ketua Menteri itu diceritakan orang memang suka sangat ketawa.
“Dulu sebelum saya menjadi Ketua Menteri saya bermain badminton bersama Menteri anu. Ketika itu saya hanya pegawai biasa saja. Saya menyaksikan yang Ketua Menteri anu itu bermain berpeluh-peluh kerana terlalu bersungguh-sungguh, lalu setelah selesai kami bermain, saya punya kesempatan berbicara, maka saya menyatakan suatu kenyataan kepadanya bahawa yang ia bermain begitu bagus sekali” Ketua Menteri yang dimaksudkan itu kononnya agak kelihatan cerah wajahnya sambil dadanya membusung ke depan kerana bangga kala dipuji kerana memangnya Ketua Menteri itu tersangat suka dipuji dan lantas ia mengucapkan kata sebegini lagi.
“Terima kasih banyak. Ah, biasa-biasa saja” Kemudian diceritakan lagi yang sang Ketua Menteri itu ketawa tanda senang dan tentunya bangga kala menerima pujian sedemikian rupa, namun cerita itu tidak saja terputus di situ, lantas kononnya ia berkata lagi dengan sopan sambil menunduk yang semacam menyerupai salam seorang Jepun ketemu sang Jepun lain. Angguknya bukan main hebat.
“Tolong ajarkan saya tuk bagaimana caranya bermain badminton supaya shuttlecock selalu menuju diri kita sendiri?” Kelihatan wajah sang Ketua Menteri kemerah-merahan kala pertanyaan serupa diajukan. Ketua Menteri yang tadinya berbicara lagi-lagi ketawa kerana bahawa apa saja yang dialami oleh mantan Ketua Menteri yang dimaksudkan itu jua dialami oleh dia sebenarnya. Nah, pembaca tentunya faham akan maksud saya ini bukan? Cerita ini memangnya amat menarik untuk dibaca dan diselidiki serta dihayati secara sungguh-sungguh. Ah! ah! ah! ah!
Memang kalau kita ini bermain badminton dengan sang Menteri/apa lagi yang namanya Ketua Menteri tidak termasuk Raja atau Sultan misalnya tentu saja tidak akan bersungguh-sungguh sebab kita sangat hormat kepada Menteri atau Ketua Menteri atau Raja alias Sultan yang dimaksudkan. Takkan kita amat tega membiarkan ia berlari terpontang-panting untuk mengejar shuttlecock. Tentunya tidak bukan? Siapa yang mahu melakukan sedemikian rupa?
Kala bermain tentunya kita akan cenderung memberikan bola ke tempat di mana Ketua Menteri atau sang Menteri itu berdiri, malah saya kira shuttlecock itu sendiri amat tahu di mana Ketua Menteri atau Menteri itu berdiri, malah amat tahu ke mana Ketua Menteri atau Menteri bakal bergerak, malah amat tahu luar dan dalam arah perjalanan/gerakgeri sang Menteri yang dimaksudkan sebab selalu dalam perhatian. Awas-awas lo! Sebab musuh ada dalam selimut alias di mana-mana saja untuk membicarakan apa saja yang dilakukan oleh orang-orang besar seperti kamu.
Nah, kala bermain tentu saja dengan kata lain sebagai Ketua Menteri atau Menteri akan tentu saja diberikan kemudahan seperti dilayani dengan sebaik mungkin alias dipuji meskipun pujian itu terkadang membawa rebah dan mereka yang namanya lawan bermain dengan Ketua Menteri atau Menteri tentunya kita tidak akan tega melihat Menteri/Ketua Menteri berlari pontang-panting mengejar shuttlecock seperti yang saya perkatakan sebentar tadi.
Iya, kalau bermain tanpa pertimbangan atau sekuat tenaga/bukankah kelihatannya yang lawan kita bermain alias sang Menteri atau Ketua Menteri itu semacam dipermain-mainkan? Tegakah kita? Tentunya tiada siapa yang tega bukan? Begitulah lumrahnya manusia kala bermain dengan yang namanya Pak Menteri, apa lagi yang bergelar Ketua Menteri.
Kalau shuttlecock dipukul ke arah tempat berdirinya sang Ketua Menteri atau Menteri, rasanya itu suatu penghormatan dan kalau sebaliknya maka tentu saja semacam penghinaan atau memperbodoh-bodohkan dia dan bagaimana kalau kebetulan kita bermain bola dengan Raja atau Sultan misalnya, maka tidak hairan kalau bola itu asyik berada di kaki Sultan melulu dan apakah kita sanggup melanggar dan membantai kaki Sultan sehingga kaki Sultan patah atau merebut bola dari kaki Sultan. Apa-apaan ini? Saya kira kalau kaki Sultan patah, maka tentunya kepala yang membantai bakal pecah sebagai balasannya/maklum saja hmmmmmmm. lalu bagaimana kita mahu menganalisis kasus-kasus ini? ah, saya sendiripun tidak tahu dan tentunya amat binggung sekali.
Memangnya masyarakat kita sejak dulu lagi berkebudayaan hirarkis dan mungkin saja bersifat feudal. Nah, kalau saya nyatakan ia berbentuk hirarkis, belum tentu sifatnya tidak baik bukan. Kalau anda bermain bola sepak misalnya dengan abang, kakak atau ayah kita tentunya biasa-biasa saja kerana membawa kepada hirarki budaya yang ertinya tidak ada apa-apa kalau kita melayani mereka seperti melayani kawan-kawan sebaya.
Iya, kalau bermain badminton dengan Ketua Menteri atau Menteri apa saja, tentunya kita tidak akan bersungguh-sungguh sebab ia seorang Ketua Menteri atau Menteri yang maksudnya kita harus mengambil hati atau cenderung memudahkan beliau, memberikan bola kepadanya untuk maksud bermain secara menyenangkan dia agar tidak pontang panting semacam diperbodohkan. Bukankah begitu? Tak percaya, lihat saja kenyataannya.
Pemasalahan yang kita hikmahi ini terjadi dalam bidang bermain badminton sahaja seperti yang selalu saya lihat. Tak percaya, perhatikan saja keadaan yang saya nyatakan ini kala sang Ketua Menteri atau Menteri bermain dengan yang bukan Menteri/pegawai biasa misalnya. Nah, lalu bagaimana pula dalam bidang-bidang lain yang bukan acara kesukanan dan tentunya banyak sangat yang mahu diperkatakan. Ah, malas untuk menyatakannya satu persatu.
Saya melihat memukul shutlecock kepada sang Ketua Menteri atau Menteri bererti sogokan. Sogokan? Wah, rupanya di acara main bidminton pun ada sogokan? Agak keterlaluan sudah omongan saya ini. Iya, tentunya saya katakan sogokan, kerana kita membayar pukulan yang tepat kepada Pak Menteri dan bayarannya tentunya kita harap beliau harus membayarnya dengan santunan dan keamanan, kebaikan atau lebih daripada itu barangkali/ah, sekadar agakan melulu yang belum tentu ada benarnya dan tentunya hal-hal semacam ini selalu saja terjadi dalam bidang bermain golf yang acaranya di padang terbuka yang punya banyak lobang-lobang yang bukan sebarangan lobang. Bermacam-macam lobang dan beribu-ribu lobang, malah berjuta-juta lobang.
Nah, sebenarnya di padang golf kita bisa berbicara segala macam hal yang terkadang tidak pernah terfikirkan dan yang menjadi idaman kala membicarakan tentunya soal-soal projek jalan raya, bina sekolah, bina jambatan, dewan dan segala macam yang jumlahnya berjuta-juta dan menjadikan orang selalu kaya mendadak.
Memang tidak dapat dinafikan bahawa/sesungguhnya padang Golf yang rumputnya diimport dari luar negeri itu merupakan tempat pertemuannya para ahli korporat yang mengambil kesempatan apa saja yang ada alias semahunya dilahap sampai kenyang yang akhirnya muntah tak menentu. Apa lagi, di sanalah tempatnya yang “ngam” kerana siapa saja “yang cepat bakal dapat”, apa lagi mereka yang suka sangat mengampu dan membodek tanpa peduli perolahan itu bakal merosakkan mereka yang dibodek atau sebaliknya. Demikianlah pandangan salah seorang teman yang pada mulanya amat membencii jenis permainan golf alias “g-o-l-o-f”
itu.
Sebenarnya dalam acara bermain badminton seperti yang saya nyatakan sebentar tadi memang cukup membahayakan sang Ketua Menteri atau Menteri-Menteri sebab ia bukan menambahkan bijaksananya sang Menteri menangkis shuttlecock, tapi semakin tidak bijak alias semakin tidak tahu tentang teknik sepak terajang musuh dalam dan di luar selimut dan memang tepat kalau saya jelaskan bahawa cara bermain yang semacam dikomputerkan itu tidak banyak mendatangkan kebaikan atau mendapatkan ilmu yang sebenar-benarnya kerana tidak diajar untuk menjadi lebih bijak dan pandai sebab terlalu dimanjakan. Begitulah dan diharapkan anda yang membaca catatan saya ini faham akan maksud saya yang tersirat selain yang tersurat.
.